Ulil Amri dalam Islam

0

Bismillahirrahmanirrahim, post lama tapi karena di FB diblock so had to post here *chuckle

 

Assalamu’alaikum WarrahmatullahWabarakaatuh

Mengikuti trend di Stop Antivaks pada Forum FB yang telah sangat keliru menjustifikasi tentang definisi ulil amri minkum, maka dengan ini saya ingin clarify beberapa kekeliruan dan keganjilan mereka. Ini Linknya MEREKA! à https://www.facebook.com/photo.php?fbid=288343664637060&set=a.146277478843680.30561.146270875511007&type=1&theater

 

Yang pertama:

 

Definisi Ulil Amri minkum menurut mereka (SAV) adalah umara’ dan juga ulama, sesuai dengan pendapat Imam an Nawawi, dan ini saya tidak masalahkan, karena semua ulama juga sepakat dg definisi dua itu. Yang jadi permasalahan adalah sewaktu tidak bisanya SAV mendefinisikan SIAPAKAH pemimpin yg disebutkan tadi. Baik secara karakteristik maupun kriteria2nya.

 

Yaitu:

–      Definisi Penguasa Islam

–      Definisi Pemimpin Islam

 

Kalau hanya menampilkan definisi UlilAmri Minkum, kita juga sepakat mengenai itu. Tapi tidak dibahas lebih lanjut mengenai fungsi ayat itu.

 

Well without further ado, saya harap tulisan ini dapat membuka mata para SAVers yg mempunyai paham keliru mengenai ulil amri.

 

Ayat yang dijadikan patokan mengenaiulil amri ini adalah surat An Nisa ayat 59, yang berbunyi

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4] : 59)

Yuk kita bedah apa sih artinya ni ayat:

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS.An-Nisa [4] : 59)

Siapakah Ulil Amri Minkum (Pemimpin diantara kalian)

 

Menurut Imam Ibnu Katsir (774H) Rahimahullah dalam Tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa

 

قالعليبنأبيطلحة،عنابنعباس:{ وَأُولِي الأمْرِمِنْكُمْ} يعني: أهل الفقهوالدين.وكذاقالمجاهد،وعطاء،والحسنالبصري،وأبوالعالية:{ وَأُولِي الأمْرِمِنْكُمْ} يعني: العلماء.

“Berkata Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas: “Dan Ulil Amri di antara kalian” artinya ahli fiqih dan agama. Begitu pula menurut Mujahid, Atha’, Hasan Al Bashri, dan Abu al ‘Aliyah: “Dan Ulil Amri di antara kalian” artinya ulama.”

 

Kemudian beliau Rahimahullah mengatakan bahwa Ulil Amri Minkum menurut penafsiran beliau adalah Umara’ dan juga Ulama berdasarkan Hadith Shahih yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari Rahimahullah

 
منأطاعنيفقدأطاعالله،ومنعصانيفقدعصاالله،ومنأطاعأميريفقدأطاعني،ومنعصاأميريفقدعصانى

 

“Barang siapa yang taat kepadaku, maka dia telah taat kepada Allah, barang siapa yangmembangkang kepadaku maka dia telah membangkang kepada Allah, barangsiapa yang mentaati amir (pemimpin)ku, maka dia taat kepadaku, dan barangsiapa yang membangkang kepada pemimpinku maka dia telah membangkang kepadaku.” (HR Bukhari 2737)

 

Mari kita telaah lebih lanjut mengenai ulil amri minkum ini. Dalam Surat An Nisa ayat 59 (JANGAN DIPENGGAL DONG SAV), terdapat seruan bagi orang-orang yang beriman bahwa kita wajib mentaati Allah, kemudian Rasulnya, lalu orang-orang yg dijadikan pemimpin diantara kita. Dengan catatan bahwa pemimpin tersebut haruslah Muslim dan Mu’min, karena khittab (seruan) nya itu merujuk kepadaorang-orang yg beriman. Disini juga ada catatan bahwa, adanya beberapa preseden ketaatan sebelum taat kepada ulil amri minkum, yaitu haruslah taat kepada Allah dan RasulNya baru dapat taat kepada ulil amri itu sendiri. Dan bila berlainan pendapat, maka harus MERUJUK kepada al Qur’an dan Sunnah jika memang kita mengaku beriman kepada Allah dan hari Akhir.

 

Imam Al-Mawardi berpendapat, Ulil Amri adalah sekumpulan orang yang adil, berilmu,berwawasan dan bersikap bijak. (Al-Ahkamus-Sulthaniyyah,hal. 4.)

 

 

DefinisiUlil Amri:

 

  1. Islam (QS An Nisa: 59, 141, 144; QS AliImran: 28, Al Maidah: 51 & Ibnu Katsir,Tafsîr IbnuKatsîr, 2/386)
  2. Laki-laki (HR Bukhari No 4425) (Syarhus Sunnah al Baghawi 516H 10/77) (Ibnu Hazm,Al-Fashl fial-Milal, IV/110)
  3. Baligh, (QS: An Nisa: 5)
  4. Berakal Sehat
  5. Adil (QS Ath Thalaq: 2), arti Adil adalah: (Imam Khattib al Baghdadi 463H,Al-Farqbayna al-Firaq)
  6. Menjagaagama
  7. Harta
  8. Kehormatandiri
  9. Merdeka
  10. Memiliki Kemampuan u mjd pemimpin (HRMuslim 3405)
  11. Amanah (HR Bukhari 6015)
  12. Berpegang kepada hukum Allah danRasulNya (An Nisa 59, Al Maidah 49, dll)
  13. Tidakmeminta Jabatan (HR Bukhari 6614)

 

Al-Khaththabirahimahullah menyebutkan:

 

ان المراد بأئمة المسلمين الخلفاء وغيرهم ممن يقوم بأمور المسملين من اصحاب الولايات

 

“Yang dimaksudkan dengan pemimpin umat Islam adalah para khalifah dan selainnya dari kalangan para pemimpin yang memegang tanggung jawab menguruskan hal-ehwal umat Islam (masyarakat).” (Syarah Shahih Muslim, 2/38)

 

Imam asy-Syaukani rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Subhanhu wa Ta’ala, surah an-Nisa’ ayat 59, beliau menyatakan:

 

وأولي الأمر هم: الأئمة، والسلاطين، والقضاة، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية

 

“Ulil amri adalah para imam, sultan, qadhi, dan setiap orang yang memiliki kekuasaan SYAR’IYYAH, bukan kekuasaan thaghutiyyah.” (Imam asy-Syaukani, Fathul Qadir, 2/166

 

Wajibnya taat kepada Pemimpin:

 

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dariNabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa), baik pada sesuatu yang dia suka atau benci. Akan tetapijika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untukmendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

 

“Barangsiapa melihat sesuatu yang tidakdisukainya dari seorang pemimpin, maka bersabarlah; karena barangsiapa yangmembelot dari jama’ah sejengkal saja kemudian ia mati, maka matinya adalah matijahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Mendengar dan menaati (pemimpin) adalah wajib bagi seorang muslim, dalam hal yang ia sukai maupun yang tidak disukai, selama ia tidak diperintah dalam konteks maksiat. Apabila diperintah dalam konteks kemaksiatan, maka tidak wajib mendengar atau menaati.” (Shahih Bukhari, 5/23; Muslim,3/1466; Ibnu Majah,2/956; Tirmidzi, 4/209)
“Barang siapa melanggar janji setianya kepada Imam dan mati dalam keadaan demikian, maka pada Hari Kiamat ia akan menemui Allah tanpa mempunyai hujjah(argumentasi).”(Ahmad di dalam Musnad,3/445)

“Wajiblah engkau mendengar dan taat, dalam keadaan engkau sulit maupunmudah, dalam keadaan kau senang maupun terpaksa, dan engkau mengutamakan lebih dari dirimu.”(Shahih Muslim bi Syarh An-nawawi,12/223)

——————————————————————————————————–

Disebutkan, bahwa Ubadah bin Shamit berkata: “Nabi saw mengundang kami, lalu kami membaiat beliau untuk mendengar dan menaatinya, baik ketika kami senang maupun terpaksa, ketika kami dalam kesulitan atau pun kemudahan, dan kami mengutamakan beliau lebih dari kami. Kami tidak boleh menentang perintah yang dikeluarkan oleh yang berwenang,kecuali bila “kalian melihat kekufuran yang nyata, dan ada bukti-bukti dari Kitabullah yang dapat kalian pegang.” (HR. Bukhari)

——————————————————————————————————–

Imam Ahmad (240H) rahimahullah berkata dalam risalah Ushul As-Sunnah, “Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dan amirul mukminin, baik dia orangyang baik maupun orang yang jahat.”

——————————————————————————————————–

Ibnu Qudamah (620H) dalam kitab Lum’ah Al-I’tiqad mengatakan bahwa “termasuk sunnah(tuntunan Islam) adalah mendengar dan taat kepada para penguasa dan pimpinan(amir)

——————————————————————————————————–

Imam Ibnu Abi Hatim (380H) Rahimahullah berkata dalam risalah Ashlu As-Sunnah atau dikenal juga dengan namaI’tiqad Ad-Din, “Saya bertanya kepada ayahku (Abu Hatim) dan juga Abu Zur’ah mengenaimazhab ahlussunnah dalam masalah pokok-pokok agama, dan mazhab yang keduanyamendapati para ulama di berbagai negeri berada di atasnya, dan mazhab yangmereka berdua sendiri yakini. Maka keduanya berkata, “Kami menjumpai para ulamadi berbagai negeri, di Hijaz, di Irak, di Mesir, di Syam, dan di Yaman. Maka diantara mazhab mereka adalah …. Kami mendengar dan taat kepada pimpinan yangAllah serahkan urusan kami kepadanya, dan kami tidak melepaskan diri dariketaatan kepadanya.”

——————————————————————————————————–

Imam Ath-Thahawi (321H) Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiah,“Kami memandang bahwa menaati penguasa yang merupakan bagian dari ketaatankepada Allah Azz wa Jalla adalah suatu kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Kami mendoakan mereka agar mendapatkankesalehan dan kebaikan.”

——————————————————————————————————–

Ibnu Baththal berkata, “Para fuqaha’ telah sepakat (ijma’) berkenaan kewajiban mentaati sultan (pemerintah) yang memiliki kuasa walaupun dia mendapat kuasa tersebut dengan cara rampasan atau pemberontakan (mutaghallib), dan hendaklah kita berjihad bersama-samanya. Ini adalah kerana ketaatan kepadanya lebih baik dari keluar meninggalkan ketaatan kepadanya (dengan mengambil sikap membangkang atau memberontak), yang dengannya mampu memelihara darah dan menenangkan orang ramai (masyarakat). Tidak ada pengecualian dalam perkara ini, melainkan apabila sultan melakukan kekafiran yang nyata.”.” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, 13/7)

——————————————————————————————————–

Sebagaimanajuga perkataan Ibnu Qudamah rahimahullah (Wafat: 620H), “Apabila naiknya Abdul Malik B. Marwan dengan cara keluar menentang Ibnu az-Zubair, membunuhnya,memaksa rakyat dengan pedang hingga dia naik sebagai imam (pemimpin) dan diberikan bai’ah, maka wajib pula mentaati pemerintah yang mutaghallib (yang naik dengan cara yang tidak syar’i) ini.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 8/526)

——————————————————————————————————–

 

Batas Batas ketaatan kepada Pemimpin:
“Rosululloh SAW menyeru kami maka kamiberbai’at kepada beliau, diantara yang beliau minta kepada kami dalam bai’atitu adalah kesanggupan untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan ringan atauberat, dalam keadaan sulit atau mudah dan ketika kami diperlakukan tidak adildan agar kami tidak menggoyang kepemimpinan seseorang, beliau bersabda:“…kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang nyata (kufur bawaah) dengandiiringi bukti yang jelas dari Alloh.” (Muttafaq ‘Alaih dengan redaksi haditsmilik Muslim.)

——————————————————————————————————–

“Sebaik-baik pemimpin-pemimpin kamu adalah dimanakamu mencintainya dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakannya dan mereka punmendoakanmu. Adapun sejelek-jelek pemimpin kamu adalah dimana kamu membencinyadan mereka pun membencimu, kamu melaknatnya dan mereka pun melaknatmu”. Dikatakan : WahaiRasulullah, apakah kami tidak memeranginya saja dengan pedang ?”. Beliaumenjawab : “Tidak, selama mereka masihmenegakkan shalat di tengah kalian. Apabila kalian melihat dari pemimpin kaliansesuatu yang kamu benci, maka bencilah perbuatannya saja dan jangan melepaskantangan dari ketaatan” [HR. Muslim no. 1855, Ahmad no. 24027 dan lainnya]

 

“Akudiangkat memerintah kalian, tetapi aku bukanlah orang yang terbaik di antarakalian. Jika aku berbuat baik, tolonglah aku. Dan jika aku salah, luruskanlahaku.” Begitu juga Umar bin Khathab berpidatokepada kaum muslimin: “Bantulah aku dengan amar ma’ruf nahi munkar dansampaikan nasihat kepadaku di dalam menangani urusan-urusan kalian yang Allahbebankan kepadaku.” Sebagaimana halnya Umar mengatakan tentang dirinyadalam hubungan dengan penanganan harta kaum mus­limin, katanya: “Akudan harta kalian adalah laksana seorang wali anak yatim. Kalau aku telah cukup,aku tidak akan mengambil harta itu. Tetapi kalau aku tidak ada, maka aku akanmengambilnya sekedar memenuhi kebutuhan. (Sirah Umar bin Khatab, hal.135)

——————————————————————————————————–

Ibnul-Jauzi rahimahullahberkata :

أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً له، وهو يعلم أن الله أنزله؛ كما فعلت اليهود؛ فهو كافر، ومن لم يحكم به ميلاً إلى الهوى من غير جحود؛ فهو ظالم فاسق، وقد روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس؛ أنه قال: من جحد ما أنزل الله؛ فقد كفر، ومن أقرّبه؛ ولم يحكم به؛ فهو ظالم فاسق

“Kesimpulannya, bahwabarangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah dalamkeadaan mengingkari akan kewajiban (berhukum) dengannya padahal diamengetahui bahwa Allah-lah yang menurunkannya – seperti orang Yahudi – makaorang ini kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yangditurunkan Allah karena condong pada hawa nafsunya – tanpa adanyapengingkaran – maka dia itu dhalim dan fasiq. Dan telah diriwayatkanoleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata : ‘Barangsiapayang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah maka dia kafir. Dan barangsiapayang masih mengikrarkannya tapi tidak berhukum dengannya, maka dia itu dhalimdan fasiq” [lihat Zaadul-Masiir2/366]

——————————————————————————————————–

AbulHasan al Asy’ari menyebutkan bahwa seluruh golongan Zaidiyyah berpendapat,boleh mengangkat senjata terhadap para imam yang durhaka, untuk menghilangkanperbuatan zhalim dan menegakkan kebenaran. Mereka juga berpendapat, bahwashalat di belakang orang yang durhaka tidak sah. Dan hanya shalat di belakangorang yang tidak fasiklah yang sah (Maqalatul-Islamiyyin 1 : 47)

——————————————————————————————————–

IbnuHazm menjelaskan pendapatnya yang mengatakan: wajib menentang imam yangmenyimpang. Bahkan orang yang bersikap sabar terhadap imam semacam ini telahberbuat dosa, dan dinilai sama dengan membantu kezhalimannya. Begitu jugabeliau mengulas hadits-hadits yang memerintahkan bersabar ter­hadap imam yangdzalim (Al-Fashl, 4:171-174)

——————————————————————————————————–

Al-Kirmaniberkata, “Para fuqaha’ telah bersepakat (ijma’) bahawa penguasa yang telahterpilih (sebagai pemimpin) wajib ditaati selagi dia menegakkan solatberjama’ah dan jihad melainkan jikadia melakukan kekufuran yang nyata. Sehingga tidak ada lagi ketaatan kepadanya.Bahkan wajib memeranginya bagi orang yang mampu.” (Syarah Shahih al-Bukhari,10/ 169)

——————————————————————————————————–

 

