Pergeseran Budaya, Kaum Tsamud dan Kesehatan Umat

0

Pergeseran Budaya, Kaum Tsamud dan Kesehatan Umat

*Rudi Agung

 

“Dokter tidak menjelaskan tentang penyakit anak saya, bahkan setelah anak saya meninggal dunia saya diminta pihak rumah sakit untuk tutup mulut,” terang ibu korban, Mimi Dahlia kepada Pojokjabar, Rabu (22/8/2017).

Itu kutipan berita berjudul: Usai Imunisasi Rubella di Sekolah, Siswi SD Ini Lumpuh, Ditolak 4 Rumah Sakit, Lalu Meninggal.

Publik semakin resah atas musibah tersebut. Selaiknya menjadi perhatian seluruh pihak. Ironinya, sebelum kejadian sang anak sehat. Setelah kejadian, tak ada penjelasan gamblang. Mudah-mudahan ada keadilan bagi keluarga korban. Terlebih selama ini masyarakat minim informasi Kipi, gejala dan penanganannya.

Terlepas ada kaitan dengan vaksin atau tidak, semua pihak perlu kedepankan rasa kemanusian. Tak elok bila seperti teori jendela kaca pecah, saat kita menganggap biasa hilangnya satu nyawa, sungguh, kepekaan kita bisa sirna.

Akrobat imunisasi tahun ini mengiris hati. Kegetiran bertambah ketika kontroversi vaksin membuat dua polarisasi besar. Pro vaksin dan anti vaksin, istilahnya. Baru tahu saya ada istilah ini. Teman sampai tertawa. Beliau pun menunjukan grup di jejaring media soal: dua kubu yang berlawanan.

Padahal awal menulis isu vaksin ini tergelitik mengamati perbedaan telanjang program vaksin MR dan tahun-tahun sebelumnya, dari: gempita kampanye dan pemaksaan. Dalam politik, kampanye itu untuk meraih kekuasaan. Dalam kampanye iklan, untuk menarik konsumen, pelanggan setia dan keuntungan. Lantas, ada apa dengan kampanye gempita vaksin MR? Sampai ada pemaksaan.

Di titik pertanyaan itulah, terpantik menulis vaksin dan kampanyenya yang aduhai bombastisnya. Paksaan yang mengundang banyak keluhan. Tapi fakta polarisasi besar terhadap vaksin, menyisakan tanya lagi: apakah ini bergerak sendiri. Atau ada design yang menggerakan. Entah. Ironi sekali sampai soal vaksin pun, kita terpolarisasi. Dulu-dulu biasa saja. Saling menghormati pilihan.

Tanya pun menderas: kok kita jadi gampang sekali didikotomikan? Diberi stempel, dikelompokan, dipisah-pisah. Pun, urusan vaksin. Sangat jauh berbeda dengan program imunisasi sebelumnya. Amati saja. Ada apa, ya?

Bahkan, terhadap sesuatu yang sangat sakral dan urgen, umat mulai terbelah: status kehalalan atau sertifikat halal dari MUI. Semua pihak harus bersatu. Jangan terseret arus adu domba. Serahkan kehalalan pada para Ulama di bidangnya.

Oretan ini, tadinya mau memberi sudut pandang berbeda terhadap penulis yang getol sekali mengkampanyekan vaksin MR, padahal sertifikasi halal vaksin belum ada. Sedangkan UU JPH 33/2014 amat jelas. Tapi saya urungkan. Jadi, mohon maaf, enggan meladeni lagi. Nanti tak selesai-selesai. Kita fokus hal substansial.

Alhamdulillah, mata publik dan Ulama terbuka sendiri melihat fakta demi fakta di lapangan. Tak ada pula sertifikasi halal MUI. Untuk menyegarkan ingatan, kita rekam perjalanan kontroversi MR ini. Kontroversi awal: tidak ada sertifikasi halal, ini bukan berarti haram. Lalu MUI tegaskan belum ada sertifikasi halal.

Kedua: MUI justru diminta tunjukan keharamannya dimana. Lalu, Halal Watch Indonesia minta Menkes hentikan sementara karena tak ada sertifikasi halal MUI.

Untuk kehalalan vaksin kenapa harus muter-muter. Kenapa tak langsung diurus ke MUI? Atau minimal sejak awal terbuka. Uniknya, yang reaksioner kenapa bukan pihak Kemenkes atau Biofarma. Tapi, sudahlah.

Soal sertfikat kehalalan kenapa penting? Kita sepakati dulu ya: ini masih negara hukum? Pasti dong. Artinya, siapapun patut mengikuti aturan hukum. Apalagi soal halal. Ada syariat Islam, ada pula hukum positif. Dalam hal ini UUD dan UU.

Begini, semisal ada produk minuman baru asal India masuk ke Indonesia. Misal, es Cendol Bollywood. Produk ini impor, sama dengan vaksin MR. Nah, produk itu laris manis. Tapi, publik mulai bertanya: halal kah bahan dan kandungannya? Tak ada yang tahu itu halal atau tidak sebelum pihak Es Cendol ajukan pengujian.

Kalau publik menuding: itu haram. Bisa? Tidak bisa. Sebab pembeli tak bisa buktikan. Karena itu ada UU Jaminan Produk Halal No.33/2014, yang mengatur. Konteks ini hanya MUI dan Ulama pakar lain yang berhak menguji dan memutuskan halal tidaknya. Selain mereka, lebih elegan menyerahkan pada pakar dan UU terkait.

Kita buka sedikit ya UU JPH No 33 tahun 2014 soal produk yang dikatakan halal. Pasal 1 ayat 2: Produk halal adalah produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam. Ayat 5: Jaminan produk halal yang selanjutnya disingkat JPH adalah kepastian hukum terhadap kehalalan suatu Produk yang dibuktikan dengan Sertifikat Halal.

Ayat 10: Sertifikat Halal adalah pengakuan kehalalan suatu Produk yang dikeluarkan oleh BPJPH berdasarkan fatwa halal tertulis yang dikeluarkan MUI.

