Pelakor

0

Bismillah ada tulisan bagus banget mengai Pelakor yang sering mengisi timeline kita di social media, dan akhirnya kita sebagai masyarakat umum kadang menanggapinya secara berlebihan maupun berprasangka buruk, dan itu tidak baik, karena Allah berfirman dalam surat al Hujurat ayat ke 12

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Dan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam pun bersabda mengenai prasangka yang menjadikan Ghibah..bahwa

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. (HR Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ الله : لَمَّا عُرِجَ بِيْ, مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلآء يَا جِبْرِيْلُِ؟ قَالَ : هَؤُلآء الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسَ وَيَقَعُوْنَ فِيْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Maka aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?”. Jibril menjawab: ”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatan mereka”. (Subulus Salam 4/299)

Akhirul kalam, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, wabil khusus kepada penulis dan saya, Insyaallah

Wallahu a’lam

========================================================================

Akhir-akhir ini sering sekali seliweran tentang penyebutan Pelakor, awalnya sebutan pelakor ini memang ramai dari salah satu akun sosmed gosip tentang perselingkuhan salah satu pasangan artis, yang mana kita sendiri belum tentu tau itu benar atau tidak. Pelakor atau perebut laki orang sering disematkan kepada perempuan pelaku perselingkuhan dan zina. Tapi akhir-akhir ini sebutan pelakor ini tidak hanya kepada pelaku perselingkuhan dan zina, tapi juga menyasar kepada pelaku poligami, istri kedua, bahkan kepada para janda yang bisa saja dia sudah menjaga dengan sebaik mungkin kehormatannya.

Suatu kali saya ikut sebuah acara dauroh dan berkenalan dengan seorang akhwat mualaf. Ia datang dengan anaknya yg masih kecil tanpa suaminya. Setelah banyak berbincang-bincang, akhirnya berceritalah ia tentang perjalanan hijrahnya memeluk agama Islam

Saat itu ia, mempunyai suami dan dua anaknya yg masih kecil-kecil. Ketika hidayah datang, dia mengucap syahadat di sebuah majelis di hadapan ustadz dan para jamaahnya. Dia masih menyembunyikan statusnya sebagai mualaf kepada suami dan keluarga besarnya, karena suami nya adalah seorang yg aktif pelayanan gereja. Akhirnya suaminya pun mengetahui tentang dirinya yang sudah memeluk agama Islam, murka lah suaminya, segala cacian terlontarlah untuk ia. Bahkan hukuman lemparan barang pun ia alami, sampai akhirnya terusirlah ia dari rumah nya dan keluarga nya. Hukuman tidak boleh kembali lagi kerumahnya kecuali dia harus murtad dari agama Islam kembali ke agama terdahulu, sampai harus dipisahkan dijauhkan dari anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
Nah ini poinnya AKHIRNYA DIA DI CERAI DAN TERPAKSA MENJADI JANDA sebagai ujian hijrahnya.

Lalu ia mondok belajar Islam dan bekerja selama menjanda di sebuah Majelis Ilmu asuhan salah satu ustadz. Singkat cerita ada seorang ikhwan yang mendatangi ustadz gurunya ingin melamarnya menjadi yang kedua. Dia kaget dan menolak secara halus, kemudian dia sholat istikharah. Karena tak pernah terfikir olehnya untuk menjadi istri kedua.

Hari berikutnya ikhwan tersebut datang lagi dan ditolak lagi, kemudian di kedatangan yang ketiga kalinya Ikhwan tersebut datang bersama istri nya dan ikut melamar dia. Berkonsultasilah dia dengan gurunya dan istri gurunya, dia mendapat nasehat “Jika memang itu takdirmu, maka mau kamu berlari kemanapun kamu tidak akan bisa mengelak, bisa jadi disitulah letak jalan keridho’an Allah buatmu. Dan menikah bisa menghindarimu dari fitnah, karena menjadi Janda bisa jadi akan selalu ada fitnah yang menyertainya”
Setelah berkali-kali istikharah panjang, maka diterimalah lamaran tersebut karena kakak madu nya pun telah datang ikut meminangnya.