Al-Qadhiberkata, “Abu Bakar B. Mujahid telah menyatakan adanya ijma’ atas perkara ini (taatkepada pemimpin), sebahagian ulama telah membantah pernyataan tersebut denganapa yang dilakukan oleh al-Hasan dan Ibnu az-Zubair, serta penduduk Madinahterhadap bani Umayyah. Juga pertembungan dua kumpulan besar dari kalangantabi’in dan generasi awal dari umat ini terhadap al-Hajjaj B. Yusuf, bukankerana sekadar kefasikan, akan tetapi ketika dia telah mengubah sebahagiansyari’at dan menampakkan kekufuran.” Al-Qadhi berkata lagi, “Perbezaan initimbul pada awalnya, kemudian terjadi ijma’ (kesepakatan) yang melarangmemberontak kepada pemerintah.” Wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 12/229)

——————————————————————————————————–

 

Ayat (An Nisa 59) ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpinadalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran. Apabila ia berpaling darikebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam inididasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalamkemaksiyatan kepada Allah.”[HR. Ahmad]. Dituturkanbahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankahengkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dantaatlah kepada ulil amri diantara kalian..” Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda,jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah, “jika kamuberlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yaknikepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasulsetelah beliau saw wafat..” (Imam Nasafiy, Madaarikal-Tanziil wa Haqaaiq al-Ta`wiil, surat al-Nisaa’:59)

 

Lantas apakah kekufuran yg nyata itu:

Barang siapa yang tidak berhukumdengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir. (Al-Maidah:44)

 

–      Tidak menjalankan Syariat Islam

–      Tidak mewajibkan Syariat Islam

–      Menjalankan system pemerintahan dengan rujukanselain Islam

 

Al-HafidzIbnu Hajar, tatkala mengomentari hadits-hadits di atas menyatakan, jikakekufuran penguasa bisa dibuktikan dengan ayat-ayat, nash-nash, atau beritashahih yang tidak memerlukan takwil lagi, maka seorang wajib memisahkan diridarinya. Akan tetapi, jika bukti-bukti kekufurannya masih samar dan masihmemerlukan takwil, seseorang tetap tidak boleh memisahkan diri dari penguasa (Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 13/8-9)

 

‘AbdulQadim Zallum, dalam Nidzâm al-Hukmi fi al-Islâm, menyatakan,bahwa maksud dari sabda Rasulullah saw “selamamereka masih mengerjakan sholat“, adalah selama mereka masihmemerintah dengan Islam; yaknimenerapkan hukum-hukum Islambukan hanya mengerjakan sholat belaka.Ungkapan semacam ini termasuk dalam majazithlâq al-juz`iy wa irâdât al-kulli(disebutkan sebagian namun yang dimaksud adalah keseluruhan (Abdul Qadim Zallum, Nidzam al-Hukmi fi al-Islaam, hal. 257-258)

——————————————————————————————————–

ImamNawawiy, di dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:

قال القاضي عياض : أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر , وعلى أنهلو طرأ عليه الكفر انعزل , قال : وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها , …..قال القاضي : فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية , وسقطتطاعته , ووجب على المسلمين القيام عليه , وخلعه ونصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك.

Imam Qadliy ‘Iyadl menyatakan, “Para ulama telah sepakatbahwa imamah tidak sah diberikan kepada orang kafir. Mereka juga sepakat,seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekafiran, maka ia wajib dimakzulkan. Beliau juga berpendapat,“Demikian juga jika seorang penguasa meninggalkan penegakkan sholat dan seruanuntuk sholat…Imam Qadliy ’Iyadl berkata, ”Seandainya seorang penguasa terjatuhke dalam kekufuran dan mengubah syariat, atau terjatuh dalam bid’ah yangmengeluarkan dari hukm al-wilayah (tidak sah lagi mengurusi urusanpemerintahan), maka terputuslah ketaatan kepadanya, dan wajib atas kaum Muslimuntuk memeranginya, memakzulkannya, dan mengangkat seorang imam adil, jika halitu memungkinkan bagi mereka”.

Imam Muslim menjelaskan hadithdibawah ini:

Dari Ubadah bin ShamitRadiyallahu anhu

“Kami Berbaiat kepada RasulullahShalallahu ‘alaihi wassallam untuk mendengar dan menaati (pemimpin) dalamkeadaan giat maupun terpaksa dan dalam keadaan susah maupun senang meskipun diamelakukan nepotisme terhadap kita. (Kami juga berbaiat untuk) tidak melepaskepemimpinan dari si empunya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyatadimana kalian mempunyai bukti dari Allah.” (HR Bukhari Muslim)

Dijelaskan bahwa, “Yang dimaksuddengan kekufuran disini adalah kemaksiatan. Makna hadith ini adalah, ‘Jangankalian lepas penguasa dari jabatannya dan jangan kalian lawan kecuali jikakalian melihat kemungkaran yang nyata yg kalian ketahui dari prinsip prinsipIslam.” (An Nawawi: Shahih Muslim bi Syarh an Nawawi, Jilid 12, hal: 229; Cet.Kairo: Mathba’ah Al-Mihsriyah al Azhar, 1929)

——————————————————————————————————–

Kekufurannyata yang berasal dari sistem pemerintahannya, yakni, ketika penguasa tersebutmenegakkan sistem pemerintahan di atas aqidah kufur, walaupun penguasa itubelum dianggap kafir. Ketentuan ini didasarkan pada riwayat-riwayat yangmenuturkan wajibnya merebut kekuasaan dari penguasa jika telah tampak kekufuranyang nyata. Frase “kekufuran nyata” yangterdapat di dalam nash-nash tersebut tidak hanya diterapkan kepada penguasayang jatuh kepada kekufuran maupun kepada selain penguasa; akan tetapi jugabisa diberlakukan pada sistem pemerintahan yang ditegakkan di atas aqidahkufur, misalnya atheisme maupun sekulerisme; dan selanjutnya, sistem inidipaksakan dan diberlakukan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, jikaseorang penguasa memerintahkan rakyatnya melakukan kemaksiyatan, namun selamasistem aturannya menganggap kemaksiyatan itu sebagai tindak penyimpanganterhadap aturan, maka dalam kondisi semacam ini belum terwujud apa yang disebutdengan “kekufuran yang nyata”, baik pada penguasa maupun sistempemerintahannya. Namun, bila kemaksiyatan yang dilakukannya berpijak kepadasistem aturan yang justru melegalkan dan mensahkan tindak kemaksiyatantersebut, misalnya, karena sistem aturannya dibangun berdasarkan sekulerisme–,maka kemaksiyatan semacam ini dianggap sebagai “kekufuranyang nyata“ (Dr. Mohammad Khair Haekal, al-Jihaadwa al-Qitaal fi al-Siyaasah al-Syar’iyyah, juz 1, hal. 130-131)

——————————————————————————————————–

Rasulullah Shalallahu‘alaihi Wassallam bersabda,

 

“Meskipun kaliandipimpin oleh seorang budak, namun ia memerintah dengan kitabullah, makataatilah dan dengarkanlah.” (HR Muslim)

 

“Wahai Umat manusia!Bertakwalah kepada Allah. Dengarlah dan taatilah meskipun kalian dipimpin olehseorang budak Habasyah yang berambut keriting selama dia melaksanakanKitabullah.” (HR Ahmad)

——————————————————————————————————–

Dari Kitab al Wajizfi Aqidah as Salaf ash Shalih ahl As Sunnah wa al Jama’ah dengan pengantar SyaikhAbdullah bin Abdurrahman al Jibrin, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh,Syaikh Dr. Su’ud bin Ibrahim Asy-Syurai, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu danSyaikh Nashir bin Abdul karim al Aql, mengatakan:

 

“Adapun para pemimpinyang meniadakan syariat Allah dan tidak berhukum kepadanya, akan tetapiberhukum kepada selainnya, maka mereka keluar dari hak (memperoleh) ketaatandari kaum Muslimin. Tidak ada ketaatan bagi mereka dari rakyat, karena merekamenyia-nyiakan fungsi-fungsi imamahyang karenanya mereka dijadikan pemimpin dan berhak didengarkan, ditaati sertatidak diberontak. Karena, wali (pemimpin)tidak berhak mendapatkan itu, kecuali ia menunaikan urusan-urusan kaumMuslimin, menjaga dan menyebarkan agama, menegakkan hukum, menjaga perbatasan,berjihad melawan musuh-musuh Islam setelah mereka diberi dakwah, ber-wala’ kepada kaum Muslimin, dan memusuhimusuh2 agama. Dst…..”

——————————————————————————————————–

ImamSyaukaniy ketika menafsirkan firman Allah swt, surat An Nisa’ ayat 59;

وأولي الأمر هم : الأئمة ، والسلاطين ،والقضاة ، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية”

“Ulil amriy adalah para imam, sultan, qadliy, dan setiaporang yang memiliki kekuasaan syar’iyyahbukan kekuasaan thaghutiyyah (Fath al-Qadiir, juz 2, hal. 166)

——————————————————————————————————–

SyaratMemberontak kepada Pemerintah yang melakukan kekufuran yang Nyata:

syarat memberontak kepada penguasa adaempat syarat dan ditambah satu syarat lagi sehingga menjadi lima syarat, Asy-SyaikhAl-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan kelima syarat tersebut adalah:

Pertama“Kalian melihat (kekufuran yang nyata)”, maknanya harusberdasar ilmu (yaitu benar-benar melihat). Adapun sekedar persangkaan makatidak boleh memberontak kepada penguasa.

Kedua: Hendaklah kita tahu bahwa yang dilakukannya adalah benar-benarkekafiran, bukan kefasikan. Adapun kefasikan (dosa besar yang tidak sampaikepada derajat kekafiran), meskipun para penguasa melakukannya tidak bolehmemberontak terhadap mereka; andaikan penguasa meminum khamar, berzina,menzhalimi manusia, tetap tidak boleh memberontak terhadap mereka. Yangdibolehkan hanyalah jika kita melihat kekufuran yang benar-benar nyata.

Ketiga: Kekafiran tersebut nyata. Maknanya adalah kekufuran yang jelasdan nampak, terang (tidak bisa diartikan lain). Adapun perbuatan kekufuran yangmasih mungkin untuk ditafsirkan lain maka tidak boleh memberontak kepadapenguasa. Yakni, andaikan mereka melakukan kekufuran, tetapi kekufuran tersebutmasih belum jelas (multi tafsir), maka tidak boleh kita memerangi ataumemberontak terhadap mereka, dan kita takwilkan hal tersebut sesuaipenakwilanmereka.

Keempat: “Kalian memiliki dalil dari Allah”. Yakni kita memiliki dalilyang pasti bahwa perbuatan tersebut merupakan kekufuran (menurut Al-Qur’an danas-Sunnahyangshahih).

Kelima: Memiliki kemampuan. Jika kita tidak memiliki kekuatan maka tidakboleh memberontak, karena yang demikian itu termasuk menjatuhkan diri dalamkebinasaan. Manfaat apakah yang bisa kita dapatkan jika kita memberontak kepadaseorang penguasa yang kita lihat melakukan kekufuran yang jelas dan berdasarkandalil dari Allah, hanya dengan menggunakan pisau dapur sedang dia menggunakantank-tank lapis baja dan senjata-senjata otomatis, apakah ada manfaatpemberontakan tanpa kemampuan? Tentu tidak ada manfaatnya. (Lihat SyarhuRiyadhis Shalihin, bab. 23 hadits ke-186 dengan diringkas)

——————————————————————————————————–

Nahudah jelas kan semua ini? Kalaupun karena sekarang umat Muslim kurang mempunyaikekuatan, dan belum memberontak, bukan berarti pemerintahan sekarang ini adalahpemerintahan yg sah secara ISLAMI! Sekarang mari kita lihat pemerintahan macamapa sih Negara Islam, dan Negara yg bukan Islam, alias berarti pemimpinnya jugamelakukan kekufuran bila bukan mengikuti syariat Islam dalam systempemerintahannya!

 

DefinisiNegara Islam:

 

Bilasuatu negara menegakkan hukum Islam secara keseluruhan tanpa kecuali dandiperintah oleh orang-orang Muslim serta kebijakan ada di tangan mereka, makanegara tersebut adalah negara Islam, meskipun mayoritas penduduknya kafir (AlWala wal Bara fil Silam hal 270, Dr Muhammad bin Sa’id al Qahthani, mengutip Fatwa As Sa’diyyah karya SyaikhAbdurrahman As Sa’dy)

——————————————————————————————————–

“Jumhur Ulama menyatakan: “DarulIslam yaitu negeri yang didiami kaum muslimin dan berlaku padanya hukum-hukum Islam.Sedang jika tidak berlaku hukum-hukum Islam atasnya, maka ia bukan Darul Islammeskipun negeri tersebut berdampingan dengan Darul Islam. Thaif sangat dekatdari Mekah, namun tidak serta merta menjadi Darul Islam hanya karena FathuMekah” (Ibnu al Qayyim al Jauziyyah dalam Ahkam Ahli Dzimmah 2/728)

——————————————————————————————————–

 

Dr. Ismail LuthfiFathany menyebutkan bahwa definisi daar menurut istilah adalah suatu tempat,perkampungan, daerah, wilayah, atau suatu negeri yang dihuni dan ditempati olehsekolompok manusia serta dinaungi oleh suatu kekuasaan (As sulthah) tertentu.(Ikhtilaafud Daarain wa Aatsaaruhu fi Ahkaamil Munaakahaat wal Mu’aamalaat: hal20)

——————————————————————————————————–

 

Ibnu Abbas berkata:

“SesungguhnyaRasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam, Abu Bakar, dan Umar adalah termasukpara Muhajirin, karena mereka telah hijrah dari kaum musyrikin Makkah.Sedangkan dikalangan Anshor juga terdapat muhajirin karena semula Madinahadalah sebuah daarusy-syirk, sehingga mereka pergi (hijrah) kepada RasulullahShalallahu ‘alaihi wassallam pada malam Lailatul ‘Aqabah.”

Imam Az Zhuriberkata: “Daarul Islam dapat dibedakan dengan Daarul Harbi setelah FathuMakkah.” (Ikhtilaafu Daaraini hal 76, menukil dari Al Mabshuth: V/52)

——————————————————————————————————–

Dr. Abdullah binIbrahim ath- Thuraaiqy (dalam kitab Al-Isti’aanatu bi Ghairil Muslimiina filFiqhil Islaami: hal 171-172) menyimpulkan daarul Islam adalah sbb:

  1. Kekuasaan Negeritersebut berada pada tangan Muslimin
  2. Hukum Negeri tersebutdiatur berdasarkan hukum-hukum Islam
  3. Negeri tersebutdihuni oleh mayoritas kaum Muslimin dan terlihat syiar2nya.

——————————————————————————————————–

Ibnu Muflih berkata,“Setiap Negeri yg diterapkan hukum-hukum Islam didalamnya (dinamakan) DaarulIslam.” (Al Isti’anatu bi Ghairil Muslimin fil Fiqhil Islami: Hal 171. Menukildari al Adabus Syar’iyyah wal Minahul Mar’iyyah: I/213)

——————————————————————————————————–

“Negara Ahli Dzimmahdisebut daarul Islam karena diatur dengan nama Islam dan penguasanya orangIslam yang menjalankan hukum-hukum Islam atas kaum dzimmi.” (Al Istianatu hal:172, Syaikh Hassan Ayyub)

 

 

Fatwa-Fatwa terkaityg berhubungan dengan pemerintah yang tidak berdasar hukum Allah dan RasulNya:

 

Syaikh Abdurrahman bin Sudais

“Dan di antara petunjuk Al Qur’ankepada jalan yang lebih lurus adalah penjelasannya bahwa setiap orang yangmengikuti tasyri’(hukum/aturan) selain tasyri’ yang dibawa penghulu anak AdamMuhammad Ibnu Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam,(atau) mengikuti tasyri’yang bertentangan dengan Islam (maka perlakuannya) itu adalah kufrun bawwahmukhrijun minal millah al islamiyyah (kekufuran yang sangat jelas yangmengeluarkan dari agama Islam)”

Al Hakimiyyah Fi Tafsiiri Adlwail BayanHal 7

——————————————————————————————————–

“BerkataAl-Qodli ‘Iyadl; [Para ulama’ bersepakat bahwa kekuasaan itu tidak diberikankepada orang kafir, dan apabila terjadi kekafiran padanya (yang sebelumnya iaseoarang muslim), ia harus dipecat -sampai beliau mengatakan– Jika terjadi kekafiran ataumerubah syari’at atau bid’ah, maka gugurlah kekuasaannya dan gugur pulalahkewajiban taat kepadanya dan wajib atas umat Islam untuk melawan danmenjatuhkannya serta mengangkat imam yang adil kalau hal itu memungkinkan.Jikatidak ada yang mampu melaksanakannya kecuali sekelompok orang, maka wajib ataskelompok tersebut melawan dan menjatuhkan imam tersebut. Adapun imam yangmubtadi’ (berbuat bid’ah) tidak wajib menjatuhkannya kecuali jika merekamemperkirakan mampu melakukan hal itu. Namun jika mereka benar-benar tidakmampu, maka tidak wajib menggulingkannya.