Pasal 4: Produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.

Untuk bahan dan proses produk halal lihat Pasal 17-20. Semisal di Pasal 20, ayat 2: Bahan yang berasal dari mikroba dan bahan yang dihasilkan melalui proses kimiawi, proses biologi, atau proses rekayasa genetik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf c dan huruf d diharamkan jika proses pertumbuhan dan/atau pembuatannya tercampur, terkandung, dan/atau terkontaminasi dengan bahan yang diharamkan.

Pasal 33 ayat 1: Penetapan kehalalan Produk dilakukan oleh MUI. Dan itu dalam sidang Fatwa. Nah, jadinya sertifikasi halal itu kepastian hukum atas produk. Dan semua produk yang masuk dan beredar ke Indonesia wajib bersertifikat halal.

Jadi publik tidak bisa menuding atau mengklaim produk minuman itu haram atau halal, sebelum diuji. Pengujian dilakukan sebelum diedarkan. Sebaiknya begitu pula soal vaksin. Siapa yang menguji? MUI. Caranya? Mengajukan sertifikasi halal.

Selama produk itu belum diuji, tidak ada yang bisa menentukan haram atau halal. Maka, dibuatlah UU JPH 33/2014. Berlaku untuk seluruh produk yang masuk ke Indonesia. Minuman, makanan atau vaksin. Beda dengan gado-gado.

Masyarakat terhentak ketika di luar Ulama mengcounter opini soal penjelasan MUI jika belum ada sertifikasi halal terhadap vaksin MR. Kok repot sendiri. Serahkan status halal haram pada Ulama, itu ranah khusus mereka. Perlu ilmu khusus, belajarnya khusus, kapasitasnya khusus. Ditetapkannya dalam Sidang Fatwa. Bukan sidang sosial media. Nanti produk-produk lain bisa ikut-ikutan.

Setiap ada produk baru yang masuk ke Indonesia nanti tinggal teriak: Buktikan keharamannya? Wah susah kalau belum diuji. Untuk apa UU JPH dan MUI. Justru dengan menguji, kita mengikuti aturan dan menjunjung izzah dan marwah MUI. Sekaligus menjaga marwah DPR RI sebagai pembuat aturan dan pengawasannya.

Klaim lain dipaksakannya vaksin lantaran darurat sudah mewabah. Sebab tanpa kondisi darurat, jika pun mengacu Fatwa MUI harus ada tiga syarat. Salah satunya, darurat. Ketika data dan fakta di lapangan tak ada kondisi darurat, klaim baru muncul: vaksin untuk mencegah penyakit. Tak harus tunggu mewabah. Beda lagi.

Alhamdulillah, kini semua jadi terang. Biofarma dan MUI menegaskan belum ada sertifikasi halal vaksin MR. ICMI mendesak pemerintah menyetop program vaksin.

PBNU bergema pula. Wajib pakai yang bersertifikasi halal karena menyangkut hajat kesehatan umat. Begitu pula Ustadz Yusuf Mansur. Pun, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam yang mengatakan, MUI memang telah menerbitkan fatwa nomor 4 tahun 2016 yang membolehkan imunisasi.

Namun, menurut dia, kebolehannya itu dengan syarat halal dan suci, sehingga tetap membutuhkan sertfikasi halal. “Harus dibedakan antara imunisasi dnegan vaksin yang digunakan imunisasi.”

Ia pun menegaskan, “Untuk vaksin rubella pemerintah yang menyediakan belum ada pengajuan sertifikasi halal ke MUI. Karena belum ada pengajuan di sini, maka dipastikan belum ada sertifikat halal.”

Menanggapi pernyataan yang mengatakan Kemenkes berpegang teguh fatwa MUI yang membolehkan imunisasi, Niam menyebut pejabat Kemenkes perlu diberikan edukasi. “Itu lah yang perlu diedukasi pejabat yang seperti itu,” kata Niam, dilansir Rol, 16/8/2017: Kemenkes Akui Belum Ajukan Sertifikasi Halal Vaksin Rubella.

Setelah itu disusul desakan Indonesia Halal Watch agar Menkes menghentikan program ini. Coba intip: Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch Ikhsan Abdullah, pemerintah harus menjadi contoh bagi masyarakat dalam penegakan hukum, bukan malah menabrak Undang-undangan No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang seharusnya ditaati.

“Berarti ada kebohongan publik. Untuk itu, Menkes agar melakukan penindakan terhadap pejabat tersebut,” jelas Ikhsan, dilansir Viva, 21/8/2017. Tak main-main: kebohongan publik. Ini patut mendapat perhatian serius.

Selanjutnya, UUD 1945 Pasal 28G ayat 1: Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.

Masyarakat juga dilindungi UUD 1945 Pasal 29. Pun UU 23 tahun 1992: setiap tindakan kesehatan harus persetujuan keluarga. Tiap WNI memiliki Hak Menolak tindakan kesehatan yang tanpa izin keluarga. Bisa dituntut nanti.

Memaksakan vaksin dengan membuat perjanjian, bisa melanggar UUD 1945. Dalam hirarki hukum positif di Indonesia, UUD aturan tertinggi. Ini negara hukum kan? Kalau memaksa orang tua yang menolak vaksin, ini namanya nabrak UUD 1945. Sosialisai hukum ini yang patut ditegaskan. Semata-mata agar seluruh WNI menjaga dan mengikuti hukum tertinggi di negeri ini. Tahun lalu tak ada paksaan.

Apalagi, “Orang tua banyak khawatir atas banyaknya kejadian paska imunisasi. Juga trauma vaksin palsu. Begitu pula saat pelaporan Kipi, hilang begitu saja. Beberapa kasus kejadian Kipi hilang ditelan bumi. Program pemerintah harus melihat dari dua sisi, potensi negatif yang mungkin muncul. Hak vaksin atau tidak ada di orangtua. Tidak ada siapapun yang bisa mengintervensi. Vaksin atau tidak, keduanya sama-sama ada risiko.” Ini dingatkan Khomaini Hasan, Ph.D, dalam wawancaranya dengan radio Dakta, 22/8/2017.