Dia bercerita walau dalam prakteknya poligami tetap ada konflik apalagi jika berkaitan dengan perasaan cemburu, tapi dia tetap menghormati kakak madunya karena dia merasa kakak madunya lah yang telah banyak berjasa mengurus suami dan anak-anak. Dan kakak madunya pun masih tetap memperhatikan dia dan anaknya yang kecil.

Hikmah dari cerita tersebut telah mengubah pandangan buruk saya selama ini terhadap para istri kedua. Karena tidak semua yang menjadi istri kedua adalah karena keinginannya. Bukanlah keinginannya menjadi janda. Dia telah menjaga kehormatannya dan tidak pernah sekalipun menggoda suami orang lain. Dan bukan keinginannya lah menjadi istri kedua, tapi jika memang itu takdir yang terbaik untuknya maka siapa yang bisa menolaknya.

Saya pun punya teman janda, mengingat dulu saya pun tidak lepas dari fitnah maka setiap kali ada fitnah menimpa mereka saya selalu bertabayyun dengan hati-hati kepada mereka.

Bukan berarti saya membela pelakor dari hubungan perselingkuhan maupun zinah, tidak. Saya pun membenci perselingkuhan. Tapi sebelum menuduh sebagai pelakor, saya lebih dulu mencari tau langsung kepada yang bersangkutan. Bagaimana cerita sebenarnya. Begitupun jika terjadi kepada Rumah tangga saya, lebih baik saya bertengkar di dalam rumah sendiri menangis di hadapan suami sendiri untuk mencari tau dan mencari solusi bersama, ketimbang saya bercerita di sosial media.

Janganlah bermudah-mudah menyematkan julukan Pelakor kepada wanita lain atau para janda jika tidak benar-benar tau permasalahan sesungguhnya. Bisa jadi, laki-lakinya yang genit selalu modus kepada para janda memberi sinyal ingin berpoligami yang padahal sebenarnya belum siap berpoligami. Sudah default laki-laki itu punya keinginan beristri lebih dari satu, tapi mereka lupa mengukur kesiapan dan kemampuan diri mereka untuk berpoligami yang akhirnya hanya bisa menebar modus kesana kemari.

Menjadi peringatan juga untuk para laki-laki, jika memang belum siap belum mampu maka jangan lah menebarkan jaring modus kepada para gadis dan terutama janda. Sudahlah mereka pusing mengurus anak-anak dan hidupnya sebagai janda yang rentan sekali dengan fitnah, lalu kalian menggodanya dengan perhatian kata-kata manis, harapan palsu ingin memperistrinya. Menyelamatkan tidak tapi malah memposisikan kedalam fitnah sebagai Pelakor..
Lalu setelah tersebar fitnah tidak ada tindakan untuk meluruskan fitnah tersebut, tetapi malah menyelamatkan nama baik sendiri dengan membiarkan fitnah itu bertebaran karena keburu ketauan sama istri yang duluan. 😅

Pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam sudah diatur sedemikian rupa dengan segala batasan-batasan, maka jangan lah menabrak batasan-batasan tersebut dan menceburkan diri kita kedalam fitnah.