Syarah Shahih Muslim XII/229

——————————————————————————————————–

Siapayang menjadikan perkataan orang-orang barat sebagai undang-undang yangdijadikan rujukan hukum di dalam masalah darah, kemaluan dan harta dan diamendahulukannya terhadap apa yang sudah diketahui dan jelas baginya dari apayang terdapat di dalam Kitab Allah dan sunnah Rasul-NyaSWT, maka dia itu tanpadiragukan lagi adalah kafir murtad bila terus bersikeras diatasnya dan tidakkembali berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah dan tidak bermanfaatbaginya nama apa pun yang dengannya dia menamai dirinya (klaim muslim) dan(tidak bermanfaat juga baginya) amalan apa saja dari amalan-amalan dhahir, baikshalat, shaum,haji dan yang lainnya.”

(Syaikh Hamid alFaqiy Rahimahullah dalam Ta’liq Fathul Majid hal 373)

——————————————————————————————————–

“Yang dimaksuddengan negeri-negeri Islam adalah negeri yang dipimpin olehpemerintahan yang menerapkan syari’at Islamiyah, bukan negeri yang didalamnya banyak kaum  muslimin dan dipimpin oleh pemerintahan yangmenerapkan bukan syari’at Islamiyah. (Kalau demikian), negeri seperti inibukanlah negeri Islamiyyah.” (Al Muntaqaa min Fatawa Fadhilatusy SyaikhShalih al Fauzan no 222)

Dan apa yangtidak disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya di dalam masalah politik dan hukum diantara manusia, maka itu adalah hukum thagut dan hukum jahiliyah. “Apakahhukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan(hukum) siapakah yang lebih baikdibanding (hukum) Allah bagiorang-orang yakin.”

(Syaikh Shalih al Fauzan dalam Muqarrar Tauhid Lishshaffitstsalits)

 

——————————————————————————————————–

 

 

“Bilapemerintahan itu berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah,makapemerintahan itu bukan Islamiyyah.” (Fatawa Lajnah Daimah 1/789 No. 7796 sewaktu diketuai oleh Syaikh AbdulAzis bin Baz Rahimahullah)

——————————————————————————————————–

Fatwa Syaikh AbdulAzis bin Abdullah bin Baz

“Apakahhukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baikdaripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS AlMaidah 50)

Barangsiapayang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka ituadalah orang-orang yang kafir”. (QS Al Maidah 44)

 “Barangsiapa yang tidak memutuskan hukummenurut apa yang diturunkan Allah,Maka mereka itu adalah orang-orang yangzalim”(QS AlMaidah 45)

 “Barangsiapa yang tidak memutuskan hukummenurut apa yang diturunkan Allah,Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik(melampaui batas)”. (QS Al Maidah 46)

وكل دولة لا تحكمبشرع الله، ولاتنصاع لحكم الله، ولاترضاه فهي دولةجاهلية كافرة، ظالمة فاسقةبنص هذه الآياتالمحكمات، يجب علىأهل الإسلام بغضهاومعاداتها في الله،وتحرم عليهم مودتها وموالاتهاحتى تؤمن باللهوحده، وتحكم شريعته، وترضىبذلك لها وعليها،كما قال عزوجل: قَدْ كَانَتْلَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيإِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوالِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْوَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِكَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَاوَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوابِاللَّهِ وَحْدَهُ

“……DAN SETIAPNEGARA YANG TIDAK BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH, DAN TIDAK MENYERAHKAN URUSANKEPADA HUKUM ALLAH, MAKA NEGARA TERSEBUT ADALAH NEGARA JAHILIYAH, KAFIR, ZHALIMDAN FASIQ SESUAI DENGAN NASH AYAT MUHKAMAT (TEGAS) INI, WAJIB BAGI ORANG ISLAMUNTUK MEMBENCINYA DAN MEMUSUHINYA KARENA ALLAH, DAN HARAM BAGI KAUM MUSLIMINMEMBERIKAN WALA’ (LOYALITAS, KECINTAAN, KETUNDUKAN DAN KEPATUHAN) DANMENYUKAINYA, SAMPAI NEGERI ITU BERIMAN KEPADA ALLAH YANG MAHA ESA, DAN BERHUKUMDENGAN SYARIAT-NYA DAN RIDHO DENGAN ITU SEMUA UNTUK DITERAPKAN DI NEGERA ITUDAN MENJADI DASAR NEGARA ITU,

SEBAGAIMANA FIRMAN ALLAHTA’ALAA (ARTINYA) : ”Sesungguhnyatelah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yangbersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “SesungguhnyaKami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selainAllah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamupermusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allahsaja”. (QS Al Mumtahanah4)

Dinukil darikitab tulisan beliau “Naqd Al Qoumiyyah Al Arobiyyah ‘Alaa Dhou’ Al Islam”

Lebih lengkapnyasilahkan buka link ini

http://www.binbaz.org.sa/mat/8191(Website resmi tulisan2 Syaikh Bin Baz)

——————————————————————————————————–

“Sedangkan masyarakat jahiliyahadalah setiap masyarakat yang bukan masyarakat Islam ! Kalau hendak membuatdefinisi yang tepat maka kami katakan : “Bahwa masyarakat jahiliyah adalahmasyarakat yang tidak murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Yaitu pengabdian yang tercermin dalam kepercayaan, ideologi, keyakinan, syiar dansimbol-simbol peribadatan, juga di dalam peraturan dan undang-undang”

(Ma’alim Fit Thoriq – Sayyid Quthbhal 52 – 54 terbitan Mimbar Tauhid Wal jihad)

—————————————————————————————————————————

Ahmad Sarwat Lc ketika ditanyakanapakah Negara Indonesia adalah Negara Islam apa bukan?

Pernyataan bahwa Indonesia bukan negara Islam  adalahbenar, kalau maksudnya bahwa hukum positif yang berlaku memang tidak mengacukepada hukum jinayat yang kita kenal dalam ilmu fiqih. Tetapitidak secara otomatis orang Indonesia jadi kafir, fasik dan dzalim, karenahukum yang berlaku bukan hukum Allah. Sebab rakyat itu tergantung siapa yangberkuasa. Orang yang berkuasa itulah yang akan dimintai pertanggung–jawabanoleh Allah SWT, kenapa tidak menjalankan hukum-hukum Allah. http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1359632122&=kafirkah-indonesia-tidak-berhukum-dengan-hukum-allah.htm

——————————————————————————————————

 

Ibnu Abbas berkomentar tentang ayat ini bahwa ada dua hukum yang dikandungnya.Pertama, siapa yang mengingkari kewajiban untuk menjalankan hukum Allah, makadia kafir. Sedangkan siapa yang tidak mengingkarinya, hanya sekedar tidakmengerjakannya, maka dia fasik dan zhalim.”

Ketiga,hukum kafir bisa dijatuhkan kepada para penanggung-jawab sebuah negeri, baiklembaga yudikatif, legislatifmau pun eksekutif, apabila secara nyata merekamenolak penerapan seluruh hukum Islam. Sementara kesempatan sudah terbukalebar.

Makabila semua pesan sudah tersampaikan, semua ajakan telah diterima dengan jelas,sejelas matahari bersinar di siang cerah, bolehlah vonis kafir itu dijatuhkankepada penguasa yang zalim dan menolak mentah-mentah syariah Islam secara 100persen. Itu pun harus diawali dengan syura umat Islam dari seluruh penjurunegeri. Sumber: http://harakatuna.wordpress.com/2009/02/11/kafirkah-bila-tidak-berhukum-dengan-hukum-allah/

——————————————————————————————————

Liat yah ini..  www.youtube.com/watch?v=6T6oG_lZSnM(SBY: “Saya Pluralis, dan Saya menolak Syariat Islam)

 

Tetapi, apakah kitaharus memberontak? Silahkan bila mempunyai kekuatan seperti kata Syaikh Utsaimin Rahimahullah tadi. Tapi bila tidak, silahkan tempuh jalan dakwah masing-masing, yang penting kita tahu bahwa pemerintah Indonesia bukanlah UlilAmri, apalagi SBY.

Wallahu a’lambishawab

 

Adab Menasihati Dalam Islam

0

Adab menasihati

Bismillah wa alhamdulillah, shalatu wassallam ‘ala asrofil anbiya wal mursalin, nabiyyina muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam

Kekhilafan dalam kehidupan sehari-hari adalah hal yang wajar, bukanlah manusia bila tidak khilaf, karena kita ini manusia yang dhaif (lemah)..yang pasti ada salahnya, ada kekurangannya dan ada ketidakmampuannya

Apakah itu diri kita, teman kita, keluarga kita, bahkan guru kita. Namun apakah kita akan mendiamkan mereka berbuat khilaf? Tidak bukan, krn selain perintah dr Allah, kita jg mempunyai rasa sedih akan sesama Muslim..tidak sedih kah karib kerabat kita berbuat maksiat yg mendzalimi diri mereka sendiri..

Tetapi pertanyaannya disini, apakah kita akan menasihati mereka? Bagaimanakah caranya yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam? Karena bagaimanapun kita patut mengingat bahwa Allah lah satu2nya Dzat yg faham mahluk yg diciptakanNya, sehingga hanya melalui risalah Nya yg diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam lah yg pastinya tokcer..

Agama ini adalah nasihat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
قَالُوْا : لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟
قَالأَ : لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ
أَوْ لِلمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ
Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri radhiyallâhu’anhu,
dari Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda:
“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”.
Mereka (para sahabat) bertanya, ”Untuk siapa, wahai Rasûlullâh?”
Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab,
”Untuk Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin,
dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.”(HR Muslim)

Kata “nasihat” berasal dari bahasa Arab. Diambil dari kata kerja “nashaha” (نَصَحَ), yang maknanya “khalasha” (خَلَصَ). Yaitu murni serta bersih dari segala kotoran. Bisa juga bermakna “khâtha” (خَاطَ), yaitu menjahit. [Lisânul-Arab (XIV/158-159)

Imam al-Khaththabi rahimahullâh menjelaskan arti kata “nashaha”, sebagaimana dinukil oleh Imam an- Nawawi rahimahullâh :
“Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahar-rajulu tsaubahu” (نَصَحَ الرَّجُلُ ثَوْبَهُ) apabila dia menjahitnya. Maka mereka mengumpamakan perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya, dengan usaha seseorang memperbaiki pakaiannya yang robek.”(Syarh Shahih Muslim, An Nawawi)

“Nasihat hukumnya ada dua. Yang pertama wajib, dan yang kedua sunnah. Adapun nasihat yang wajib untuk Allâh. Yaitu perhatian yang sangat dari pemberi nasihat untuk mengikuti semua yang Allâh cintai, dengan melaksanakan kewajiban, dan dengan menjauhi semua yang Allâh haramkan. Sedangkan nasihat yang sunnah, adalah dengan mendahulukan perbuatan yang dicintai Allâh daripada perbuatan yang dicintai oleh dirinya sendiri. Yang demikian itu, bila dua hal dihadapkan pada diri seseorang, yang pertama untuk kepentingan dirinya sendiri dan yang lain untuk Rabb-nya, maka dia memulai mengerjakan sesuatu untuk Rabb-nya terlebih dahulu dan menunda semua yang diperuntukkan bagi dirinya sendiri.”

Beberapa adab dalam menasihati:

1. Berniat baik dan Ikhlas lillahi ta’ala
Memberikan nasihat hanya mengharapkan ridha Allah
–> bukan krn ingin dipuji ingin terkenal dllnya

2. Tidak mencelanya dan tidak mencari kesalahan2nya
–> kita Muslim hanya WAJIB melihat dr yg Zahir (terlihat) saja
Kalau Zahirnya seseorang itu suka mengumpat, caci maki, ya itulah Zahirnya.

Abdullah bin Umar RA menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, “suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi: “Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari cari auratnya. Dan siapa yang dicari cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.”” (HR. At Tirmidzi no. 2032, HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880. Hadits shahih)

Kita simak perkataan ulama berikut, “Aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya” (mengutip perkataan, Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni, MA.).

3. Jangan menghibahnya
Tahukah kalian apa itu ghibah?” Jawab para sahabat: “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Maka kata Nabi SAW: “Engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya.” Kata para sahabat: “Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu?” Jawab Nabi SAW: “Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

4. Lemah lembut

Allah SWT berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (Qs Ali lmran:3:159).

Firman Allah SWT. ”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lembut,
mudah-mudahan dia sadar atau
takut.” (QS Thaha:44).
—> Kalau sama Fir’aun yg sudah mengatakan ana rabbukum a’la (akulah tuhan kamu yang maha Tinggi) saja Nabi Musa Alaihissallam WAJIB lembut, apalagi dg sesama Muslim??

Lihat lah amaran (warning) dari Rasulullah Shallalallahu ‘alaihi wassallam berikut ini…

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Siapa yang terhalang dari sifat lemah lembut, maka ia terhalang dari kebaikan” (Hr. Muslim).

“Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah berada dalam sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidaklah terpisah dari sesuatu kecuali ia perburuk.” (HR. Muslim)

Kita simak perkataan ulama berikut, “Aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya” (mengutip perkataan, Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni, MA.).

Coba kita tafakkuri hari ini…

Sbelum kita berinteraksi dg mahluq Allah lainnya

Sudahkah kita bersikap lemah lembut? Apalagi dg sesama Muslim..

4. Mengerjakan apa yg dinasihati

”Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah
dibenci di sisi Allah jika kamu
mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan.” (QS ash Shaff: 2-3).

5. Secara sembunyi2

Jagalah hati dan perasaannya sewaktu menasehati, karena siapapun tidak ingin dikritik/dinasehati didepan umum

Imam Abu Hatim bin Hibban Al Busti rahimahumullahberkata: “Namun nasehat tidaklah wajib diberikan kecuali dengan cara rahasia. Karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan pada sejatinya ia telah memperburuknya (keadaan penerima nasehat). Barangsiapa yang memberinasehat secara rahasia, maka dia telah menghiasinya. Maka menyampaikan sesuatu kepada seseorang muslim dengan cara menghiasinya, lebih utama daripada bermaksud untuk memburukkannya”. (Raudhatul Uqala’, hlm 196)

Nasihat diberikan secara rahasia, sedangkan celaan disampaikan secara terang-terangan. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahumullah berkata: “Seorang mukmin menjaga rahasia dan memberi nasihat. Seorang fajir membongkar rahasia dan mencela”.(Al Farqu Baynan Nashiah Wat Ta’yir)

Perkataan Fudhail bin Iyad dibenarkan dan diperkuat oleh perkataan Ibnu Rajab:

“Apa yang diucapkan oleh Fudhail ini merupakan tanda-tanda nasihat. Sesungguhnya nasihat digandeng dengan rahasia. Sedangkan celaan digandeng dengan terang-terangan.” (Al Farqu Baynan Nashiah Wat Ta’yir)

6. Moment yang tepat

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata:

“Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” (Al –Adab Asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)

7. Sabar dalam menasehati

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan PERINTAHKANLAH kepada keluargamu mendirikan shalat dan BERSABARLAH kamu dalam mengerjakannya.