Status produk halal haram pun ranah Ulama, dalam hal ini MUI. Diatur jelas di UU JPH 33/2014. Kalau mutar-mutar, nanti semua produk ikut membalik logika. Jajanan anak SD saja banyak yang sudah sertifikasi halal MUI, kok. Masa vaksin belum ada. Demikian pertanyaan yang mengemuka di masyarakat.

Sebagai pionir di negara hukum, Kemenkes perlu evaluasi program ini sampai ada kejelasan sertifikasi halal. Jika kelak diteruskan, harus ada sertifikasi dan tak boleh memaksa. Ikuti pola tahun sebelumnya saja. Semoga para Ulama, ormas Islam, DPR, MPR turut memberi perhatiannya terhadap kehalalan dan kesehatan umat.

Tak ada satu pun manusia Indonesia yang tidak mendukung program pemerintah. Tapi tentu saja program itu harus ikut aturan. Masa mau menjaga kesehatan tak mengindahkan UUD 1945 dan UU lain terkait. Nanti malah jadi catatan sejarah hitam program imunisasi nasional, yang sudah dihelat sejak 1956. Karena itu patut kita ingatkan demi keberhasilan program pemerintah sendiri.

Sekarang cus yuk, mengingat sejarah kaum Tsamud. Kaum ini di era Nabi Saleh AS, memiliki banyak keahlian. Bercocok tanam, arsitektur sampai beternak. Mereka diberi Sang Maha lahan subur. Selain keahlian, kaum Tsamud dikenal cerdas, menguasai banyak pengetahuan.

Terdepan dalam terobosan, bahkan mengalahkan nenek moyangnya kaum A’d. Sayang, kaum Tsamud menjadi sombong dan selalu merendahkan kaum lain yang dianggap kuno. Bahkan leluhurnya sendiri.

Gaya hidup kaum Tsamud dihiasi kemewahan dan bergelimang kekayaan. Dalam kemaksiatan puncaknya, menciptakan berhala sebagai sesembahan. Tuhan-tuhan baru yang dipujinya, disanjung dan disembah. Padahal tuhan itu buatan mereka sendiri. Mereka yang buat, disembah juga.

Sampai ketika peringatan Nabi Saleh AS tak dihiraukan serta melanggar perjanjian dan membunuh unta betina sebagai satu mukjizat Nabi Saleh. Akhirnya Allah pun memberi adzab atas keangkuhan dan kedurhakaannya.

Mengingat kisah ini menyeret memori ke masa lalu Indonesia. Negeri kita kaya sumber daya alam, dari rempah-rempah sampai gas alam. Penduduknya santun, saling menghargai, memaklumi. Punya budaya malu yang amat tinggi, gotong royong, saling membantu, tepo seliro.

Sayang, seiring kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, perlahan-lahan budaya itu mulai pudar. Kita mulai egosentris, mementingkan diri dan kelompok, jatuh menjatuhkan.

Caci maki, sumpah serapah, pemutar balikan fakta, tudingan, fitnahan: begitu enteng dilontarkan. Di sisi lain, bangsa ini makin maju, makin cerdas, kian hebat dalam banyak bidang. Tak terkecuali bidang teknologi kesehatan.

Sayang, kita justru menggeser budaya lama. Menggantinya dengan budaya baru yang justru makin kehilangan jati diri bangsa ini. Dalam banyak hal kita mudah emosi, mudah diadu domba. Sampai halal, yang dulu sangat clear, kini berbeda.

Dalam banyak hal kita digiring jadi dua polarisasi besar. Dari soalan politik, agama, pendidikan, sampai kesehatan. Tapi semakin tinggi dan banyaknya ilmu yang dikuasai, kita malah ujub. Jumawa. Angkuh. Lalu halal haram diremehkan.

Ilmu pengetahuan yang dikuasai anak-anak negeri malah tolak belakang dengan adab. Moral dan etika kita mulai redup, nyaris babak belur. Sampai-sampai urusan vaksinasi menjadi dua kubu hebat: pro dan kontra. Walau kontroversi vaksin selalu muncul sejak awal, tapi kali ini mengerikan.

Adanya perbedaan, bukan lagi untuk saling menghargai, lalu menjadi rahmat. Tapi mengarah pemaksaan bahkan perpecahan sesama umat sendiri. Ini patut dihentikan. Apa gunanya keberhasilan program jika persatuan terseok-seok.

Bahkan ada pula yang berusaha memisahkan ajaran Nabi dan teknologi. Padahal keduanya melengkapi. Bukan berlawanan. Ajaran Nabi berlaku sepanjang zaman, masa ke masa. Tak terkecuali masa lalu, masa kini dan masa depan.

Sedangkan teknologi sifatnya sementara. Ia sebuah sarana yang baru datang. Kemunculannya berkembang tapi tak selamanya. Lihat saja Nokia, kedigdayaan yang dulu dipuja tiba-tiba runtuh tak berdaya. Banyak contoh-contoh lain. Poinnya, teknologi itu sarana manusia. Alat yang diberikan langit lewat otak dan tangan manusia guna membantu kehidupannya. Tapi tak bisa selamanya. Takkan pernah bisa. Ada masanya. Simak nubuah-nubuah akhir zaman.

Dengan demikian, perlu diselaraskan ajaran Nabi yang berlaku sepanjang zaman. Terutama soalan halalan thayyiban. Ini untuk mengundang kemasalahatan dan keberkahan dalam program pemerintah yang dijalankan.

Teknologi tak bisa pula diletakan di atas ajaran Nabi. Melawan Sunatullah. Menantang kehendak langit. Semisal vaksin. Kita buka sejarah vaksin di Indonesia yang dimulai 1956, bukan 1977. Terus menerus sampai sekarang. Perubahannya pesat. Tapi baru tahun ini pertentangan dua kubu begitu hebat. Ada apa?