Hendaknya kita selalu berhati-hati dengan lisan.
Jakarta, 24 Agustus 2017
Sarah Dian AnnisaHai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Memilih Ahok atau Mengikuti Perintah Allah

0

  
Assalamu’alaikum Wr Wb

Ngeliat kondisi geopolitik yang ada di Indonesia saat ini, sebenarnya saya ingin menulis sesuatu yang dapat melegakan dan (mungkin) dapat bermanfaat bagi kita semua, eh tapi mengingat saya juga harus melihat kapasitas diri, jadi yah udin tawaquf(menahan diri) he..he..he..tp masyaallah alhamdulillah ada seseorang diluar sana yang berpikiran sama dengan saya dan tulisannya bagus dan renyah sekali untuk dipahami..mumpung inget, saya tidak menganut keyakinan bahwa Gubernur atau suatu posisi di Indo itu adalah Unyil Amri, jadi sharing disini adalah bentuk kerjasama dari saya terhadap temen2 yg berbeda pendapat dari apa yang saya yakini  

 ^^, nah biar gk jd boring,  saya co paste disini dg menyertakan sumber asli dari FBnya sendiri, silahkan dinikmati ya teman2 yang Muslim ^^—————————–

PENDAPAT SAYA TENTANG MEMILIH PEMIMPIN NON-MUSLIM

Bukan untuk diperdebatkan yah. Kalo setuju silakan like atau share, kalo nggak setuju, mangga punya pendapat sendiri. Soalnya nggak ada tombol dislike atau unshare sih.

Penting untuk dicermati, tidak ada niat setitikpun tuk membuat konflik dengan saudara kami yang berbeda agama, hanya mencoba sesantun mungkin menyampaikan pemahaman saya mengenai salah satu kaidah penting memilih pemimpin dalam ajaran Islam.

Belakangan banyak terjadi perbedaan pendapat soal dukung mendukung pemimpin non-muslim, yaitu sejak Ahok menggantikan Jokowi sebagai Gubernur di Jakarta, dan terutama lagi sejak Ahok berencana untuk melanjutkan jabatan Gubernurnya untuk periode kedua, di tengah munculnya calon-calon pemimpin muslim sebagai calon Gubernur Jakarta.

Ini pendapat saya pribadi soal masalah ini, sekali lagi pemahaman pribadi lho. Bukan cuma tentang Ahok aja, tapi di setiap tempat dan segala masa saat bagaimana seorang muslim bersikap ketika calon-calon pemimpinnya ada yang beragama Islam, tapi ada juga yang non-muslim. Kalo mau tau silakan terus baca, kalo nggak mau tau, ya ngapain buka-buka wall saya yah. Jadi bingung eke.

PRINSIP DASAR:

Seorang muslim dalam lingkungan yang mayoritas muslim (beda yah kalo ia tinggal di Amerika misalnya) tidak boleh memilih, mendukung, atau memberikan loyalitasnya kepada calon pemimpin non-muslim. Dasarnya jelas kok, bukan pendapat saya lho, tapi yang nyuruh langsung Yang Maha Tahu kok, jadi jangan ngerasa sok lebih tahu deh. Trus kalo baca ayat-ayat di bawah, jangan ngerasa cuma baca Qur’an aja, tapi bacanya kayak lagi baca Surat Keputusan (SK) dari Bos Besar soal masalah yang super penting. Oke?

Allah SWT memberikan instruksi kepada hamba-hambanya yang mengaku beriman melalui Al-Qur’an yang terjaga dari kesalahan sampai akhir jaman:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali-Imran 28)

(Oh iya. Kalo dipakai istilah kafir di dalam Quran, jangan terlalu sensi yah, atau merasa istilahnya terlalu vulgar, nggak toleran, dsb. Yang dimaksud orang Kafir di sini adalah orang-orang yang mengingkari, artinya menolak nilai-nilai yang dibawa Islam, Quran, dan Rasulullah; as simple as that. Dia bisa aja berakhlak mulia, mungkin jauh lebih banyak berbuat baik dibanding teman-teman muslimnya. So, sekali lagi, jangan sensi yah. Cuma sekedar diferensiasi kok. Yang mukmin artinya percaya, yang kafir artinya nggak percaya).