(Thaa-Haa: 132)

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3).

Wallahu a’lam
Hadiah bagi pembaca: silahkan didownload buku tentang adab oleh Dr. Adian Husaini di sini ^^

Mudahnya Mengatakan Bid’ah

0

Assalamu’alaikum

Masyaallah udah lama juga saya tidak menulis. Mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka pikiran kita semua ya, untuk tidak mudah dan serta merta membid’ahkan orang lain.

Bismillah wal hamdulillah..Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada junjungan umat Islam, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang menjunjung tinggi sunnahnya sampai akhir zaman..amma ba’du

Sekarang ini lucu ya, banyak sekali yang belum mempunyai kapasitas namun sudah dapat tampil di televisi sebagai narasumber/presenter yang membawakan pesan-pesan agama, apa iya boleh? Walaupun sudah lama mendalami agama, saya kira lebih elok bila yang membawakan pesan-pesan agama adalah orang yang memang capable dibidangnya. Tujuannya baik kok menurut saya, agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kekeliruan dalam referensi ataupun tidak lengkapnya informasi yang disampaikan. Saya kira walaupun menjadi presenter maupun tidak, kita semua ada tanggung jawabnya kepada Allah SWT atas apa yang kita sampaikan bukan?

Terlepas dari hal itu, sebaiknya kita doakan tokoh selebriti yang sudah hijrah tersebut untuk istiqamah dan meneruskan perjalanannya dalam menimba ilmu agama Islam, karena bagaimanapun juga, peran para tokoh tersebut dalam dakwah Islam juga signifikan, dengan kapasitasnya sebagai publik figur dan kearifannya, mudah-mudahan banyak orang yang dapat terbawa kebaikan-kebaikan Islam.

Sebenarnya menarik untuk dibahas kenapa bisa sampai banyak masyarakat mem-bully Teuku Wisnu pada acara Trans7 itu (Linknya saya berikan ni – Video Youtube Teuku Wisnu dan Zaskia Adya Mecca membicarakan tentang Bid’ah). Sebenarnya topic yang diulas oleh acara Trans7 ‘Berita Islami Masa Kini’ dengan Tema “Mengirimkan Al-Fatihah untuk orang yang sudah tiada” sebenarnya bagus. Saya pun cenderung meyakini bahwa kiriman surat Fatiha dll kepada mayit itu tidak sampai karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini sebenarnya masuk ke ranah khilafiyah bainal ulama (Perselisihan para ulama). Namun hal ini tidak respond dengan elok oleh para masyarakat yang meyakini hal sebaliknya (Yaitu meyakini sampainya pahala bacaan tersebut ke mayit). Bahkan comment2nya sudah tidak sopan dan terkesan menghakimi sepenuhnya itu adalah kesalahan Teuku Wisnu (sampai-sampai ada yang mengatakan/mencap Teuku Wisnu adalah Wahabi), padahal kalau dilihat videonya sebenarnya yang mengatakan bid’ah itu bukan Teuku Wisnu, tetapi Zaskia Adya Mecca, namun apa mau dikata, sudah kejadian. Alhamdulillah Teuku Wisnu legowo dengan kearifannya sanggup untuk meminta maaf kepada khalayak ramai.

Nah sebenarnya gimana sih perkaranya kok bisa sampai rame begini, emangnya ini perkara penting ya? Sejujurnya ini bukan perkara penting, karena seperti telah ditulis diatas, ini perkara khilafiyah, kalau readers mau tau lebih lanjut silahkan di tengok hukum menghadiahkan al fatiha atau semisalnya kepada mayit disini dan disini, yang kalau mau jujur adalah ada yang membolehkan n mengatakan itu sampai dan ada juga yang mengatakan tidak boleh n tidak sampai. Sampai disini saya mau mengajak readers untuk legowo bahwa apa yang diperselisihkan oleh para ulama ini adalah bukan urusan Ushul (Pokok) agama tetapi urusan Furu’ (Cabang) sehingga tidak perlu digembar gemborkan, terutama ini adalah masalah Ijtihad yg telah lumrah bahwa Rasulullah pernah menerangkan mengenai Ijtihad

Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (HR. Bukhari 7352 & Muslim 4584)

Nah kalau Rasulullah Sallam saja dengan tegas mengatakan Ijtihad itu kalau benar dua pahala dan kalau salah satu pahala, lalu masa kita ini saling menghakimi Ijtihad para ulama yang berbeda pendapat? Siapa kitee gitu kan? he..he..he..Ada yang menulis cukup bagus dalam blognya “Teuku Wisnu, Wahabi dan Khilafiyah Karet” yang pada intinya sang penulis menyarankan kalau masyarakat itu harus objective, kalau acara tersebut secara tidak langsung menyatakan hadiah surat al Fatiha itu kepada mayit adalah urusan Khilafiyah maka harus legowo dong sama Teuku Wisnu, kok urusan Khilafiyah jadi pada hina menghina gitu. Saya setuju banget dengan sang penulis, tapi kalau dicermati lagi, banyak dukungan yang mengalir kepada Teuku Wisnu atas urusan ini sebenarnya tidak mencerminkan pokok permasalahan “KENAPA” sampai banyak orang antipati serta apriori terhadap kata-kata Bid’ah yang dikaitkan dengan tradisi kaum Nahdlyin(NU) itu, sampai-sampai KPI menurunkan teguran kepada Trans7 atas peristiwa tersebut (Link beritanya disini).

Sebelum kita masuk ke inti permasalahan kenapa banyak yang marah (salah sasaran sebenarnya) kepada Teuku Wisnu tersebut, saya ingin kita berpikir kok bisa yah banyak orang sampai segitu apriorinya dan langsung mencap “Wahabi” ke Teuku Wisnu. Kalau kita mau cermati, sebenarnya kekesalan banyak orang itu bukan ke Teuku Wisnu, tetapi kepada “salah satu” kelompok yang dikenal dengan “Salafi” atau orang-orang mengenalnya sebagai “Wahabi”. Sebelum ada yang tersinggung dengan penamaan “Salafi” ini biar saya coba jelaskan dulu, bahwa ada sebagian dari kelompok ini yang memang menamakan dirinya Salafiyyun (Salafi) dan ada yang tidak bersedia untuk dinamakan (Salafi), namun untuk kemudahan dalam berdiskusi, kita sebut saja (Salafi). Nah inilah akar permasalahan sebenarnya yang menjadi inti kekesalan banyak orang, karena “Salafi” itu terkenal sejak dahulu mudah sekali mengatakan “Bid’ah” kepada masyarakat yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Padahal seringkali mereka mudah sekali membid’ahkan sesuatu yang masih masuk ke ranah Khilafiyah..dan walaupun secara pemikiran yang mereka yakini adalah betul (Bid’ah) tetapi tidaklah elok dikemukakan diruang publik, apalagi sampai menghakimi..mereka-mereka ini yang dikit-dikit membid’ahkan sesuatu..

Kira-kira begini ni karakternya mereka (Salafi)

– Ilmu didahulukan daripada adab
– Belajar hanya pada kelompoknya (padahal kebenaran ada di al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para salafush shalih, bukan pada kelompok)
– Keras dengan sodara seiman tapi banci pada pemerintah (baca: gk ada kritis2nya)
– Gk mau terima kalau suatu masalah masih ada perbedaan diantara para ulama
– Mau masuk surga sendiri (gue kutip dr salah satu alumni Universitas Madinah yg terkenal bgt xixi)
– Semua salah kecuali mereka
– Taunya Imam Al Bani Rahimahullah adalah no 1, yg lain itu salah
– Ngaku pengikut Salafush shalih tapi fanatik buta sama ulama kekinian
– Mudah ngevonis orang 

Kalau mau tahu lebih lanjut mengenai “Salafi” ini mungkin ada baiknya kita menonton video dari Ust Anung dan ulasan bedah bukunya disini.

Kelompok inilah (Baca: Salafi) inilah yang mudah sekali membid’ah2kan sesuatu (padahal masih Khilafiyah), seperti:

  • Salaman setelah Shalat Bid’ah (baca penjelasan yang objective yah..disini)
  • Mengusap wajah setelah berdo’a adalah Bid’ah (Baca penjelasan yang objective..disini dan ini)
  • Maulid Nabi (Kecuali Maulidan yang datengin “ruh” Nabi SAW ya masih perkara Khilafiyah, baca disini)
  • Mengadzankan dan/atau Mengiqamahkan bayi yang baru lahir (Baca penjelasan yang objective…disini)
  • Dll

Dalam diskusi ilmiah wajar memang bilamana salah satu pihak saling berdialog/diskusi/debat mengenai keabsahan/tarjih(memastikan mana dalil yg paling kuat) akan suatu perkara Khilafiyah, tapi bilamana langsung mencap “ini adalah bid’ah ya akh” kepada masyarakat awam yang notabene kita orang Indo itu Islamnya ya mohon maaf, belum memahami dengan baik, ya akan jelas tersinggung kan…karena istilah Bid’ah itu berat readers…berat banget…tau gk sih apa ancaman bagi ahlu bid’ah (pelaku bid’ah) itu apa? nih saya shared sedikit…

Hukuman bagi ahli Bid’ah…:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. Muslim no. 867)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah Rahimahullah berkata

“و يجب عقوبة كل من انتسب إلى أهل البدع أو ذب عنهم أو أثنى عليهم أو عظم كتبهم أو عرف بمساعدتهم و معاونتهم أو كره الكلام فيهم أو أخذ يعتذر لهم،  بل تجب عقوبة كل من عرف حالهم و لم يعاون على القيام عليهم؛ فإن القيام عليهم من أوجب الواجبات” الفتاوى ١٣٢/٢

“dan wajib menghukum setiap orang yang menisbatkan diri kepada ahli bid’ah,  atau membela mereka,  atau memuji mereka,  atau mengagungkan kitab-kitab mereka,  atau dikenal pertolongannya terhadap mereka,  atau membenci kritikan atas mereka. bahkan wajib menghukum orang yang mengetahui keadaan para ahli bid’ah itu namun enggan mendukung bantahan terhadap mereka. sebab,  membantah ahli bid’ah termasuk sebesar2 kewajiban .

Berkata Sufyan ats-Tsauri Rahimahullah:

قال سفيان الثوري: “من ماشى المبتدعة عندنا فهو مبتدع”

“Barangsiapa berjalan seiring bersama ahli bid’ah,  menurut kami ia juga ahli bid’ah”

Beliau juga berkata

قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها

Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).

dan masih banyak lagi hukuman2nya bagi ahli Bid’ah…makanya bayangkan saja readers…kalau sampe kita dianggap melakukan bid’ah berarti jadi ahli bid’ah..masuk neraka dong…to be honest, walaupun misal mmg ada yang melakukan perbuatan yang kita yakini sebagai bid’ah, kan ada adabnya dalam berkata2 apalagi sama sodara seiman sendiri..! Lalu apa sih contoh yang nyata dari Bid’ah itu sendiri? Saya berikan contoh yang mudah, bilamana shalat Dzuhur itu dijadikan 5 raka’at, nah itu jelas2 Bid’ah!!, untuk definisi Bid’ah lebih lanjut sila check di sini dan disini

Nah dengan track record yang sudah panjang sekali ini menjadikan masyarakat khususnya warga NU menjadi beringas dan reaktif terhadap peristiwa demi peristiwa yang tidak elok ini. Jujur saya sangat menyayangkan sekali kenapa dalam berdakwah Salafi ini tidak menerapkan kearifan lokal dan akhlakul karimah, sehingga amar ma’ruf dan nahi munkar dapat dijalankan seoptimal mungkin..

Akhirul kalam, saya mendoakan semoga umat Islam (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) dapat menahan diri satu dengan yang lainnya, untuk dapat beretika dalam berkata-kata dan bijak dalam menyampaikan risalah nasihat, serta tasamuh (legowo) dalam berbeda pendapat, karena sesungguhnya Allah SWT telah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al Hujuraat 10]

dan

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, . . .” (QS. Al-Fath: 29)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir)

dan kaidah Ijtihad yang sudah maklum dalam kitab-kitab Fiqh yaitu:

الاجتهاد لاينقص بالاجتهاد

“ijtihad yang telah lalu tidak dibatalkan oleh ijtihad yang kemudian”

Wallahu a’lam

Wassalamu’alaikum

 

 

Sombong, ngk pantes kita Sombong

0

Tak ada tempat di dunia ini bagi Kesombongan dan Keangkuhan

Bismillahirrahmanirrahim, allahumma shalli washalli ‘ala asrofil anbiya iwal mursalin, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam, wa ala alihi wa ashahbihi wa man tabiahum ila yaumiddin, amma ba’du

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Luqman: 18)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan beberapa hadith Rasulullah tentang akhlaq yang mulia diantaranya. Dari Annas RA Berkata, bahwa Rasulullah SAW, manusia yang paling baik akhlaqnya. Dalam hadith lain disebutkan, tugas Rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlaq yg
mulia.

Dalam ayat ini Luqman memberikan nasihat kepada anaknya agar tidak menjadi orang yang sombong dan angkuh agar mempunyai budi pekerti yang baik

Terdapat penjelasan karakteristik seperti apakah orang yang sombong tersebut dalam ayat tersebut

Bila bertemu dengan saudaranya atau temannya dijalan, maka ia tidak perduli sambil memalingkan wajahnya..kesombongannya membuat ia tidak menegur sodaranya sendiri..

Terdapat keangkuhan pada gerak geriknya, seakan-akan manusia lainnya berada dibawah derajat dan statusnya..

Dalam ketaatan kita terhadap Allah SWT dan pembuktian kita bahwa kita hamba adalah menghilangkan sifat sombong dari dada-dada kita..

Tidak ada tempat bagi kesombongan ini berlabuh kepada mahluk ya teman-teman.. Apalagi kepada manusia, yang isinya adalah kelemahan dan kekhawatiran, pantaskah kita untuk bersombong setelah itu?

Sesungguhnya sombong itu adalah kebinasaan yang nyata..yang dapat menahan kita dari surgaNya

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَب ي
قَالَ : لاَ يَدْخُلُ الجَنةَ مَنْ كَانَ فيِ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرةٍ مِنْ كِبْرٍ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. dari Nabi s.a.w. bersabda, “Tidak masuk syurga, orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” [shahih Muslim: 149 / (91)]

Terdapat bbrp point dalam hadith ini yaitu:
1. Larangan sombong yang mengingkari (menolak) kebenaran dan merendahkan orang lain.
2. Konsekuensi adanya rasa sombong dapat menghalangi kita untuk masuk Surga, bahkan Tidak Akan..
3. Kerendahan hati adalah sifat orang mu’min dan kesombongab merupakan sifat Iblis yg mengeluarkannya dr Surga. Menerima kebenaran merupakan suatu kejujuran luhur, sedang mengingkarinya adalah serupa dg salah satu sifat Iblis.

Coba kita renungkan..
Apakah patut dengan asumsi kita mempunyai ilmu maupun kelebihan lain yang diberikan Allah kepada kita, menjadi suatu alasan untuk merendahkan orang lain?

Sadarlah ya manusia, sesungguhnya kesombongan itu bukanlah milik kita, melainkan itu mutlak milik Allah..karena Allah Al Mutakabbir

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda, “Keperkasaan adalah sarang-Ku dan kesombongan merupakan selendang-Ku. Barangsiapa merebutnya dari-Ku maka Aku akan menyiksanya,” (HR Muslim [2620])

Setiap hari kita bersujud kepada Allah sang Pemilik Kesombongan minimal 17x sebagai bentuk pengabdian dan kerendahan kita sebagai manusia yang tidak dapat melakukan suatu manfaat satupun tanpa seizinNya, namun tak malukah kita bila masih terdapat kesombongan..

Bahkan Allah mengajak kita berpikir dengan sesuatu yang kita pahami..

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung,” (Al-Isra’: 37).