Kata kasar, jorok, caci, sumpah serapah, begitu enteng dilempar ke publik. Kadang berpikir: kita bangsa apa? Apakah lupa warisan nilai-nilai luhur dari para leluhur? Termasuk soal kesehatan.

Nabi memiliki pengobatan holistik. Leluhur bangsa kita mengadopsinya, menjaga, mewariskannya. Tapi seiring perkembangan teknologi, kita tergiring mencoba membuangnya. Cara lama kuno, klaimnya. Padahal bangsa-bangsa besar selalu menjaga warisan leluhurnya.

Anehnya, baru kali ini ada opini seragam, koor satu suara terhadap kelompok yang mengkritisi vaksin. Seperti: antivaks, dianggap menyebarkan penyakit, kasihan punya ibu begini, anti intelektual, anti teknologi, kuno, kolot, jadul. Numpang sehat, tukang sedot imun lain. Logika apa ini? Seram sekali.

Bagaimana tak sistemik jika tudingan menyesatkan itu begitu seragam. Seperti ada SOP, terkordinir, laiknya buzzer di masa pilpres. Program vaksin sejak 1956 di Indonesia, ada yang terima, ada yang tidak. Saling menghargai. Tapi baru tahun ini kontroversi dan polarisasi luar biasa. Tahun lalu saja tidak. Kenapa?

Vaksin itu buah kecerdasan dan teknologi. Ciptaan manusia. Tapi seperti dijadikan segalanya. Membuat sesuatu, dipuja, disanjung, dijadikan seperti sesembahan. Kalau begitu, sekalian saja kita bikin vaksin agar bisa hidup abadi. Sulitkah kita bercermin kaum Tsamud? Keangkuhan pada pengetahuan, arogansi menuhankan logika, membuat lupa kita hanya manusia. Makhluk lemah tak berdaya.

Ajaran Nabi, warisan leluhur dan teknologi tak bisa dipisahkan. Tak bisa dikotak-kota. Tapi perlu disinergikan. Bergandengan, beriringan. Semisal laporan Antara, 12/4/2014: Sebanyak 250 rumah sakit Indonesia bertahap siap mengembangkan pengobatan tradisional, herbal, maupun alternatif. Pengobatan tradisional di dunia sudah berkembang pesat, seperti battra di Tiongkok ada 30 persen dan di Amerika ada 20 persen, bahkan di Amerika ada 30-an fakultas yang mempelajari battra secara konsisten.

Indonesia banyak ahli herbal, bekam, ahli pengobatan alternatif, sampai yumeiho. Sudahilah penggiringan sistemik yang mencipta polarisasi. Padahal yang ditolak kelompok non vaksin bukan program vaksinnya. Dari beberapa observasi sederhana, yang ditolak itu jenis vaksin yang masih baru. Selanjutnya:

Kesimpang siuran bahan, ketidak jelasan halal dan haram, pembunuhan karakter kontra vaksin yang dituding pembawa sial, ketidak terbukaan, efek samping, dan pemaksaan yang mengarah intimidasi. Kondisi ini seolah tergambar dalam Surat Yasin: 13-20. Di ayat 18: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu…” Apakah Indonesia sudah seperti ini? Jangan sampai terjadi.

Padahal, penggunaan zat-zat tambahan sebagai pengawet seperti formaldehid dan thimerosal, adjuvan seperti aluminium serta pnggunaan komponen hewan dan manusia mengundang pehatian para dokter pemerhati dan peneliti vaksin.

Terutama ihwal kemungkinan adanya dampak vaksin yang bersifat panjang. Akan lebih sulit membuktikan keterkaitannya dengan vaksin karena membutuhkan proses yang multihit dan multistep melibatkan banyak faktor pemberat dan peringan.

 

Abai Kegagalan Vaksin

Kita terlalu lama abai pada kasus-kasus kekurangan vaksin. Tapi kita remehkan. Bukan dievaluasi sebagai perbaikan, justru dinafikan. Keberhasilan diagungkan, kelemahan ditutupi. Satu Kipi sudah lebih dari cukup mengevaluasi vaksin. Namun sampai saat ini belum ada pemeriksaan indenpen soal Kipi agar lebih objektif.

Dalam satu diskusi santai dengan dokter pemerhati keamanan vaksin, dr. Susilorini, Msi.Med, Sp. PA, ada hal mengejutkan. Ia memaparkan pandangan Deisher dan para peneliti, jika keamanan vaksin bukan hanya thimerosal yang berbahaya. Melainkan juga adjuvan aluminium dan penggunaan animal dan human cells. Maka pantas Israel dengan Protalixnya beralih ke sel tumbuhan.

Diterangkannya, Deisher itu basicnya patolog juga. Tapi ia punya pengalaman bioteknologi juga. Jadi ia membuat vaksin saat ini. Dan ada banyak hasil kajian para pakar di dunia yang membahas ini.

“Seperti thimerosal yang menurut Sharpe dkk adalah racun mitokondria. Lalu, menurut dr. Russel Blaylock vaksinasi berlebihan akan menyebabkan aktifasi mikroglia otak anak dan memicu penyakit spt autism dan syndrom gulf war, serta penyakit perilaku,” ingat dr. Rini, yang juga menunjukan setumpuk jurnal ilmiah.

Menurutnya, “Vilches dan Butel menyebutkan penggunaan sel hewan seperti kera bisa menyebabkan kontaminasi dan penularan virus hewan spt SV40 yang bisa menyebankan kanker. Ini ada penelitian-penelitian terbarunya lho. Saya juga punya jurnalnya, semisal Misal Deisher dkk (2014),” ujarnya.