Nggak cuma di satu ayat aja lho. Di ayat lain Allah SWT juga memberi instruksi serupa dengan redaksi yang sedikit berbeda:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Maidah 51)

Dua ayat masih kurang? Nih satu lagi yah. Kalo masih kurang juga kebangetan dah.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An Nisa 144)

Faktanya, masih banyak ayat-ayat lain yang senada, misalnya Al Maidah 57, At-Taubah 23, dan An-Nisa 139; yang menunjukkan betapa pentingnya masalah yang diangkat ini.

Syaikh Yusuf Qardhawi, “Kita selayaknya mengetahui apa yang sangat dipedulikan oleh al-Qur’an dan sering diulang-ulang di dalam surat dan ayat-ayatnya, dan apa pula yang ditegaskan dalam perintah dan larangannya. Itulah yang harus diprioritaskan, didahulukan, dan diberi perhatian oleh pemikiran, tingkah laku, penilaian, dan penghargaan kita.”

Buat prinsip dasar, tiga ayat cukup kayaknya yah. 

Jadi prinsip dasarnya jelas; sebagai seorang muslim, Allah SWT jelas-jelas melarang kita memilih pemimpin non-muslim. Larangannya bukan sekedar larangan biasa; buat yang masih ngotot Allah memberikan ancaman yang nggak kepalang tanggung:

1. Nggak akan dapat pertolongan Allah

2. Nggak akan dapat petunjuk Allah

3. Termasuk golongan yang zalim

4. Memberi alasan yang nyata buat mendapat siksa Allah.

Oke, prinsip dasar udah jelas. Tinggal masalah yang timbul sama kontroversinya.

KONTROVERSI KE-1:

Gimana kalo pemimpin yang non-muslim lebih jujur, lebih kompeten, pokoknya lebih segala-galanya dibandingkan pemimpin yang muslim? Mendingan pemimpin non-muslim tapi jujur daripada pemimpin muslim tapi korup kan?

Jawaban saya:

Pertama. Kalo setuju pendapat di atas, berarti mustinya Allah SWT ngasih pengecualian dalam perintah di atas. Misalnya jadi begini: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Kecuali bila pemimpin dari golongan yang non-muslim itu lebih OKE dibandingkan pemimpin dari orang-orang mukmin.” 

Tapi Allah Yang Maha Tahu nggak ngasih kekecualian kan? 

Atau Allah Yang Maha Kuasa lupa kali yah bahwa mungkin aja ada para calon pemimpin non-muslim yang lebih berkualitas dibanding para kompetitor muslimnya, dan berarti Allah mengabaikan prinsip kompetensi dalam memilih pemimpin? Atau kita menganggap Allah Yang Maha Bijaksana sebenarnya kurang bijak dalam masalah ini, dalam masalah memilih pemimpin non-muslim? Jangan ah, kayaknya malah jadi sok bijak dan sok tahu deh. 

Perlu diingat juga, kita cuma bisa mengkaji hikmah larangan Allah sebatas otak kita aja. Sebenarnya, di balik setiap perintah dan di balik setiap larangan-Nya, ada hikmah yang jauh lebih luas di luar jangkauan ilmu kita.

“Ketahuilah! Sesungguhnya Allah jualah yang menguasai segala yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada padanya dan pada hari umat manusia kembali kepadaNya, maka Dia akan menerangkan kepada mereka segala yang mereka kerjakan, kerana sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan tiap tiap sesuatu.” (An-Nuur 64)

Kedua. Tahu dari mana bahwa calon pemimpin yang non-muslim lebih segala-galanya dibandingkan calon pemimpin yang muslim? Wake up Bro, wake up Sis, di era super pencitraan hari gini masih percaya sama media main-stream. Nggak belajar apa sama kejadian kemaren? Kejadian kemaren yang mana? Ah, pura-pura nggak tahu lagi. Intinya: kadang yang kita tahu soal kelebihan dan kekurangan para calon pemimpin cuma superfisial aja kok, banyak dipoles atau dijatuhkan sama media karena berbagai konflik kepentingan. 