Dalam bbrp kitab tafsir, ayat diatas bermakna jangan merendahkan manusia dan menolak kebenaran yg dibawanya. Bahkan Allah pun membuat pernyataan bahwa bila kita tdk sanggup menembus bumi dan tdk mgkn kita dapat menjadi setinggi bumi maka kita tidak pantas sombong..

Hal ini sesuai dg sabda baginda Rasulullah SAW

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Dan sombong merupakan sifat yang buruk sekali yang akan mendapakan siksa yang keras kelak di akhirat, naudzubillahi min dzalik

Allah Ta’ala berfirman:
قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
“Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, dalam keadaan kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Az-Zumar: 72)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya penghuni neraka seluruhnya orang-orang kasar, keras, angkuh, kaya, dan bakhil. Sedangkan penghuni surga adalah orang-orang yang lemah yang tidak berdaya,” (Shahih, HR Ahmad [II/114]).

Masih diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi saw. bersabda, “Pada hari kiamat orang-orang angku akan dikumpulkan seperti semut berbentuk manusia yang diselimuti perasaan hina dari segala arah. Lantas mereka digiring ke penjara di neraka jahannam yang disebut Baulas. Api neraka akan membakar mereka dan mereka diberi minuman dari air kotoran penghuni neraka,” (Hasan, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [557]).

Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorangpun yang menganiaya orang lain dan tidak seorangpun menyombongkan diri di hadapan orang lain’,” (HR Muslim [2868]).

Point2 penting kenapa kita jangan sombong:

– Sombong atas Mahluq adalah penghinaan atas Allah
– Sombong termasuk dosa besar
– Sombong menyebabkan pelakunya diadzab dg keras di hari akhir kelak
– Sombong dapat memutus tali silaturrahim antar kaum Muslim

Namun ada kalanya sombong(teguran) diperlukan, sebagaimana pendapat ulama utuk sebuah konteks kehidupan bahwa

Syaikh Al Aljuni mengutip perkataan Syaikh al Qari, ia berkata:

التكبر على المتكبر صدقة

“Bersikap sombong(teguran) kepada orang yang sombong adalah sedekah.”
(Kashyul Kafa)

Imam Syafi’i, ‘Bersikaplah sombong(teguran) kepada orang sombong sebanyak dua kali.’

Hal ini dimungkinkan terjadi dikarenakan terkadang kita menemui kondisi dalam hidup dimana jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong (u menegur) maka dia akan sadar..

Kita wajib mengingat bahwa kita ini manusia adalah dhaif

Janganlah kita menjadi spt Iblis sewaktu diperlihatkan kebenaran oleh Allah tetapi enggan u menyikapinya dg ketaatan dan tawadhu’

Sesungguhnya kesombongan dalam menolak kebenaran walaupun kebenaran itu datang dari orang yang kita tidak sukai, dari status orang yg lebih rendah drpd kita, bukan hanya dapat membuat kita merugi, namun jg akan membuat kita disiksa kelak

Sesungguhnya kebenaran hakiki hanyalah datang dari Allah melalui RasulNya ya teman2, dan siapa saja yang membawa risalah itu kepada manusia lainnya

Terimalah kebenaran itu dalam2 di qalbu dan pikiran kita

Karena bila tidak..setetes demi setetes..hati kita akan dipenuhi dg antipati kpd manusia lain, keangkuhan yang dapat menghalangi kita dari kebenaran..naudzubillahimindzalik

Wallahu a’lam bishawab

Ramadhan Merugi

0

Ramadhan Merugi

Bismillah walhamdulillah shalatu wassallam ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Masyaallah tidak terasa bulan Ramadhan telah hampir berlalu dari kita semua..mulai terasa syahdu dan rindu berkumandang didalam dada..

Rindu terhadap suasana dimana masjid2 penuh disetiap waktu..

Rindu terhadap suasana dimana Shalat Malam menjadi suatu kebiasaan..

Rindu akan sahur bersama dengan para sodara seiman dan merajut cinta silaturrahim..

Rindu akan kebersamaan sewaktu buka bersama dengan para dhuafa, suatu saat yg jarang terjadi pada bulan2 yang lain..

Rindu akan syahdu dan merdunya suara kita sewaktu kita lantunkan al Qur’an demi mengharap ridhaMunya Rabb..

Rindu akan saat saat kami menggiatkan diri beri’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir pd bulan suci Ramadhan..

Rindu disaat banyaknya ujian dan cobaan yang melanda kaum Muslimin di Palestine, di Syria, di Rohingya, dllnya kita merasa satu tubuh ya Rabb..mereka menderita kita pun merasakannya..mereka dibantai, dada pun sesak ya Rabb…ya Allah..indahnya persaudaraan akan Islam ya Rabbana..

Namun semua itu kini hampir menjadi kenangan..karena kita mungkin akan berjumpa dg bulanMu berikutnya..dan belum tentu berjumpa kembali dg Ramadhan..karena umur pun kita tak ada yang tahu kelak..ya Rabb

Saudaraku rahimakumullah, coba renungkan hadith Rasulullah SAW

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, ketika Rasulullah SAW akan menaiki mimbar untuk khutbah Jum’at, pada anak tangga pertama beliau mengucapkan amin, ketika naik pada anak tangga kedua beliau juga mengucapkan amin, begitu juga pada anak tangga ketiga beliau mengucapkan amin.

Setelah selesai shalat, para sahabat kemudian bertanya, ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau mengucapkan amin pada anak tangga pertama sampai ketiga tadi?”

Rasulullah SAW menjawab, “Pada anak tangga pertama aku mengucapkan amin, karena malaikat Jibril membisikkan kepada ku, celakalah dan merugilah orang yang ketika disebut namamu wahai Muhammad, dia tidak bershalawat kepadamu , kemudian pada anak tangga kedua, aku mengucapkan amin, karena malaikat Jibril membisikkan kepadaku, celakalah dan merugilah orang yang tinggal bersama kedua orang tuanya tapi tidak membuatnya masuk surga, dan pada anak tangga ketiga aku mengucapkan amin, karena malaikat Jibril membisikkan kepadaku, celakalah dan merugilah orang yang melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadhan, tapi Allah tidak mengampuni dosa-dosanya.”

Masyaallah ada ternyata orang yg beribadah shaum pada bulan Ramadhan tapi Allah tidak berkenan untuk mengampuni dosa2nya…….

Maka teman2…janganlah kita menjadi orang yang opportunistic di bulan Ramadhan ini..

Allah memberikan kita bulan Ramadhan untuk melatihdiri kita agar spirit kita dibulan Ramadhan tetap continue sampai seterusnya..bukan hanya di bln Ramadhan saja

Allah memberikan kita bulan Ramadhan sebagai pengingat dan waktu muhasabah untuk mencharge iman kita agar kita menjadi Muslim yang lebih baik lagi..

Oleh karenanya..

Janganlah kita menjadi orang yang pergi ke masjid sewaktu Ramadhan saja..lantas masjid2 kembali sepi karena kita lupa akan kewajiban kita dalam melakukan shalat..

Janganlah kita sibuk memakai hijab pada bulan Ramadhan saja..lantas dibuka kembali pada bulan berikutnya..

Janganlah al Qur’an kita kembali dg rapi di rak buku kita setelah bulan Ramadhan usai..setelah sebelumnya kita berlomba lomba mengkhatamkannya..

Padahal berapa banyak waktu kita habiskan ya Allah untuk bekerja dan beraktifitas setiap harinya..bagaimana kita menghadap diriMu ya Allah bila kami melalaikan kewajiban2 kita seakan2 bulan Ramadhan ini adalah ajang eksistensi diri saja sebagai Muslim..

Teman2 rahimakumullah, ingatlah akan ayat ini..Allah berfirman

Allah SWT telah mengingatkan kita di dalam Al-Qur‘an agar kita masuk ke dalam Islam secara kaffah (sempurna), tidak setengah-setengah. Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (Qs Al-Baqarah: 208-210)

Sesungguhnya kita masih beruntung dapat menjalani puasa Ramadhan..dengan nikmat yang super banyak yg kita dapatkan selama bulan Ramadhan ini, tanyalah kepada diri kita masing2..

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? QS Ar Rahman ayat 77

20130807-102921.jpg

Penistaan Martabat Perempuan

0

“Penistaan Martabat Perempuan”

Itulah kontes kecantikan. Sehebat apa pun seorang perempuan, meski juara olimpiade matematika, pakar ilmu pengetahuan, pekerja sosial hebat, pembela kaum tertindas, jika tak cantik, menyingkirlah! baca Catatan Akhir Pekan (CAP) – 360

Oleh: Dr. Adian Husaini

LAZIMNYA, perempuan biasanya ingin tampil cantik, dan senang dipuji kecantikannya. Sementara laki-laki lazimnya senang memandang kecantikan perempuan. Keinginan naluriah itu ada pada manusia. Rasulullah saw pun memberitahukan, bahwa perempuan dikawini karena empat hal: kecantikannya, hartanya, nasabnya, dan juga agamanya. Nabi memerintahkan untuk mengutamakan faktor agama, jika rumah tangganya mau selamat. Toh, faktor cantik tidak dilarang untuk dijadikan sebagai pertimbangan. Sebab, itu memang naluriah laki-laki normal.

Al-Quran juga menjelaskan, salah satu syahwat dunia adalah kecintaan kepada perempuan, anak-anak, harta perniagaan,emas dan perak, sawah ladang, dan peternakan. (QS 3:14).

Islam bukanlah agama yang membunuh naluri manusia, sehingga melarang pemeluknya untuk menikah dengan alasan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tapi, Islam juga bukan agama yang memerintahkan umatnya untuk mengumbar nafsu syahwatnya. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Islam menunjung tinggi prinsip keadilan.Islam tidak membunuh hawa nafsu, tetapi mengendalikan dan mengatur hawa nafsu, sesuai dengan konsep Sang Pencipta, agar manusia meraih kebahagiaan (sa’adah); bukan sekedar meraih kepuasan syahwat jasmaniah.

Seperti telah kita bahas dalam CAP-359, peradaban Barat yang mencengkeram pemikiran manusia modern saat ini, adalah peradaban yang secara ekstrim memuja ‘materi’.

Unsur-unsur fisik dieksploitasi untuk kepuasan syahwat secara berlebihan. Sementara unsur “jiwa” (nafs) diabaikan, dan diserahkan kepada kendali syahwat. Peradaban Barat modern adalah peradaban yang memuja “kekuasaan, kekayaan, kecantikan, dan kepopuleran” (power, wealth, beauty, popularity). Dalam posisi seperti inilah, aspek kecantikan perempuan mendapatkan tempatnya. Para desainer dan juru gambar berusaha keras bagaimana mengeksploitasi dan mendandani tubuh perempuan agar “memuaskan”, menarik, dan membangkitkan syahwat laki-laki. Para manajer eksploitasi syahwat itu tahu persis, bagian-bagian mana dati tubuh perempuan yang harus dibuka dan bagian mana yang harus ditutup, agar – kata mereka – tampak indah, cantik, dan menarik.

Dunia industri kapitalis yang tidak peduli halal-haram pun tak lupa memanfaatkan (mengeksploitasi) tubuh perempuan agar menjadi daya tarik konsumen, meskipun terkadang, tak ada hubungan antara produk dan tubuh perempuan. Misal, ditampilkannya perempuan seksi untuk mengiklankan produk ban dan cat pengkilat mobil. Tentu, perancang iklan itu paham betul, bahwa tampilnya perempuan cantik dengan pakaian ala kadarnya bisa membangkitkan minat (syahwat) pembeli.

Mantan Menteri P&K, Dr.Daoed Joesoef memberikan kritik keras terhadap kontes-kontes kecantikan, dengan menyebutkan bahwa: ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah.” (Dikutip dari buku “Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran” (Jakarta: Kompas, 2006).

Itulah sebenarnya tujuan utama kegiatan kontes kecantikan. Yakni, eksploitasi tubuh perempuan untuk keuntungan bisnis tertentu. Ironisnya, kegiatan bisnis ini dikemas dengan jargon-jargon sosial bahkan pendidikan. Seolah-olah, kontes kecantikan perempuan adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Padahal, menurut Daoed Joesoef, semua itu adalah bohong belaka. Praktik kontes perempuan lebih merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Pakaian yang ala kadarnya – biasanya berupa bikini dan sejenisnya – disyaratkan untuk dikenakan pada sesi tertentu agar tubuh kontestan dapat dilihat dan diukur dengan jelas.

Kata Daoed Joesoef: ”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang… setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”

Itu pendapat Dr. Daoed Joesoef yang dikenal sebagai salah satu tokoh sekuler di Indonesia. Jika tokoh sekuler saja berani bersikap tegas, seyogyanya para tokoh Islam – apalagi yang sedang memegang kendali kekuasaan – berani bersikap lebih tegas lagi. Substansi dari kontes kecantikan yang mengumbar dan mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan adalah pola pikir dan kegiatan yang keliru. Dalam istilah Islam, itu disebut hal yang batil dan mungkar.

Kata Rasulullah, jika seorang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan ‘tangan’-nya; jika tidak mampu, dengan lisan (ucapannnya); dan jika tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya. Tapi, ingkar dengan hati, tidak rela dan benci terhadap kemungkaran, adalah selemah-lemahnya iman.

Tentu saja orang bisa melihat pada sisi yang berbeda. Tergantung pada cara pandangnya terhadap realitas (worldview). Seorang yang berpaham materialisme dan sekulerisme tidak mempersoalkan masalah moral terhadap kontes semacam ini. Haram-halal, berdosa atau berpahala, ibadah atau maksiat, bukanlah hal penting bagi kaum materialis. Bagi mereka yang terpenting adalah kelimpahan materi, ketenaran, dan puja-pujian terhadap kecantikannya.
Cobalah renungkan, betapa kasihannya orang yang terjangkit pemikiran semacam ini. Ia salah. Ia tanpa sadar telah dikendalikan oleh setan untuk mengumbar hawa nafsunya. Hawa nafsu telah dijadikan Tuhan. Orang seperti ini, sudah tertutup mata, telinga, dan hatinya dari kebenaran. (QS 45:23).

Al-Quran menyebutkan, bahwa orang yang merasa benar dan merasa telah berbuat baik, padahal amalnya sesat dan salah, adalah manusia yang paling merugi amalnya. (QS 18:103-104).

Kecantikan bagi seorang perempuan adalah karunia dan sekaligus ujian Allah bagi si perempuan. Harusnya, kecantikannya digunakan untuk beribadah dan dakwah. Ironisnya, biasa kita saksikan, perempuan-perempuan yang terjebak oleh bujuk rayu setan agar mengeksploitasi kecantikan dan kemolekan tubuhnya untuk menggoncang-goncang syahwat lawan jenisnya. Dan itu tentu ada imbalan yang menggiurkan, berupa kemikmatan hidup duniawi.

Untuk tampil cantik – tepatnya untuk dikatakan cantik – sebagian perempuan mau melakukan tindakan hina dengan membuka auratnya. Padahal, jika dirnungkan dengan hati tulus ikhlas, jika jutaan orang sudah memuji-muji kecantikannya, apakah si perempuan akan bahagia?

Seorang yang menggantungkan hidupnya pada pujian manusia, tidaklah akan pernah meraih bahagia sejati. Segala puji hanya layak dipanjatkan kepada Allah. Bukan manusia yang patut dipuji degan melupakan Allah. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Sebab. kecantikan, ketampanan, ketenaran, kekayaan, kekuasaan, dapat diraih seseorang hanya karena atas ijin dan karunia Allah. Jika Allah menghendaki, dalam sekejap, semua kecantikan yang dipuja-puja itu bisa sirna.

Si empunya kecantikan sepatutnya mau berpikir, bahwa tak lama lagi, kecantikannya akan pudar . Kecantikan yang diumbar dan ‘dijualnya’ akan sirna. Puji-pujian itu pun akan hilang. Bersamaan dengan itu, muncullah perempuan-perempuan yang lebih cantik dan lebih menarik dari dia. Sungguh kasihan, jika seorang menggantungkan kebahagiannya pada pujian orang. Sebab, itu tak kan diraihnya. Pujian manusia bisa buat puas sementara waktu. Bukan kebahagiaan yang hakiki yang hanya bisa diraih oleh orang taqwa.