  1. Rini juga mengingatkan dulu dari vaksin tetes beralih ke injeksi. Bukan tak mungkin ke depan dioles, ditempel atau kemajuan lain. Artinya, semua itu tak pasti. Belum tentu yang dulu dianggap sudah teruji, sekarang masih teruji. Karena hanya buatan manusia.

Ia menyampaikan selaiknya pihak terkait bisa belajar pemikiran Professor Robert Charles Read. Yakni melawan bakteri jahat dengan bakteri komensal predator alamiahnya. Dari situ kita mendapat pelajaran jika vaksinasi itu bersifat individual.

Prof Read, menurut dr. Rini, mengingatkan penyebab tersering meningitis itu sebenarnya mikroflora comensal pada manusia. Dan dapat ditemukan pada 35% manusia sehat.

Selanjutnya pemerintah bisa pula mendorong para peneliti kita yang hebat-hebat membuat vaksin dari probiotik lactococcus lactis. Probiotik untuk melawan infeksi. Bukankah masih memungkinkan vaksin tidak selalu dengan injeksi yang mengandung zat berbahaya dan haram?

Ia juga mengingatkan rendahnya kecakupan ASI dengan tingginya infeksi, seperti pneumonia dan diare. Cakupan ASI ekslusif itu seharusnya 100 persen. Indonesia hanya menargetkan 80%, realisasinya hanya kisaran 30 %. Jauh sekali. Ini juga patut jadi perhatian bersama.

Selama ini banyak pula sejumlah kalangan menyesalkan rendahnya konsumsi ASI ke anak. Kata dr. Rini, menurut survei Hellen Keller International rata-rata bayi Indonesia mendapat ASI Ekslusif hanya selama 1,7 bulan. Padahal perintah Allah untuk menyempurnakan ASI perlu dua tahun.

Dokter pemerhati keamanan vaksin itu berpendapat, pemerintah tak bijak jika memaksa vaksin, sepatutnya dorong ibu-ibu menyusui bayinya sesuai Surat Al Baqarah:233. “Yang perlu didorong lagi itu ibu-ibu untuk optimalkan memberi ASI,” pesannya.

Kita negara Muslim malah dijejali yang masih tanda tanya. Sedangkan tubuh kita sudah diberi kemampuan Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur.

Sekarang, logika vaksin serupa 1+1 = 3. Jika ada yang mengingatkan 1+1 = 2, dihantam ramai-ramai dengan stempel sistemik di atas. Mengerikan. Masyarakat malah takut. Sekarang, apa ada vaksin untuk hidup abadi? Ini baru asyik. Tak mungkin kan. Tapi proses vaksin selalu berkembang.

Menyejukan Semua Pihak

Ilmu manusia serba terbatas, bahkan berubah. Apa yang kita yakini dulu benar, belum tentu sekarang masih benar. Menjadi padi, bukan jumawa seakan vaksin MR segalanya, tak perlu pula dipaksa-paksa.

Justru perbaikan-perbaikan program diperlukan bagi kesehatan umat. Tak elok, kita abai keinginan masyarakat. Sampai ada yang menilai polarisasi vaksin MR bisa membahayakan bangsa ketika vaksin jadi sesembahan, herd immunity, jadi aqidah. Jika begini, pertaruhannya adalah ukhuwah Islamiah.

Mudah-mudahan seluruh pihak bijak menyikapinya. Kita bukanlah kaum Tsamud. Publik sangat mengapresiasi rencana pertemuan ulang MUI dengan Kemenkes. Semoga memberi kesejukan bagi semua. Persatuan umat dan masyarakat adalah utama. Aset terbesar NKRI. Tiap WNI pun semuanya dilindungi UUD 1945.

Dan kita adalah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Nusa bangsa dan bahasa kita bela bersama. Jangan sampai hanya gegara perbedaan pandangan dan pilihan menjaga kesehatan, kita malah dimanfaatkan untuk diadu domba. Perbedaan untuk dihargai, bukan dicaci maki. Ukhuwah utama. Shalallahu alaa Muhammad.

Moanna Film Review

0

Alhamdulillah finally watch movie with my family, after fetching review from IMDB.com with no profanity, Sex, and minimum of violence this movie is a go, especially the trailer didn’t appear to be fishy, or so I thought..

Typical of Disney movie, I expect some inception from this movie from the get go, and it were really there 😅

In the aspect of nudity and profanity, I couldn’t expect much from the Western point of view, this movie was safe to be watched by all age, although the clothing used by the female characters are little bit similar to kemben or dresses Java looked that expose area slightly above breast..similarly for the male characters, since this movie depicted from Hawaiian culture, some body parts are exposed in the area of waist below & above, but apart from that one, it was alright..

What I didn’t really expect were the inception turned out to be quite deep if the parents would not notice. Things like Beliefs similar of the “Mother Earth” or “Gaia” were to be found on this movie, defining the creation from the Goddess Te Fiti (although it was mythical not based from Polynesian Deity) that create the Earth and ruled out the ocean for the people benefits..thus the words of worship often to be found in this movie to give the idea that the Island and the creation came from Te Fiti, instead of from the God..hence we need to give counterinception to the children that it wasn’t true..

Bahaya Menonton TV dan Kartun bagi Anak-Anak

0

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr Wb,

Siapa sih yang tidak ingin anaknya bisa tumbuh sesuai zamannya, sesuai kata ahli hikmah Ali bin Abi Thalib Ra, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya…” Anak adalah anugerah yang teramat indah bagi kita semua para orang tua sekaligus amanah dari Allah SWT untuk menjaga dan mendidiknya agar tumbuh menjadi Muslim yang baik..Betapa banyak orang tua memohon dan berdoa kepada Allah untuk diberikan momongan, namun apa daya takdir Allah masih berkata lain..Namun, bukan berarti dengan adanya anak kita merasa bangga, karena bukan hal yang mudah bagi kita untuk mendidiknya sesuai norma-norma Islam dan akhlak yang mulia. Terutama dimasa sekarang, yang menuntut anak kita didik sesuai zamannya dengan segala fasilitas-fasilitas yang memudahkan namun terkadang menipu.