Tapi kan susah juga buat tahu sebenar-benarnya soal kualitas calon-calon pemimpin. Namanya juga manusia milih pemimpin manusia, pasti banyak kekurangan lah. Harap dimaklum. 

Eh, tapi sebenernya ada lho yang tau banget soal kualitas masing-masing pemimpin. Siapa tuh? Ya, itu Dia yang bikin ayat-ayat di atas. Makanya nurut!

Ketiga. Oke deh, anggap aja ente tahu segala-galanya soal calon-calon pemimpin ente, yang muslim maupun yang muslim. Anggap aja bahwa calon pemimpin non-muslim yang ada sekarang lebih segala-galanya dibandingkan calon pemimpin yang muslim. Terus gimana dong? Pendapat saya sih gini. Kekuatan dan kelebihan yang ada di sisi manusia itu sumbernya dari Allah juga. Soal pemimpin dan kelebihan dan kekuatan yang dimilikinya, Allah SWT mengingatkan:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (An Nisa: 139)

Dalam tafsir Fi-Zhilalil Quran, mengenai ayat ini ada ungkapan yang lumayan pas. Saya kutip yah, “Allah Azza wa Jalla bertanya dengan nada ingkar, “Mengapa mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dan pelindung? Mengapa mereka menempatkan diri mereka dalam posisi seperti ini dan bersikap seperti ini? Apakah mereka mencari kemuliaan dan kekuatan di sisi orang-orang kafir itu?” Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla yang memonopoli semua kekuatan itu. Karena itu, tidak akan mendapatkan kekuatan tersebut kecuali orang yang setia kepada-Nya, mencari kekuatan itu di sisi-Nya, dan berlindung di bawah naungan-Nya.”

Jadi, kelebihan yang dimiliki seorang pemimpin tidaklah akan ada artinya bila orang tersebut tidak setia kepada-Nya dan berlindung di bawah naungan-Nya. Gimana mau setia, gimana mau minta perlindungan, wong percaya aja kagak.
KONTROVERSI KE-2:

Udah deh Ndi, jangan suka shuudzan. Hati orang siapa tahu sih? Mungkin aja dalam hatinya Ahok ternyata lebih mulia, punya niat memajukan syiar Islam di ibukota, malah mungkin lebih menyayangi kaum muslim di Jakarta dibanding para calon pemimpin yang ngaku-ngaku muslim, yang niatnya mungkin cuma memperkaya diri. Jangan sok tahu hati orang ah!

Jawaban saya:

Hati orang siapa yang tahu sih? Nggak ada yang tahu emang. Yang tahu cuma yang Maha Tahu sih, yang jauh dari kebetulan ngasih petunjuk tentang hati para pemimpin non-muslim lewat firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan kebencian yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali ‘Imran 118)

KONTROVERSI KE-3:
Itu kan cuma teori doang. Dalam prakteknya, mana ada pemimpin besar Islam yang membeda-bedakan jabatan berdasarkan agamanya. Yang penting kan kompetensinya? Iya nggak? 

Jawaban saya:

Nggak juga sih. Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari agar pencatatan pengeluaran dan pemasukan Pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘Pecatlah dia!’. Umar lalu membacakan ayat: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/132).

Heran yah Umar bin Khattab. Nggak toleran banget gitu loh!

KONTROVERSI KE-4:

Ya ampun Ndi, hari gini, masih ngebedain pemimpin berdasarkan agama yang dianutnya. Toleransi dikit napa?