Martabat perempuan

Jurnal Islamia-Republika edisi 18 April 2013 menurunkan laporan utama tentang martabat perempuan dalam pandangan Islam. Dalam artikelnya, “Teologi Perempuan dalam Islam”, Fahmi Salim – Wasekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) — mengungkapkan kisah seorang sahabat perempuan bernama Asma’ binti Yazid yang mengajukan aspirasi kaumnya kepada Rasulullah saw. Di zaman “pemaksaan paham kesetaraan gender” saat ini, aspirasi Asma’ perlu kita renungkan.

Ketika itu, Asma’ mendatangi Rasulullah, saat beliau sedang berkumpul dengan sejumlah sahabat laki-laki. Berikut aspirasi kepada Rasulullah: “Demi Allah yang menjadikan ayah dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh muslimah. Tiada satu pun diantara mereka saat ini kecuali berpikiran yang sama dengan aku. Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggui rumah kalian para suami, dan yang mengandungi anak-anak kalian. Sementara kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjamaah, shalat jumat, menengok orang sakit, mengantar jenazah, bisa haji berulang-ulang, dan jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji, umrah atau berjihad, maka kami yang jaga harta kalian, menjahit baju kalian dan mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua kebaikan itu?”

Rasul melihat-lihat para sahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian dengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya lebih baik dari Asma’?”

“Tidak wahai Rasul,” jawab sahabat.

Beliau lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi pahalanya setara dengan apa yang kalian tuntut”. Asma’ lalu pergi keluar seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan. Kisah diatas direkam oleh Abu Nu’aim al-Asbahani dalam kitab Ma’rifat al-Shahabah (Vol.22/420).

Aspirasi Asma’ berbeda secara substansial dengan aspirasi kaum pegiat kesetaraan gender saat ini. Asma’ tidak menuntut kesetaraan secara nominal; bahwa perempuan dan laki-laki harus sama-sama aktif di ruang publik untuk kemajuan pembangunan. Perempuan yang aktif mendidik anak-anaknya di rumah dengan sungguh-sungguh tidak dianggap telah berpartisipasi dalam pembangunan. Yang dituntut oleh Asma’ adalah kesetaraan substansial, bukan kesetaraan nominal. Peran bisa berbeda. Tapi,peluang untuk meraih pahala dari Allah adalah sama besarnya.

Karena itulah, setelah Rasulullah memberitahukan bahwa istri yang taat dan diridhai suami serta menyertai suaminya, mendapatkan pahala yang sama dengan pahala suaminya, maka Asma’ bertakbir kegirangan. Asma’ tidak menuntut peran yang sama dengan laki-laki. Yang dituntut adalah pahala dari Allah. Sungguh berbeda tuntutan Asma’ dengan aktivis gender yang tidak menggunakan logika pahala dan ibadah saat merumuskan paham “kesetaraan gender” sekuler.

Akibat adanya kekeliruan dalam menggunakan tolok ukur “martabat perempuan” maka pemerintah dan DPR telah sepakat untuk menetapkan angka minimal untuk pengurus perempuan dalam partai politik adalah 30 persen. Peneliti INSISTS, Dr. Dinar Dewi Kania dalam artikelnya yang berjudul “Martabat dan Keterwakilan Perempuan”, mengupas secara tajam kekeliruan cara pandang UU nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilihan Umum dan UU No 2 tahun 2011 tentang Partai Politik dalam kaitan dengan martabat perempuan. Kedua Undang-Undang itu telah memberi mandat kepada partai politik untuk melibatkan perempuan sekurang-kurangnya 30% dari daftar caleg yang diusulkan partai politik peserta pemilu.

“Umat Islam seharusnya dapat lebih jeli menilai bahwa aturan tentang kuota caleg perempuan berpotensi mengalihkan perhatian perempuan dari peran utama mereka sebagai ibu dan pendidik anak-anak di rumah. Bahkan, dalam paham ini, tugas dan peran sebagai Ibu rumah tangga dipandang sebelah mata, dianggap tidak lebih mulia ketimbang aktif di parlemen. Apakah mereka berpikir, bahwa dengan ”memaksa” perempuan aktif di ruang publik dan meninggalkan keluarga, maka laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dapat lebih leluasa bergaul sampai larut malam, demi ”kemajuan bangsa”? Sementara suami harus menjaga anak-anak bersama pembantu di rumah, menunggui istrinya pulang dari raker berhari-hari di luar kota?” tulis Dr. Dinar Kania.

Seorang Muslim pasti memiliki cara pandang yang khas terhadap “martabat perempuan”. Cara pandang muslim berlandaskan pada prinsip keadilan dalam Islam. Islam mengajarkan pemeluknya agar berperilaku adil kepada seluruh umat manusia tanpa memandang harta, kedudukan atau jenis kelamin. Allah swt telah menegaskan, bahwa” …. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Dengan ayat ini, ajaran Islam secara tegas menetapkan bahwa nilai kemuliaan seorang manusia diukur dari iman, ketinggian akhlak dan perbuatan-perbuatan baiknya.

Menyimak kekeliruan dan ketidakberadaban kontes-kontes kecantikan, kita berharap tidak ada orang Muslim yang ikut-ikutan mendukung berbagai jenis kontes kecantikan, semisal kontes Miss World. Jadi, kontes Miss World bukanlah hanya soal baju, tapi soal penetapan dan pemberian penghargaan martabat perempuan yang keliru. Tidaklah tepat jika ada pemimpin daerah yang menyetujui acara semacam itu, hanya karena pada kontes kali ini tidak lagi diperagakan parade bikini. Andaikan kontes Miss World menggunakan mukena sekali pun, kontes semacam itu tetap keliru, sebab martabat utama perempuan dinilai berdasarkan unsur utama kecantikan fisiknya. Kontes semacam ini sudah salah menetapkan martabat perempuan.

Tulisan ini hanyalah sekedar bentuk taushiyah kepada sesama Muslim, yang masih terlibat dalam acara Miss World dan sejenisnya. Semoga mereka menyadari kekeliruannya. Cobalah bayangkan, andaikan di Hari Akhir nanti, penyelenggara acara kontes atau pemimpin daerah yang menyetujui acara itu, ditanya oleh Allah SWT! Apa jawab mereka? Apakah mereka merasa telah beramal shalih, karena berhasil mendatangkan devisa? Apa bedanya dengan meraih penghasilan dari pajak pelacuran dan perjudian?

Rasulullah bersabda: “Dua golongan ahli neraka yang belum pernah saya lihat sebelumnya: para lelaki yang membawa cambuk di tangannya seperti ekor sapi yang digunakan untuk mencambuk manusia, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, sesat dan menyesatkan. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak mencium baunya.” (HR Muslim).

Sebagai pengemban perjuangan risalah kenabian, tugas kita hanyalah menyampaikan titah baginda Rasul saw tersebut kepada umat manusia, apa pun agamanya. Semoga bermanfaat bagi yang mau mengikuti petunjuk-Nya.*

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Sumber Klik disini

Cerdas dalam Menjalani Hidup

0

Cerdas menjalani Hidup

Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahirrabil ‘alamin, shalatu wassallam ‘ala Rasulullah, amma ba’du

Hidup silih berganti, roda kehidupan akan selalu sama sampai waktu yg diKehendaki Allah SWT..dimulai saat manusia lahir menjadi bayi, menapaki masa kehidupannya menjadi balita kemudian remaja, lalu menjadi dewasa dan akhirnya menjumpai kematian. Terlepas dari intrik kehidupan yang menggoda nan fana, roda kehidupan selalu sama. Tidak ada yang dapat merubahnya, krn itu merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan sebagai takdir aam (umum) Allah terhadap manusia.

Di mana pun kalian berada niscaya maut akan menjumpai kalian, meskipun kalian berada di dalam benteng kokoh yang menjulang.” [Q.S. An-Nisa`:78]

Dalam Kehidupan, khususnya pendidikan barat, kita akan jumpai adanya suatu konsep keseimbangan dalam motivasi psikologi manusia, yaitu reward dan punishment. Reward sebagai bentuk harapan bagi seseorang agar tidak putus asa menghadapi sesuatu tantangan, dan Punishment sebagai stimulasi untuk mencegah kegagalan.

Sebenarnya Islam sudah menerapkan kedua hal ini sejak lama..walaupun begitu tentunya sebagai Ad Dien, Islam mempunyai suatu konsep yang hakiki dikarenakan Allah sebagai Rabb an Nas(Tuhannya Manusia) memiliki Pengetahuan Total akan mahluq yg diciptanya.. Seperti apakah konsep tersebut dalam Islam?

Mari kita simak Firman Allah berikut ini:

(QS: Al Kahfi 56) Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan

(QS: Saba 28) Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

(QS: Al Furqon 1) Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam

(QS: Al Baqorah 119) Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.

(QS: Al A’raaf 188) Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”

(QS: Al Isra 105) Dan Kami turunkan (Al Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

(QS: Al Fath 8) Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan

Dan banyak lagi ayat2 serupa yang menunjukkan bahwa basyiran (kabar gembira) akan diberikan kepada siapapun juga yg mengimani Allah dan rukun Iman lainnya serta mengikuti perintah dan laranganNya; sebaliknya nadziran (peringatan) pasti datang bagi yang mengingkarinya..

Dalam konsep ketauhidan Islam kita fahami bahwa siapapun yang meninggal dengan keimanan yang tidak batal, maka akan dimasukkan kedalam surga, walaupun imannya hanya sebesar biji dzarrah, dan terkadang harus mondok di neraka dulu..yang 1harinya berkadar 1000tahun dunia..bayangkan bila kita divonis 1000thn akhirat..sblm kita diKehendaki Allah untuk masuk Surga..artinya kita harus spent (1000*365)+(1000) = naudzubillahimindzalik…

Dari Anas radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat sya’irah. Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat burrah. Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat dzarrah.”(HR Bukhari no 44)

Bedanya kita dg Agama lain adalah, tidak semua dari kita akan langsung masuk surga.. Ada yang langsung masuk surga ada yang tidak..

Karena belum tentu amalan kita diterima ya teman2…sadarlah..apalagipermohonan ampun kita dimana baju dan konsumsi kita masih terdapat bahan2 haram…

Masih percaya dirikah kalian amalan2 dan permohonan2 antum semua diterima…?

Kita diajarkan oleh Rasulullah untuk banyak mengingat kematian, karena hanya mengingat akan kematian dg sungguh2 lah yg dpt memutuskan kita dari keduniawian

Dengan jaminan-jaminan seperti itu maka didalam Islam terdapat penekanan akan kematian..suatu konsep sangat brilian dari Rasulullah yang bersumber dr Al Haq wal Alim yang mengetahui relung psikologi manusia yang terdalam..yaitu drpd banyak bermimpi, kita dianjurkan untuk banyak mengingat kematian..

Perbanyaklah untuk mengingat pemotong kelezatan, yakni kematian.” [H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa`i, dan Ibnu Majah dari shahabat Abu Hurairah z, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Jangan sampai kita termasuk orang2 yg difirmankan Allah dalam ayat ini..

“Hingga ketika datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia pun mengatakan, ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku. Agar aku beramal shalih pada apa yang aku tinggalkan.’ ‘Sekali-kali tidak, hal itu hanyalah sebuah kata yang dia katakan.’ Dan di belakang mereka ada pembatas hingga hari dibangkitkan.” [Q.S. Al-Mu`minun:99-100].

Dan Rasulullah memberitahu siapakah orang Mukmin yg paling cerdas, yaitu yg paling banyak mengingat kematian..

Dalam suatu hadith,
Rasulullah ` pernah ditanya oleh para shahabat, “Wahai Rasulullah `, siapakah mukmin yang paling cerdas?” Beliau ` pun menjawab yang artinya, “Yang paling banyak mengingat mati dan paling bagus persiapannya untuk itu. Merekalah orang yang paling cerdas.” [H.R. Ibnu Majah dari shahabat Ibnu Umar, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani ]

Sebagai manusia kenapa kita dikatakan cerdas bila sering2 mengingat kematian?

Tentunya kita harus memiliki sebuah alat untuk memahami kematian, yah alat tersebut diberikan oleh Allah sejak kita lahir, yaitu Akal dan Qalb

Akal seyogyanya digunakan oleh manusia untuk mencermati, memahami, merenungkan dan mencerna ayat2 Allah karena hakikat kehidupan tidak lain hanyalah untuk beribadah dan menyembah kepada Allah Ta’ala QS: Adz Dzariyyat 56.
Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka mengabdi (beribadah hanya) kepadaku.

Oleh karena itu, Muslim yang Mu’min sejatinya menggunakan akal untuk mewadahi wahyu, mencerna kehendaknya, dan mengimplementasikan nilai wahyu dalam relung kehidupannya..

Dengan akal dan qalbu, manusia gunakan untuk mengingat kematian dengan penuh kecemasan..karena pada hakikatnya banyak sekali yang kita lakukan dosa pada hidup ini, yang kita ketahui maupun yang kita tidak ketahui..lantas bagaimana nanti kita menghadapi Allah di Alam Barzakh, di alam yg mempunyai dinding tebal tak tergoyahkan bagi siapapun yang ingin kembali ke dunia manusia..

Dengan akal dan qalbu, kita merenungi kematian tersebut apakah kita sanggup..apakah kita mampu..apakah kita yakin bahwa kita akan selamat sewaktu ditanyakan “Man Rabbuka? (Siapakah Tuhanmu)?” Padahal nanti bukan lisan kita yg akan menjawab namun semua dari anggota badan kita yg akan menjawab siapakah Tuhan kita, apakah Allah ataukah yang lain..karena tidak mungkin kita bisa dg yakin mengatakan Allah saat nanti bila pada kehidupan dunia kita tidak meyakiniNya sepenuhnya..

Kita yang masih lebih takut kepada atasan kita yang meminta kita bermaksiat drpd kita takut kepada Allah..

Kita yang masih lebih hormat kepada Presiden RI drpd kita ke masjid dg pakaian terbaik kita..

Kita yang masih sombong dalam usaha dan jerih payah kita padahal itu semua karena Allah..

Kita yang masih takut akan memberikan yang halal krn takut tidak terjual dg baik..tidak percaya kepada al Ghany dan ar Razzaq!!

Masyaallah banyaknya kelakuan dan perbuatan kita didunia yg tidak mencerminkan keyakinan kita akan adanya Allah..

Akan adanya Rabbul ‘alamin, Rabb Semesta Alam yang mengatur dan menberikan rezeki ke pada mahluq2Nya

Akan adanya Rabb al Muntaqim yang Maha Penyiksa bagi semua yang mengingkarinya

Sadarlah wahai manusia, apakah kalian masih yakin dapat menjawab pertanyaan malaikat kelak di alam qubur?!

Para salafush shalih dahulu…takut akan amalnya tidak diterima, ya teman2…
Tapi kita sepertinya sudah yakin dengan diampuninya dosa kita..

Dari sebuah perenungan yang mendalam itulah kita menjadi pesimis akan kehidupan ini..kita akan mempunyai pemikiran bahwa amal kita masih belum cukup…sedekah kita masih kurang banyak..ibadah kita hanya sedikit..puasa kita belum sempurna..apalagi perjalanan kematian kelak..sungguh tidak bisa dibayangkan siksaan yang akan menanti kita..
oleh karenanya pada hakikatnya, orang2 beriman yg menggunakan akal dan qalbunya dalam mencerna ayat2 Allah, ia akan merasa pesimis dg amalnya sehingga termotivasi secara optimis untuk menjadi pribadi Hamba Allah yang lebih baik lagi..

Renungkanlah kembali hadith berikut ini:

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Disarankan juga mengingat kematian sewaktu shalat..agar kita dapat khusyu menghadap ke pada Allah..

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

Mudah2an dengan ini, kita dapat menyikapi hidup dengan secerdas2nya, dan dapat melewati semua hal2 yg tidak kita inginkan dengan keyakinan dan motivasi yang kuat kepada Allah..