Kita tidak boleh menyalahkan masa atau zaman, namun situasi dan kondisi yang ada pada saat ini sangatlah sulit untuk kita bisa mendidik anak-anak kita sesuai Islam. Terlebih ditengah kondisi masyarakat yang mengalami degradasi (kemerosotan) moral, nilai-nilai agama Islam yang tengah diabaikan begitu saja tanpa acuh, arus budaya barat yang serba permissive (serba bebas), dan ditambah lagi oleh peran media massa yang “sepertinya” tidak lagi mengabaikan asas kepatutan dalam menyebarkan informasi sesuai norma-norma etika, budaya, dan agama.

Berat memang menjadi orang tua, tetapi itulah indahnya hidup yang diberikan oleh Allah. Bagaimana kita bisa menjaga anak-anak adalah peran orang tua, bahkan peranan Ibu sebagai garda terdepan untuk anak-anak dari segi pendidikan. Ada kata mutiara dari bahasa arab, “Al Ummu madrasatul awlad”, atau dalam bahasa Indonesianya, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Untuk itu, tulisan ini saya persembahkan kepada para Ibu maupun calon Ibu, dan juga ayah sebagai kepala keluarga.

Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai “Lady Gaga” yaitu “Benarkah Lady Gaga tidak berbahaya bila dibiarkan konser di Indonesia?” saya mengulas sedikit tentang bahaya subliminal message atau yang lebih dikenal sebagai pesan-pesan tersembunyi dalam suatu media komunikasi. Mungkin kita sudah banyak mengetahui bahwa semasa anak-anak dalam masa pertumbuhan sangat cepat dalam menyerap kondisi sekitar untuk dipelajari. Oleh karena itulah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab baik itu mempunyai itikad business yang tidak baik maupun yang ingin menanamkan paham-paham yang bertentangan dengan Islam mengerti sekali kapan sebaiknya dalam mempengaruhi pikiran anak-anak kita, dan menggunakan cara apa.

Dalam era modernisasi seperti sekarang, peran media elektronik, baik itu televisi dan internet, sangat berpengaruh dalam ekosistem pembelajaran anak-anak. Tidak bisa dipisahkan antara anak-anak dengan televisi pada masa kecilnya. Namun apakah semua yang ditayangkan ditelevisi itu baik adanya? Ternyata tidak, karena pertama, televisi adalah suatu jenis media komunikasi elektronik SATU ARAH dalam mengirimkan pesan, tanpa bisa disortir. Anak-anak kita tanpa sadar hanya melihat, mendengar, dan menganalisa suatu informasi yang ditayangkan oleh televisi; dan kita tahu how exactly effective when audio and visual combined together as a method of communication. Apalagi dengan kesibukan kita saat ini, terkadang para orang tua dalam mendidik anak-anaknya seringkali tidak ada waktu, sehingga seringkali menyerahkan aktifitas anak-anak kepada televisi. Padahal sejak 12 tahun yang lalu, Journal of Pediatric Psychology telah mempublish peringatan tentang adanya bahaya adanya penyimpangan behavior anak-anak melalui media televisi dengan konten-konten yang tidak sesuai.

Kartun adalah salah satu jenis tipe ilustrasi 2D/3D yang sering ditampilkan ditelevisi dan sangatlah popular oleh anak-anak. Ternyata apa yang sering ditonton oleh anak-anak, yang kita sangka2 aman, ternyata tidaklah sepenuhnya benar. Mungkin ini terdengar sedikit mengada-ada bagi sebagian orang, tetapi bagi saya, saya himbau kepada para pembaca untuk mengecheck kebenarannya, toh tidak ada salahnya kan =).

Banyak sekali pesan-pesan negative yang tersembunyi dalam kartun populer dimasa lalu dan kini, yang sifatnya merupakan suatu itikad untuk memasukkan pemahaman yang menyimpang kepada anak-anak kita sedari dini. Berikut saya akan coba ulas beberapa yang bisa kita lihat bersama, sbb:

– Various subliminal Message on Cartoons

– Disney Subliminal Message

– New Disney Subliminal Message (Yang sekarang ada di cable TV)

– Disney female characters moral teachings to our kids

Apa yang kita bisa dapatkan dari semua itu:

– Sex

– Violence

– Simbol-simbol Illuminati

Gambar yang menyeramkan dari kartun-kartun yang kita kenal:

This slideshow requires JavaScript.

Ada tulisan bagus untuk menjelaskan lebih lanjut ttg sepak terjang Disney dalam subliminal message:

sila didownload disini

Mungkin banyak dari kita beranggapan bahwa hal tersebut tidak akan berpengaruh kepada anak2. Hal tersebut hanyalah kebetulan. Tetapi itu tidaklah mengubah fakta bahwa hal-hal yg ditunjukkan tadi memang ada. Bahkan kalau mau jujur, Disney seringkali dicomplaint oleh orang2 Amerika yang kritis karena hal2 tsb, walaupun sampai detik ini saya blm mendapatkan Disney dipersalahkan oleh Pengadilan. Maksimal yang Disney lakukan adalah recall DVD “Little Mermaid” dikarenakan ada gambar tidak senonoh (maaf..pendeta sedang ereksi) dan mengeditnya (Ada didalam gambar diatas).

Dan yang paling mengerikan adalah adanya teknik menggambar yang tidak senonoh diblur kan dengan gambar lain. Videonya bisa dilihat dibawah ini:

Bisa dibayangkan apa dampaknya apabila hal-hal seperti ini keexposed kepada anak-anak yang belum mengerti. Naudzubillahi min dzalik, yang ada mereka malah bisa permisive atau lebih tolerance kepada hal-hal seperti itu. Coba kita ingat-ingat dulu sewaktu saya masih SMA, sekitar tahun 1998-00 disekolah saya apabila ada wanita yang memakai rok diatas lutut maka akan mendapatkan peringatan lisan, selanjutnya masih lisan, dan yang ketiga adalah surat peringatan kepada orang tua. Tetapi sekarang, fenomena K-Wave yang sangat mewabah menjadikan hotpants menjadi “lumrah..”…artinya degradasi moral terjadi secara perlahan-lahan..dan saya yakin asal muasalnya salah satunya adalah dari hal-hal yang anak-anak tonton atau lihat sewaktu kecil, belum lagi ditambah arus budaya barat yang hedonis yang tidak dibendung oleh pemerintah.