Jawaban saya:

Kayaknya wajar yah, semua penganut agama yang sholeh dan taat pasti lebih suka memilih pemimpin yang seiman dan seagama. Jadi wajar kalo saudara kita yang beragama Kristen lebih memilih Ahok dibanding Sandiaga Uno atau Adhyaksa Daut misalnya. Saya mengerti 200%. Dan saya nggak menuduh mereka nggak toleran karena memilih calon pemimpin yang seiman. Yang saya nggak ngerti tuh kalo Facebook Friend saya yang seiman dan seislam mati-matian mendukung dan mengkampanyekan Ahok di atas para calon pemimpin lainnya yang beragama Islam. Padahal  dalam berbagai ayat di atas. Kagak ngarti gw mah. Jadi masalah milih pemimpin sih bukan masalah toleransi yah.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am 116)

KONTROVERSI KE-5:

Dari tadi argumentasinya dari Quran melulu. Sekarang kan jaman demokrasi, internet, era globalisasi, nggak ada argumentasi yang lebih luas dan bisa diterima sama semua orang apa? Emang semua orang setuju sama ayat-ayat Quran?

Jawaban saya:

Makanya, di awal juga saya udah bilang, ini kan pendapat saya, boleh setuju, boleh nggak. Dan buat saya, dalam masalah yang maha penting seperti ini, masalah calon pemimpin yang bakal menentukan hayat hidup orang banyak, masalah yang bakal menentukan apakah syiar Islam bisa berkembang atau direpresi, kayaknya Quran udah lebih dari cukup yah. 

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl 89)

Malahan cuma Quran yang bisa ngasih panduan biar saya nggak akan menyesali pilihan saya, di dunia maupun di akhirat.

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya. Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu akan ditanya tentang apa yang dilakukannya.” (Al-Israa 36)

Masa kalo dalam masalah sholat, qurban, puasa, dan lainnya kita berpedoman sama Quran, tapi kalo masalah politik, memilih pemimpin, ekonomi dan masalah lainnya kita nggak mau pake pedoman yang sama.

“Adakah kamu beriman dengan sebahagian Kitab dan ingkar dengan sebahagian yang lain? (Al-Baqarah 85)
KONTROVERSI KE-6:

Ngapain juga sih Ndi, ngebahas masalah yang sensitif kayak gini. Mendingan kan posting yang lucu-lucu, yang damai-damai, yang nggak kontroversial. Apa udah ngerasa paling ngerti soal tafsir Quran? Tujuannya apaan sih?
Jawaban saya:

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Huud 88)
KONTROVERSI KE-7:

Terserah lah. Pokoknya apapun yang elo tulis, nggak akan ngerubah pendapat gua soal masalah ini. Apapun yang terjadi, gua tetep dukung Ahok, karena pastinya lebih kompeten…
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah 272)
KESIMPULAN SINGKAT:

Jadi, kalo di lingkungan yang mayoritas muslim, wajar kok kalo kita lebih mengutamakan calon pemimpin yang beragama Islam di atas calon pemimpin non-muslim. Bukannya karena sang pemimpin non-muslim itu tidak kompeten, tidak berkualitas, atau tidak jujur dsb. It’s absolutely had nothing to do with it. Sederhana aja kok, kenapa kita tidak memilih pemimpin non-muslim? Kenapa kok sholat Shubuh harus dua rakaat? Kenapa Zakat Fitrah kok 2,5 liter? Kenapa kok harus naik Haji segala? Karena Allah menginstruksikan hal itu. Period.

“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa’ 65) 

Dan soal prinsip yang utama seperti ini, nggak perlu lah sampai menimbulkan friksi sama temen-temen yang berbeda agama, apalagi sama temen-temen yang seiman dan seislam. Tinggal dipelajari aja. Kalo setuju, tinggal dilaksanakan. Kalo nggak setuju, ya silakan juga.

Tapi gimana dong Ndi, gua udah kepalang ngefans sama Ahok nih? 

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(Al Baqarah 216)

Udah ah. Alhamdulillah, sekarang udah plong. Terima kasih Facebook…
—————————–

Sumber Asli

This is really weird world we live on today, seriously!