Dalam Kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim al Jauziyyah mengatakan sikap Mukmin dalam menyikapi apa yg tidak diinginkan:

– Pandangannya ttg Tauhid, yaitu apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya pasti tidak akan terjadi
– Pandangannya ttg keadilan Allah. Bahwa hukum2Nya dan keputusan2Nya adalah adil
– Pandangannya ttg hikmah Allah. Bahwa hikmah kebijaksanaan Allah menuntut sesuatu hal. Dan Allah tidak menetapkan serta mentakdirkannya dalam keadaan sia-sia

Izinkan saya untuk menutup materi ini dg sebuah ayat yg diulang2 pada surat Ar Rahman, agar kita dapat menyikapi hidup dengan lebih baik lg dr sekarang dan tidak menyesal kelak

QS Ar Rahman ayat 77

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Barakallahu fikum

Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat bagi kita semua

I’tikaf

0
The Night of Lailatul Qadar

The Night of Lailatul Qadar

I’tikaf

Alhamdulillah, shalawat dan salam kpd Rasulullah SAW

Kata i’tikaf berasal dari ‘akafa alaihi’, artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i’tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar’iyah kata i’tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Selama hari-hari itu, seorang yang melakukan i’tikaf (mu’takif) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i’tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya.

Yang dilakukan pada saat i’tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Makna taqrrub adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beragam rangkaian ibadah

Hukum I’tikaf adalah Sunnah Muakkadah (sangat dianjurkan) sesuai hadith Rasulullah SAW

I’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah amal kebajikan yang senantiasa dijaga oleh Rasulullah SAW. Pada tahun beliau wafat, beliau bahkan beri’tikaf selama dua puluh hari. Tidak heran apabila para ulama menjelaskan bahwa hokum I’tikaf adalah sunnah muakkadah. I’tikaf sudah semestinya menjadi amalan andalan orang-orang shalih, sebagai satu sarana utama untuk meraih lailatul qadar.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ .

Dari Aisyah RA berkata: “Nabi SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, sampai Allah SWT mewafatkan beliau. Sepeninggal beliau, istri-istri beliau juga melakukan I’tikaf.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ، فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَه

Siapa saja di antara kalian yang ingin melakukan i’tikaf, beri’tikaflah. Lalu orang-orang pun melakukan i’tikaf bersama beliau (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, Malik dan Ahmad).

Dimanakah kita dapat beritikaf?

I’tikaf hanya di Masjid

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Janganlah kalian menggauli mereka (para istri), sedangkan kamu beri’tikaf di masjid (QS al-Baqarah [02]: 187)

Ibn Hajar menyatakan, “Para ulama sepakat tentang masjid dijadikan sebagai syarat untuk melakukan i’tikaf, kecuali Muhammad bin Lubabah, pengikut mazhab Maliki. Dia membolehkan i’tikaf di mana saja. Mazhab Hanafi membolehkan perempuan untuk i’tikaf di masjid rumahnya, yaitu tempat yang digunakan untuk shalat di rumah. Hal yang sama juga dinyatakan dalam Qawl Qadim Imam Syafii. Dalam satu pendapat pengikut mazhab Syafii dan Maliki, pria dan wanita dibolehkan untuk melakukan i’tikaf di rumah, karena ibadah sunnah lebih baik dilakukan di rumah. Adapun Abu Hanifah dan Ahmad menegaskan, bahwa i’tikaf secara khusus harus dilakukan di masjid yang digunakan shalat. Abu Yusuf menyatakan, bahwa itu hanya khusus untuk i’tikaf wajib, sedangkan i’tikaf sunnah bisa di masjid mana saja. Jumhur ulama secara umum menyatakan, i’tikaf bisa dilakukan di setiap masjid, kecuali orang yang wajib melaksanakan shalat Jumat. Imam Syafii menyatakan, bahwa lebih disukai dikerjakan di masjid Jami’. Imam Malik, bahkan menjadikan ini sebagai syarat i’tikaf. Sebab, keduanya menyatakan, bahwa i’tikaf ini dianggap terputus dengan mengerjakan shalat Jumat.”(Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari)

Lama beri’tikaf adalah boleh sesaat boleh semalam krn para ulama pun ikhtilaf dalam hal ini, pendapat ini adalah pendapat ibn Hajar al Asqalan dalam kitab Fathul Bari, 4/272

Bolehkah i’tikaf bagi kaum wanita?

Boleh dengan izin suami (bila bersuami) dan aman dari fitnah (aman tempat dan perjalanannya)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”(HR Bukhari 2041)

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى، ثُمَّ اعْتَكِفُ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

Sesungguhnya Nabi saw. telah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir ulan Ramadhan hingga Allah SWT mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Dari Aisyah RA, ia menceritakan, bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masa-masa i’tikaf Beliau di masjid pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, dia berbicara sejenak dengan Beliau lalu dia berdiri untuk pulang. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdiri untuk mengantarnya hingga ketika sampai di pintu masjid yang berhadapan dengan pintu rumah Ummu Salamah, ada dua orang dari kaum Anshar yang lewat lalu keduanya memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada keduanya: “Kalian berdua jangan tergesa-gesa. Sungguh wanita ini adalah Shafiyah binti Huyay”. Maka keduanya berkata: “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”. Kejadian ini menjadikan berat bagi keduanya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya setan mendatangi manusia lewat aliran darah dan aku khawatir setan telah memasukkan sesuatu pada hati kalian berdua.” (HR. Al-Bukhari no. 1894)

Kapankah i’tikaf dibulan Ramadhan?

Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radiyallaahu ‘anha)

Kapan batalnya i’tikaf?

Bila keluar masjid tanpa ada udzur syar’i (kebutuhan darurat)

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila beri’tikaf, maka dia mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisirnya (dari luar masjid), dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya.” (HR. Muslim no. 445)

Jima’ dengan istri

Spt pada surat Al Baqarah ayat 187

Bolehkah wanita haid i’tikaf di masjid?

Mayoritas ulama mengharamkannya, berdasarkan hadith berikut ini:

“Dulu para wanita melakukan i’tikaf. Apabila mereka haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk keluar dari masjid.” (riwayat ini disebutkan Ibn Qudamah dalam al-Mughni 3:206 dan beliau menyatakan: Diriwayatkan oleh Abu Hafs al-Akbari. Ibnu Muflih dalam al-Furu’ 3:176 juga menyebutkan riwayat ini dan beliau nisbahkan sebagai riwayat Ibnu Batthah. Kata Ibnu Muflih: “Sanadnya baik”).

Adapun yang membolehkan adalah madzhab Dzhahiriah spt ibn Hazm dalam kitabnya al Muhalla

Namun dengan kondisi di Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi’iyyah maka saya menyarankan u stay at home bagi wanita haid u menghindari hal2 yg tdk diinginkan

Lalu apa yang dibolehkan selama mendapatkan Lailatul Qadar dirumah:

– tadarrus tanpa memegang mushaf (ulama ikhtilaf)
– berdzikir
– berdoa
– dllnya

Kapan dimulainya i’tikaf:

Ulama berbeda pendapat, sehingga pilihannya adalah sbb:

– Maghrib ke setelah waktu Shubuh
– Shubuh ke Shubuh
– Setelah taraweh

Hal2 yg dibolehkan sewaktu beri’tikaf:

– Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.

– Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.
Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.

– Mandi dan berwudhu di masjid.

– Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Kegiatan2 pada waktu i’tikaf:

– Shalat Sunnah
– Membaca Al Qur’an
– Berdoa
– Berdzikir (wirid)
– Bershalawat pd Nabi
– Mengkaji agama Islam (ref: Fiqh Sunnah)

Note dr saya:
Carilah masjid yang convenience bagi antum sekalian, yang aman bagi wanita dan nyaman bagi semua. Disarankan tidak perlu jauh krn akan menyulitkan kita, karena yg dikejar adalah ibadahnya ^^

Wallahu a’lam

Demikian i’tikaf pada bulan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi kita semua, insyaallah

Malam Lailatul Qadr

0

Malam Lailatul Qadar

Bismillah alhamdulillah
Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya dan siapapun yg setia menegakkan ajaranNya sampai akhir zaman kelak, wa ba’ad

Kita panjatkan syukur yang sebesar2nya kepada Allah SWT, yg dengan RahmatNya kita dapat beribadah pada bulan suci Ramadhan ini.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, mendekati akhir minggu ketiga ini kita umat Islam sedang mempersiapkan jiwa dan badan untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.

Malam yg dimana lebih baik daripada 1000bulan..malam yg dimana Rasulullah, Sahabat lalu para salafush shalih pun mencarinya. Lantas seperti apakah malam tersebut?

Allah berFirman dalam surat Al Qadar

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhân: 3)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Disebut malam Lailatul Qadar dan kenapa lebih baik drpd 1000bulan, karena pada malam tersebut Allah akan menentukan (qadar) rezeki, siapa yang hidup dan mati, yang selamat dan yang celaka, yang bahagia dan yang sengsara, yang kaya dan melarat, yang mulia dan yang terhina, musim kemarau dan musim panen serta segala yang Allah inginkan pada tahun itu, kemudian mengabarkannya kepada malaikat untuk mengeksekusinya, sebagaimana firmanNya:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhân: 4)

Pantaslah malam itu adalah malam yg agung, krn takdir setahun dan khusus kita akan ditentukan saat itu, oleh karenanya sebaiknya kita banyak beramal shalih agar kita mendapatkan malam tersebut

Bahkan keagungan dan kemuliaan malam tersebut direkam dengan peristiwa agung sebagaimana peristiwa turunnya Al Qur’an secara sekaligus dari Lauh al Mahfuz ke langit pertama (Bait al Izzah)

Ibnu Abbas RA mengatakan,
“Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”

Malam ini yg sangat mulia, janganlah sampai kita melewatkannya barang sedetik pun, karena belum tentu kita dapat berjumpa lagi dengannya..

Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Kapankah malam tersebut:

Al-Hafidh Ibnul Hajar rahimahullah mengatakan tentang penentuan malamnya, “Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan Lailatul Qadar dengan perbedaan yang sangat banyak. Setelah kami himpun, ternyata pendapat mereka mencapai lebih dari empat puluh pendapat.” Kemudian beliau rahimahullah satu persatu dari pendapat tersebut beserta dalil-dalilnya. (Lihat Fathul Baari: IV/309)

– Dibulan Ramadhan

– Sepuluh hari terakhir Ramadhan pada malam2 ganjil, berdasarkan hadith Rasulullah dibawah ini:

“Upayakan malam Lailatul Qodr pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.”
[HR. Al-Bukhari no. 2017]

– 7 Malam terakhir
Sekalipun kondisi lemah pun, Rasulullah masih menganjurkan mencarinya di 7 malam terakhir pada bulan Ramadhan:
“Nantikanlah Lailatul Qodr pada sepuluh hari terakhir, jika lemah dan tidak sanggup, jangan terluput 7 hari yang tersisa.” [HR Muslim no.2822 dan Ahmad II/44,75]

– malam ke 27 pada bulan Ramadhan berdasarkan sahabat Ubay bin Ka’ab dan Muawiyah bin Sofyan RA,

“Demi Allah, sunguh aku mengetahuinya dan kebanyakan pengetahuanku bahwa dia adalah malam yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam perintahkan kami untuk bangun (shalat) padanya, yaitu malam ke 27.” (HR. Muslim, no. 762)

– malam ke 21, sebagaimana dijelaskan dalam hadith berikut ini:

Dari Abu Sa’id al Khudri RA, Rasulullah bersabda “Sungguh aku telah diperlihatkan Lailatul Qadar, kemudian terlupakan olehku. Oleh sebab itu, carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur.”

Abu Sa’id berkata: “Hujan turun pada malam ke 21, hingga air mengalir menerpa tempat shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seusai shalat aku melihat wajah beliau basah terkena lumpur. (HR Bukhari dan Muslim)

– Sampai hari kiamat:
“Wahai Rasulullah, apakah malam lailatul qodr terjadi ketika ada nabi, dan jika wafat malam itu diangkat (ditiadakan)?”
“Tidak, bahkan ia terjadi sampai hari kiamat.” Jawab Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- .
[HR. Ahmad dan selainnya. Dan haditsnya sahih]

– Malam2 genap:
Dari Ibnu Abbas RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam yang terakhir, yaitu setelah sembilan malam berlalu atau pada tujuh malam yang tersisa.” Dari Khalid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata: “Carilah lailatul qadar pada malam kedua puluh empat!” (HR. Bukhari no. 2024, Abu Daud no. 1173, dan Ahmad no. 1948)

Dari Bilal RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Lailatul qadar adalah malam kedua puluh empat.” (HR. Ahmad no. 2765 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 1/360. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid, 3/176, menyatakan hadits ini hasan)

Kesimpulannya adalah:

Malam Lailatul qadar akan turun pada malam2 ganjil dan genap di 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai hari kiamat, dan dianjurkan u senantiasa beribadah pada 10 hari terakhir agar hikmahnya kita senantiasa bermunajat dan bersimpuh diri untuk mendapatkan kebaikan kepada ilahi Rabbi..yang mempunyai cahaya di atas cahaya..agar tidak berselisih mengenai malam tersebut.

“Sesungguhnya aku telah keluar untuk memberitahu kepada kalian (kapan Lailatul Qadar itu). Tetapi (di tengah jalan) aku bertemu dengan fulan dan fulan yang sedang bertengkar, sehingga aku terlupa kapan malam itu. Semoga ini lebih baik bagi kalian. Oleh karena itu, carilah malam tersebut pada (malam) kesembilan, ketujuh, dan kelima (dari sepuluh hari terakhir).” (HR Bukhari)

Ritual khusus pada malam pencarian malam Lailatul Qadar:

– Shalat Malam

– Mengkaji ajaran Islam

– Tadarrus

– Berdoa:

1. Pengampunan: ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Imam al-Tirmidzi dan al-Hakim menshahihkannya)

2. Kebaikan dunia akhirat: Robbana attinna dst..

3. Doa2 lainnya yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah

4. Doa sendiri dg penuh lirih

Tanda- tanda malam yang mendapatkan Malam Lailatul Qadar:

1. Kuatnya cahaya dan sinar pada malam itu, tanda ini ketika hadir tidak dirasakan kecuali oleh orang yang berada di daratan dan jauh dari cahaya.
Thama’ninah (tenang), maksudnya ketenangan hati dan lapangnya dada seorang mukmin. Dia mendapatkan ketenanangan dan ketentraman serta lega dada pada malam itu lebih banyak dari yang didapatkannya pada malam-malam selainnya.
Angin bertiup tenang, maksudnya tidak bertiup kencang dan gemuruh, bahkan udara pada malam itu terasa sejuk.
Terkadang manusia bisa bermimpi melihat Allah pada malam itu sebagaimana yang dialami sebagian sahabat radliyallah ‘anhum.
Orang yang shalat mendapatkan kenikmatan yang lebih dalam shalatnya dibandingkan malam-malam selainnya.

Dari Ubadah bin Shamit RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya tanda lailatul qadar adalah ia sebuah malam yang cerah bening dan bersinar terang, seakan-akan ada bulan yang terbit. Ia adalah malam yang tenang, tidak dingin dan tidak panas. Pada malam itu sampai datangnya waktu shubuh, panah bintang (komet) tidak halal untuk muncul. Tanda yang lain adalah matahari pada keesokan paginya terbit sempurna namun sinarnya tidak terik membakar, bagaikan bulan pada malam purnama, padau hari itu tidak halal bagi setan untuk muncul bersama matahari.” (HR. Ahmad, 5/324, Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin no. 1119, dan Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah no. 342. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid,3/175, menulis: Seluruh perawinya tsiqah)

2. Matahari akan terbit pada pagi harinya tidak membuat silau, sinarnya bersih tidak seperti hari-hari biasa. Hal itu ditunjukkan oleh hadits Ubai bin Ka’b radliyallah ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan kepada kami: “Matahari terbit pada hari itu tidak membuat silau.” (HR. Muslim)

Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)

Maksudnya adalah hal itu terjadi karena banyaknya Malaikat pada malam itu yang turun naik ke langit sehingga cahaya terik matahari tertutupi oleh sayap-sayap dan tubuh mereka.

3. Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

Sufyan ats-Tsauri -rahimahullah- berkata:
“Berdoa pada malam hari lebih aku sukai dari shalat, dan doa di malam Lailatul Qodr masyhur dan terkenal di antara para sahabat. Hendaknya engkau bersungguh-sungguh wahai saudara dan saudariku yang mulia untuk memilih doa-doa simpel yang terdapat di dalam al-Quran, yang dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasalam- berdoa dengannya atau menganjurkannya. Perlu kita semua tahu bahwa tidak ada doa khusus pada malam Lailatul Qodr yang tidak dibaca selain ia saja, akan tetapi setiap muslim berdoa dengan yang sesuai keadaannya. Dari doa yang terbaik yang dipanjatkan pada malam yang penuh berkah ini adalah apa yang dikeluarkan oleh an-Nasai dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah dari Aisyah -radiallahu’anha- dia berkata:
“Seandainya aku tahu kapan malam Lailatul Qodr itu, niscaya doa yang banyak aku panjatkan adalah meminta pengampunan dan keafiatan.”

An-Nawawi berkata:
“Disukai memperbanyak doa bagi kepentingan kaum muslimin pada malam itu, dan ini adalah syiar orang-orang saleh, dan hamba-hamba-Nya yang mengetahui.”

Demikian bahasan tuntas tentang Lailatul Qadar, semoga materi ini dapat meningkatkan awareness kita untuk mencari dan mendapat malam tsb pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat, insyaallah

Penistaan Martabat Perempuan

0

Oleh: Dr. Adian Husaini

LAZIMNYA, perempuan biasanya ingin tampil cantik, dan senang dipuji kecantikannya. Sementara laki-laki lazimnya senang memandang kecantikan perempuan. Keinginan naluriah itu ada pada manusia. Rasulullah saw pun memberitahukan, bahwa perempuan dikawini karena empat hal: kecantikannya, hartanya, nasabnya, dan juga agamanya. Nabi memerintahkan untuk mengutamakan faktor agama, jika rumah tangganya mau selamat. Toh, faktor cantik tidak dilarang untuk dijadikan sebagai pertimbangan. Sebab, itu memang naluriah laki-laki normal.

Al-Quran juga menjelaskan, salah satu syahwat dunia adalah kecintaan kepada perempuan, anak-anak, harta perniagaan,emas dan perak, sawah ladang, dan peternakan. (QS 3:14).

Islam bukanlah agama yang membunuh naluri manusia, sehingga melarang pemeluknya untuk menikah dengan alasan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tapi, Islam juga bukan agama yang memerintahkan umatnya untuk mengumbar nafsu syahwatnya. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Islam menunjung tinggi prinsip keadilan.Islam tidak membunuh hawa nafsu, tetapi mengendalikan dan mengatur hawa nafsu, sesuai dengan konsep Sang Pencipta, agar manusia meraih kebahagiaan (sa’adah); bukan sekedar meraih kepuasan syahwat jasmaniah.

Seperti telah kita bahas dalam CAP-359, peradaban Barat yang mencengkeram pemikiran manusia modern saat ini, adalah peradaban yang secara ekstrim memuja ‘materi’.

Unsur-unsur fisik dieksploitasi untuk kepuasan syahwat secara berlebihan. Sementara unsur “jiwa” (nafs) diabaikan, dan diserahkan kepada kendali syahwat. Peradaban Barat modern adalah peradaban yang memuja “kekuasaan, kekayaan, kecantikan, dan kepopuleran” (power, wealth, beauty, popularity). Dalam posisi seperti inilah, aspek kecantikan perempuan mendapatkan tempatnya. Para desainer dan juru gambar berusaha keras bagaimana mengeksploitasi dan mendandani tubuh perempuan agar “memuaskan”, menarik, dan membangkitkan syahwat laki-laki. Para manajer eksploitasi syahwat itu tahu persis, bagian-bagian mana dati tubuh perempuan yang harus dibuka dan bagian mana yang harus ditutup, agar – kata mereka – tampak indah, cantik, dan menarik.

Dunia industri kapitalis yang tidak peduli halal-haram pun tak lupa memanfaatkan (mengeksploitasi) tubuh perempuan agar menjadi daya tarik konsumen, meskipun terkadang, tak ada hubungan antara produk dan tubuh perempuan. Misal, ditampilkannya perempuan seksi untuk mengiklankan produk ban dan cat pengkilat mobil. Tentu, perancang iklan itu paham betul, bahwa tampilnya perempuan cantik dengan pakaian ala kadarnya bisa membangkitkan minat (syahwat) pembeli.

Mantan Menteri P&K, Dr.Daoed Joesoef memberikan kritik keras terhadap kontes-kontes kecantikan, dengan menyebutkan bahwa: ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah.” (Dikutip dari buku “Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran” (Jakarta: Kompas, 2006).

Itulah sebenarnya tujuan utama kegiatan kontes kecantikan. Yakni, eksploitasi tubuh perempuan untuk keuntungan bisnis tertentu. Ironisnya, kegiatan bisnis ini dikemas dengan jargon-jargon sosial bahkan pendidikan. Seolah-olah, kontes kecantikan perempuan adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Padahal, menurut Daoed Joesoef, semua itu adalah bohong belaka. Praktik kontes perempuan lebih merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Pakaian yang ala kadarnya – biasanya berupa bikini dan sejenisnya – disyaratkan untuk dikenakan pada sesi tertentu agar tubuh kontestan dapat dilihat dan diukur dengan jelas.

Kata Daoed Joesoef: ”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang… setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”

Itu pendapat Dr. Daoed Joesoef yang dikenal sebagai salah satu tokoh sekuler di Indonesia. Jika tokoh sekuler saja berani bersikap tegas, seyogyanya para tokoh Islam – apalagi yang sedang memegang kendali kekuasaan – berani bersikap lebih tegas lagi. Substansi dari kontes kecantikan yang mengumbar dan mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan adalah pola pikir dan kegiatan yang keliru. Dalam istilah Islam, itu disebut hal yang batil dan mungkar.

Kata Rasulullah, jika seorang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan ‘tangan’-nya; jika tidak mampu, dengan lisan (ucapannnya); dan jika tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hatinya. Tapi, ingkar dengan hati, tidak rela dan benci terhadap kemungkaran, adalah selemah-lemahnya iman.

Tentu saja orang bisa melihat pada sisi yang berbeda. Tergantung pada cara pandangnya terhadap realitas (worldview). Seorang yang berpaham materialisme dan sekulerisme tidak mempersoalkan masalah moral terhadap kontes semacam ini. Haram-halal, berdosa atau berpahala, ibadah atau maksiat, bukanlah hal penting bagi kaum materialis. Bagi mereka yang terpenting adalah kelimpahan materi, ketenaran, dan puja-pujian terhadap kecantikannya.
Cobalah renungkan, betapa kasihannya orang yang terjangkit pemikiran semacam ini. Ia salah. Ia tanpa sadar telah dikendalikan oleh setan untuk mengumbar hawa nafsunya. Hawa nafsu telah dijadikan Tuhan. Orang seperti ini, sudah tertutup mata, telinga, dan hatinya dari kebenaran. (QS 45:23).

Al-Quran menyebutkan, bahwa orang yang merasa benar dan merasa telah berbuat baik, padahal amalnya sesat dan salah, adalah manusia yang paling merugi amalnya. (QS 18:103-104).

Kecantikan bagi seorang perempuan adalah karunia dan sekaligus ujian Allah bagi si perempuan. Harusnya, kecantikannya digunakan untuk beribadah dan dakwah. Ironisnya, biasa kita saksikan, perempuan-perempuan yang terjebak oleh bujuk rayu setan agar mengeksploitasi kecantikan dan kemolekan tubuhnya untuk menggoncang-goncang syahwat lawan jenisnya. Dan itu tentu ada imbalan yang menggiurkan, berupa kemikmatan hidup duniawi.

Untuk tampil cantik – tepatnya untuk dikatakan cantik – sebagian perempuan mau melakukan tindakan hina dengan membuka auratnya. Padahal, jika dirnungkan dengan hati tulus ikhlas, jika jutaan orang sudah memuji-muji kecantikannya, apakah si perempuan akan bahagia?

Seorang yang menggantungkan hidupnya pada pujian manusia, tidaklah akan pernah meraih bahagia sejati. Segala puji hanya layak dipanjatkan kepada Allah. Bukan manusia yang patut dipuji degan melupakan Allah. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Sebab. kecantikan, ketampanan, ketenaran, kekayaan, kekuasaan, dapat diraih seseorang hanya karena atas ijin dan karunia Allah. Jika Allah menghendaki, dalam sekejap, semua kecantikan yang dipuja-puja itu bisa sirna.

Si empunya kecantikan sepatutnya mau berpikir, bahwa tak lama lagi, kecantikannya akan pudar . Kecantikan yang diumbar dan ‘dijualnya’ akan sirna. Puji-pujian itu pun akan hilang. Bersamaan dengan itu, muncullah perempuan-perempuan yang lebih cantik dan lebih menarik dari dia. Sungguh kasihan, jika seorang menggantungkan kebahagiannya pada pujian orang. Sebab, itu tak kan diraihnya. Pujian manusia bisa buat puas sementara waktu. Bukan kebahagiaan yang hakiki yang hanya bisa diraih oleh orang taqwa.

Martabat perempuan

Jurnal Islamia-Republika edisi 18 April 2013 menurunkan laporan utama tentang martabat perempuan dalam pandangan Islam. Dalam artikelnya, “Teologi Perempuan dalam Islam”, Fahmi Salim – Wasekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) — mengungkapkan kisah seorang sahabat perempuan bernama Asma’ binti Yazid yang mengajukan aspirasi kaumnya kepada Rasulullah saw. Di zaman “pemaksaan paham kesetaraan gender” saat ini, aspirasi Asma’ perlu kita renungkan.

Ketika itu, Asma’ mendatangi Rasulullah, saat beliau sedang berkumpul dengan sejumlah sahabat laki-laki. Berikut aspirasi kepada Rasulullah: “Demi Allah yang menjadikan ayah dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh muslimah. Tiada satu pun diantara mereka saat ini kecuali berpikiran yang sama dengan aku. Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggui rumah kalian para suami, dan yang mengandungi anak-anak kalian. Sementara kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjamaah, shalat jumat, menengok orang sakit, mengantar jenazah, bisa haji berulang-ulang, dan jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji, umrah atau berjihad, maka kami yang jaga harta kalian, menjahit baju kalian dan mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua kebaikan itu?”

Rasul melihat-lihat para sahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian dengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya lebih baik dari Asma’?”

“Tidak wahai Rasul,” jawab sahabat.

Beliau lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi pahalanya setara dengan apa yang kalian tuntut”. Asma’ lalu pergi keluar seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan. Kisah diatas direkam oleh Abu Nu’aim al-Asbahani dalam kitab Ma’rifat al-Shahabah (Vol.22/420).

Aspirasi Asma’ berbeda secara substansial dengan aspirasi kaum pegiat kesetaraan gender saat ini. Asma’ tidak menuntut kesetaraan secara nominal; bahwa perempuan dan laki-laki harus sama-sama aktif di ruang publik untuk kemajuan pembangunan. Perempuan yang aktif mendidik anak-anaknya di rumah dengan sungguh-sungguh tidak dianggap telah berpartisipasi dalam pembangunan. Yang dituntut oleh Asma’ adalah kesetaraan substansial, bukan kesetaraan nominal. Peran bisa berbeda. Tapi,peluang untuk meraih pahala dari Allah adalah sama besarnya.

Karena itulah, setelah Rasulullah memberitahukan bahwa istri yang taat dan diridhai suami serta menyertai suaminya, mendapatkan pahala yang sama dengan pahala suaminya, maka Asma’ bertakbir kegirangan. Asma’ tidak menuntut peran yang sama dengan laki-laki. Yang dituntut adalah pahala dari Allah. Sungguh berbeda tuntutan Asma’ dengan aktivis gender yang tidak menggunakan logika pahala dan ibadah saat merumuskan paham “kesetaraan gender” sekuler.

Akibat adanya kekeliruan dalam menggunakan tolok ukur “martabat perempuan” maka pemerintah dan DPR telah sepakat untuk menetapkan angka minimal untuk pengurus perempuan dalam partai politik adalah 30 persen. Peneliti INSISTS, Dr. Dinar Dewi Kania dalam artikelnya yang berjudul “Martabat dan Keterwakilan Perempuan”, mengupas secara tajam kekeliruan cara pandang UU nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilihan Umum dan UU No 2 tahun 2011 tentang Partai Politik dalam kaitan dengan martabat perempuan. Kedua Undang-Undang itu telah memberi mandat kepada partai politik untuk melibatkan perempuan sekurang-kurangnya 30% dari daftar caleg yang diusulkan partai politik peserta pemilu.

“Umat Islam seharusnya dapat lebih jeli menilai bahwa aturan tentang kuota caleg perempuan berpotensi mengalihkan perhatian perempuan dari peran utama mereka sebagai ibu dan pendidik anak-anak di rumah. Bahkan, dalam paham ini, tugas dan peran sebagai Ibu rumah tangga dipandang sebelah mata, dianggap tidak lebih mulia ketimbang aktif di parlemen. Apakah mereka berpikir, bahwa dengan ”memaksa” perempuan aktif di ruang publik dan meninggalkan keluarga, maka laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dapat lebih leluasa bergaul sampai larut malam, demi ”kemajuan bangsa”? Sementara suami harus menjaga anak-anak bersama pembantu di rumah, menunggui istrinya pulang dari raker berhari-hari di luar kota?” tulis Dr. Dinar Kania.

Seorang Muslim pasti memiliki cara pandang yang khas terhadap “martabat perempuan”. Cara pandang muslim berlandaskan pada prinsip keadilan dalam Islam. Islam mengajarkan pemeluknya agar berperilaku adil kepada seluruh umat manusia tanpa memandang harta, kedudukan atau jenis kelamin. Allah swt telah menegaskan, bahwa” …. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Dengan ayat ini, ajaran Islam secara tegas menetapkan bahwa nilai kemuliaan seorang manusia diukur dari iman, ketinggian akhlak dan perbuatan-perbuatan baiknya.

Menyimak kekeliruan dan ketidakberadaban kontes-kontes kecantikan, kita berharap tidak ada orang Muslim yang ikut-ikutan mendukung berbagai jenis kontes kecantikan, semisal kontes Miss World. Jadi, kontes Miss World bukanlah hanya soal baju, tapi soal penetapan dan pemberian penghargaan martabat perempuan yang keliru. Tidaklah tepat jika ada pemimpin daerah yang menyetujui acara semacam itu, hanya karena pada kontes kali ini tidak lagi diperagakan parade bikini. Andaikan kontes Miss World menggunakan mukena sekali pun, kontes semacam itu tetap keliru, sebab martabat utama perempuan dinilai berdasarkan unsur utama kecantikan fisiknya. Kontes semacam ini sudah salah menetapkan martabat perempuan.

Tulisan ini hanyalah sekedar bentuk taushiyah kepada sesama Muslim, yang masih terlibat dalam acara Miss World dan sejenisnya. Semoga mereka menyadari kekeliruannya. Cobalah bayangkan, andaikan di Hari Akhir nanti, penyelenggara acara kontes atau pemimpin daerah yang menyetujui acara itu, ditanya oleh Allah SWT! Apa jawab mereka? Apakah mereka merasa telah beramal shalih, karena berhasil mendatangkan devisa? Apa bedanya dengan meraih penghasilan dari pajak pelacuran dan perjudian?

Rasulullah bersabda: “Dua golongan ahli neraka yang belum pernah saya lihat sebelumnya: para lelaki yang membawa cambuk di tangannya seperti ekor sapi yang digunakan untuk mencambuk manusia, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, sesat dan menyesatkan. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak mencium baunya.” (HR Muslim).

Sebagai pengemban perjuangan risalah kenabian, tugas kita hanyalah menyampaikan titah baginda Rasul saw tersebut kepada umat manusia, apa pun agamanya. Semoga bermanfaat bagi yang mau mengikuti petunjuk-Nya.*

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com