Saya mohon kepada pembaca diluar sana untuk lebih concern terhadap hal-hal ini, Allah mengamanahkan kita untuk menjaga dan mendidik anak-anak kita…mari kita bentengi keluarga kita dari unsur2 asing yang mengkhawatirkan, untuk membuat peradaban Islam yang lebih baik di masa depan, aamiin

;

Mengapa Kita Menolak RUU Kesetaraan Gender ?

0

Ditulis oleh DR. Adian Husaini*

Harian Republika (Jumat, 16/3/2012), memberitakan, bahwa Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) sudah mulai dibahas secara terbuka di DPR. Suara pro-kontra mulai bermunculan. Apakah kita – sebagai Muslim – harus menerima atau menolak RUU KKG tersebut?

Jika menelaah Draf RUU KKG/Timja/24/agustus/2011 — selanjutnya kita sebut RUU KKG – maka sepatutnya umat Muslim MENOLAK draf RUU ini. Sebab, secara mendasar berbagai konsep dalam RUU tersebut bertentangan dengan konsep-konsep dasar ajaran Islam. Ada sejumlah alasan yang mengharuskan kita – sebagai Muslim dan sebagai orang Indonesia – menolak RUU KKG ini.

Pertama, definisi “gender” dalam RUU ini sudah bertentangan dengan konsep Islam tentang peran dan kedudukan perempuan dalam Islam. RUU ini mendefinisikan gender sebagai berikut: “Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.” (pasal 1:1)

Definisi gender seperti itu adalah sangat keliru. Sebab, menurut konsep Islam, tugas, peran, dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki baik dalam keluarga (ruang domestik) maupun di masyarakat (ruang publik) didasarkan pada wahyu Allah, dan tidak semuanya merupakan produk budaya.

Tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah keluarga adalah berdasarkan wahyu (al-Quran dan Sunnah Rasul). Sepanjang sejarah Islam, di belahan dunia mana saja, tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga sudah dipahami, merupakan perkara yang lazim dalam agama Islam (ma’lumun minad din bid-dharurah). Bahwa yang menjadi wali dan saksi dalam pernikahan adalah laki-laki dan bukan perempuan. Ini juga sudah mafhum.

Karena berdasarkan pada wahyu, maka konsep Islam tentang pembagian peran laki-laki dan perempuan itu bersifat abadi, lintas zaman dan lintas budaya.

Karena itu, dalam tataran keimanan, merombak konsep baku yang berasal dari Allah SWT ini sangat riskan. Jika dilakukan dengan sadar, bisa berujung kepada tindakan pembangkangan kepada Allah SWT. Bahkan, sama saja ini satu bentuk keangkuhan, karena merasa diri berhak menyaingi Tuhan dalam pembuatan hukum. (QS at-Taubah: 31).

Jadi, cara pandang yang meletakkan pembagian peran laki-laki dan perempuan (gender) sebagai budaya ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab, sifat syariat Nabi Muhammad saw – sebagai nabi terakhir dan diutus untuk seluruh manusia sampai akhir zaman – adalah universal dan final. Zina haram, sampai kiamat. Khamr haram di mana pun dan kapan pun. Begitu juga suap adalah haram. Babi haram, di mana saja dan kapan saja. Konsep syariat seperti ini bersifat lintas zaman dan lintas budaya.

Syariat Islam jelas bukan konsep budaya Arab. Saat Nabi Muhammad saw memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya – dalam hal-hal yang baik – maka perintah Nabi itu berlaku universal, bukan hanya untuk perempuan Arab abad ke-7 saja. Umat Islam sepanjang zaman menerima konsep batas aurat yang universal; bukan tergantung budaya. Sebab, fakta menunjukkan, di mana saja dan kapan saja, perempuan memang sama. Sudah ribuan tahun perempuan hidup di bumi, tanpa mengalami evolusi. Matanya dua, hidung satu, payudaranya dua, dan juga mengalami menstruasi. Perempuan juga sama saja, dimana-mana. Hanya warna kulit dan mungkin ukuran tubuhnya berbeda-beda. Karena sifatnya yang universal, maka konsep syariat Islam untuk perempuan pun bersifat universal.

Memang, tidak dapat dipungkiri, dalam aplikasinya, ada unsur-unsur budaya yang masuk. Misalnya, konsep Islam tentang perkawinan pada intinya di belahan dunia mana saja tetaplah sama: ada calon suami, calon istri, saksi, wali dan ijab qabul.

Tetapi, dalam aplikasinya, bisa saja unsur budaya masuk, seperti bisa kita lihat dalam pelaksaan berbagai upacara perkawinan di berbagai daerah di Indonesia.

Alasan kedua untuk menolak RUU Gender sangat western-oriented. Para pegiat kesetaraan gender biasanya berpikir, bahwa apa yang mereka terima dari Barat – termasuk konsep gender WHO dan UNDP – harus ditelan begitu saja, karena bersifat universal. Mereka kurang kritis dalam melihat fakta sejarah perempuan di Barat dan lahirnya gerakan feminisme serta kesetaraan gender yang berakar pada ”trauma sejarah” penindasan perempuan di era Yunani kuno dan era dominasi Kristen abad pertengahan.

Konsep-konsep kehidupan di Barat cenderung bersifat ekstrim. Dulu mereka menindas perempuan sebebas-bebasnya, sekarang mereka membebaskan perempuan sebebas-bebasnya. Dulu, mereka menerapkan hukuman gergaji hidup-hidup bagi pelaku homoseksual. Kini, mereka berikan hak seluas-luasnya bagi kaum homo dan lesbi untuk menikah dan bahkan memimpin geraja.