0

Assalamu’alaykum Warrahmatullah Wabarakaatuh

In the name of Allah The Most Gracious and the Most Compaasion. For Allah Azza wa Jalla, then His Messenger Muhammad Peace be upon him, and Islam…:

 

  • We believe in Allah, yet we failed to submit completely on His rules
  • We believe in Allah the Almighty, yet we still dare to challenge His rules
  • We know Allah is the creator of all things, but we dare to live in His creation while mock at His rules
  • We mock people who willing to uphold His rules, although those people believe the same faith as us
  • We graciously defending those who harbor ill will towards our faith, yet we don’t do nothing when our faith is being violated
  • We become tolerance to those who tarnish the core of our faith, yet we fail to be tolerance to those who have the same faith
  • We do succeed criticize people behavior when they were violated positive law and as a Muslim, yet we failed to do the same for those who are counter faith than us
  • We tend to compare and prejudice those are Muslim yet have some misdemeanor in their lives with others who succeed in lifes that are non Muslim
  • We proud when non Muslim achieve worldly achievements, yet we failed to recognize the true achievement of our brethren
  • We are very socialize and concern about human rights of others, yet we failed to recognize the severe violated human rights against our brethren
  • We are Muslim yet unbelievably, we are reluctant of Islamic symbolic
  • We proud called ourselves proud Muslims who are Rahmatan lil ‘alamin, yet we failed to follow Rasulullah examples to be Rahmatan lil ‘alamin
  • We proud to called ourselves Muslims, yet we comprehended Islam outside Rasulullah’s and his companions perspective in Islam
  • We are not perfect Muslim yet we stereotyping our brethren who aim to perfected their Islamic identities
  • We say we are Muslim, yet we despise Islamic identity when we suppose to love and embrace it
  • We say we love Allah yet we love to do something that He despise
  • We have our own objective in life where only generating us benefits in dunya, yet neglecting many of true investments for us in the akhirat (afterlife)
  • We say we love Rasulullah yet we failed to follow his footsteps (sunnah)
  • We selfclaimed our achievements to be our doings, negating Allah’s intervention on that, yet we still pray to Allah for our success
  • And so much we that we have been failed to put Allah, Muhammad Rasulullah, and Islam into our utmost priority, but rather other things that becoming our priority…

Brothers and sisters in Islam, this writing doesn’t intend to offended you in any ways; however, this writing is merely to point out the common outrageous behavior of ours (who claimed to Muslim yet contradicted lots of Islamic behavior we suppose to have) towards our religion in hoping that we might realized it faster than Death coming to us.

 

Brothers and sisters in Islam, please take this note as consideration and please don’t take it as mockery or offensive whatsoever, this is just my two cents for myself, and you all..
Enough of this matter

 

Lastly, I pray that we all will be given Allah’s Taufiq and Blessing, and can enter Death in proper ways,

 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Yaa Muqallibal Quloob Thabbit Qalbee ‘alaa Deenik.

“Oh turner of the hearts (Allah, the Most High), keep our hearts firm on your religion” (Shaheeh, Jaam’i ash shagheer)

Hadanallah waiyyakum ajma’in

“May Allah always guide us to the truth, for us and for you all.”
Wassalamu’alaykum Warrahmatullah Wabarakaatuh

Warna Warni Demokrasi dalam hal batalnya Konser Lady Gaga: Inikah generasi Islam berikutnya di Indonesia?

0

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr Wb

Sebelumnya izinkan saya mengucap Alhamdulillah wa syukurillah atas batalnya konser Lady Gaga di Indonesia. Saya yakin ini semua karena Allah SWT, dan para hamba2Nya yang solid dalam menolak konser tersebut. Terlepas dari pendapat pribadi saya, ijinkanlah saya menyerap aspirasi masyarakat dalam menanggapi batalnya konser tersebut.

Dikarenakan aspirasi pembatalan konser Lady Gaga ini diinisiasi oleh FPI dan ormas Islam pada umumnya, maka saya persilahkan komentar-komentar mereka untuk didahulukan daripada yang lain =))..

Front Pembela Islam (FPI) dalam Republika Online pada hari Senin, 27 Mei 2012 diwakili oleh Munarman sebagai Juru Bicara FPI mengatakan rasa syukur kepada Allah SWT, dan mengatakan bahwa hal ini bisa terjadi karena Allah yang berkehendak dan berada dibalik ini.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Majlis Ulama Indonesia (MUI), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan banyak elemen Islam lainnya menyatakan hal yang sama bahwa mereka mengapresiasi, mensyukuri pembatalan konser.

Tidak kalah mendukungnya, elemen masyarakat dalam Socmed Twitter, banyak yang bersyukur atas pembatalan konser Lady Gaga tersebut.

@Tritrianto dalam akunnya mengatakan, “Alhamdulillah..Semoga dia kapok, tdk berani rencana dtg lg..”

@kuramakiddo dalam akunnya mengatakan, “Alhamdulillah, super sekali!!.”

Dan banyak lainnya lagi yang mengatakan hal serupa. Komentar-komentar lain bisa dilihat di sini

Sebaliknya, yang menyatakan penyesalannya pun tidak kalah set, mereka seakan-akan masih tidak percaya idola mereka tidak jadi datang. Berikut comment2nya di Twitter:

Dian Paramita: Pak @tifsembiring ini mensyukuri Lady Gaga batal. Padahal batalnya karena Indonesia tidak aman. Bangga? What kind of minister is he?

Linzy_Land
U,u jadi! Kalo gak! Aku ga mau jadi WNI! #IndonesiaSavesGaga RT @Linzyus_SBYCity: @Linzy_Land : Untung aja …

rezaezer
We just wanna see @ladygaga SINGING and do some awsme ART. we dont see the illuminate, pornography, or those bad thngs ! #IndonesiaSavesGaga

Dan semuanya bisa dilihat lebih banyak lagi komentar-komentar yang kontra pembatalan ini di #IndonesiaSavesGaga lewat Twitter atau Youtube™ disini

Foto-Foto Little Monster Indonesia: (silahkan dinilai sendiri pantas atau tidak hehe..)

Inikah yang dimaksud oleh para pengamat bahwa Lady Gaga tidak membawa dampak kerusakan moral?? Apa yang ingin diharapkan dimasa mendatang apabila generasi Muslimnya memakai pakaian yang bukan sepantasnya dipakai oleh jenis kelamin mereka?

Seharusnya mereka mengingat perkataan Rasulullah SAW bahwa,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمتُشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya)

Malah ada seorang ulama yang berani mengatakan seperti ini:

“Bagi NU mau ada seribu Lady Gaga nggak akan mengubah keimanan orang NU” (Tempo, 19/5/12)

Berani-beraninya dia mengatakan hal yang pasti terhadap keimanan, padahal dari kondisi masyarakat saja bisa terlihat adanya penyimpangan efek dari lagu-lagu Lady Gaga. Padahal Allah berkata dalam Al Qur’an

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِيمَانًا

Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS al-Mudatstsir: 31) dan firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS al-Anfaal:8/2)

Dan Rasulullah SAW sudah bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah minum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin” (Muttafaqun ‘Alaih)

Terkadang lucu sekali variasi kebebasan berpendapat dan berekspresi di Negara kita Indonesia ini…Seakan-akan tanpa batas, mengatasnamakan HAM tetapi menolak apabila orang lain merasa terganggu oleh kebebasan itu sendiri. Yang namanya kebebasan itu tidaklah absolute, tetapi bagaimana kebebasan kita tidak mengganggu kebebasan orang lain, itulah kebebasan yang sebenarnya. Nah kalau sudah begini, apa yang bisa diharapkan dari generasi muda Muslim kita, akankah kita diam saja ataukah bergerak mencegah? Inilah waktunya, momentum yang diberikan oleh Allah dengan pembatalan konser Lady Gaga…

Semoga berkenan..

Wassalamu’alaikum Wr Wb