Lihatlah, kini konsep keluarga ala kesetaraan gender yang memberikan kebebasan dan kesetaraan secara total antara laki-laki dan perempuan telah berujung kepada problematika sosial yang sangat pelik. Di Jerman, tahun 2004, sebuah survei menunjukkan, pertumbuhan penduduknya minus 1,9. Jadi, bayi yang lahir lebih sedikit dari pada jumlah yang mati.

Peradaban Barat juga memandang perempuan sebagai makhluk individual. Sementara Islam meletakkan perempuan sebagai bagian dari keluarga. Karena itulah, dalam Islam ada konsep perwalian. Saat menikah, wali si perempuan yang menikahkan; bukan perempuan yang menikahkan dirinya sendiri. Ini satu bentuk pernyerahan tanggung jawab kepada suami. Di Barat, konsep semacam ini tidak dikenal. Karena itu jangan heran, jika para pegiat gender biasanya sangat aktif menyoal konsep perwalian ini. Sampai-sampai ada yang menyatakan bahwa dalam pernikahan Islam, yang menikah adalah antara laki-laki (wali) dengan laki-laki (mempelai laki-laki).

Simaklah bagaimana kuatnya pengaruh cara pandang Barat dalam konsep ”kesetaraan gender” seperti tercantum dalam pasal 1:2 RUU Gender yang sedang dibahas saat ini: “Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol, dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan.” (pasal 1:2).

Renungkanlah konsep semacam ini. Betapa individualistiknya. Laki-laki dan perempuan harus disamakan dalam semua bidang kehidupan. Lalu, didefinsikan juga:

“Diskriminasi adalah segala bentuk pembedaan, pengucilan, atau pembatasan, dan segala bentuk kekerasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin tertentu, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan manfaat atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau bidang lainnya terlepas dari status perkawinan, atas dasar persamaan antara perempuan dan laki-laki.” (pasal 1:4).

Jika RUU Gender ini akan menjadi Undang-undang dan memiliki kekuatan hukum yang tetap, maka akan menimbulkan penindasan yang sangat kejam kepada umat Muslim – atau agama lain – yang menjalankan konsep agamanya, yang kebetulan berbeda dengan konsep Kesetaraan Gender. Misalnya, suatu ketika, orang Muslim yang menerapkan hukum waris Islam; membagi harta waris dengan pola 2:1 untuk laki-laki dan perempuan akan bisa dijatuhi hukuman pidana karena melakukan diskriminasi gender. Jika ada orang tua menolak mengawinkan anak perempuannya dengan laki-laki beragama lain, bisa-bisa di orang tua akan dijatuhi hukuman pula. Bagaimana jika kita membeda-bedakan jumlah kambing untuk aqidah antara anak laki-laki dan perempuan?

Alasan ketiga, RUU Gender ini sangat SEKULAR. RUU ini membuang dimensi akhirat dan dimensi ibadah dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Peradaban sekular tidak memiliki konsep tanggung jawab akhirat. Bagi mereka segala urusan selesai di dunia ini saja. Karena itu, dalam perspektif sekular, ”keadilan” hanya diukur dari perspektif dunia. Bagi mereka tidaklah adil jika laki-laki boleh poligami dan wanita tidak boleh poliandri. Bagi mereka, adalah tidak adil, jika istri keluar rumah harus seijin suami, sedangkan suami boleh keluar rumah tanpa izin istri.

Bagi mereka, tidak adil jika laki-laki dalam shalatnya harus ditempatkan di shaf depan. Dan sebagainya.

Jika seorang perempuan terkena pikiran seperti ini, maka pikiran itu yang perlu diluruskan terlebih dulu. Biasanya ayat-ayat al-Quran dan hadits Rasulullah saw tidak mempan bagi mereka, karena ayat-ayat itu pun akan ditafsirkan dalam perspektif gender. Sebenarnya, perempuan yang kena paham ini patut dikasihani, karena mereka telah salah paham. Mereka hanya melihat aspek dunia. Hanya melihat aspek hak, dan bukan aspek tanggung jawab dunia dan akhirat.

Padahal, dalam perspektif Islam, justru Allah memberi karunia yang tinggi kepada perempuan. Mereka dibebani tanggung jawab duniawi yang lebih kecil ketimbang laki-laki. Tapi, dengan itu, mereka sudah bisa masuk sorga, sama dengan laki-laki. Perempuan tidak perlu capek-capek jadi khatib Jumat, menjadi saksi dalam berbagai kasus, dan tidak wajib bersaing dengan laki-laki berjejalan di kereta-kereta. Perempuan tidak diwajibkan mencari nafkah bagi keluarga. Dan sebagainya.

Sementara itu, kaum laki-laki mendapatkan beban dan tanggung jawab yang berat. Kekuasaan yang besar juga sebuah tanggung jawab yang besar di akhirat. Jika dilihat dalam perspektif akhirat, maka suami yang memiliki istri lebih dari satu tentu tanggung jawabnya lebih berat, sebab dia harus menyiapkan laporan yang lebih banyak kepada Allah. Adalah keliru jika orang memandang bahwa menjadi kepala negara itu enak. Di dunia saja belum tentu enak, apalagi di akhirat. Sangat berat tanggung jawabnya.

”Dimensi akhirat” inilah yang hilang dalam berbagai pemikiran tentang ”gender”. Termasuk dalam RUU Gender yang sedang dibahas di DPR. Perspektif dari RUU ini sangat sekuler. (saeculum=dunia); hanya menghitung aspek dunia semata. Jika dimensi akhirat dihilangkan, maka konsep perempuan dalam Islam akan tampak timpang. Sebagai contoh, para aktivis gender sering mempersoalkan masalah ”double burden” (beban ganda) yang dialami oleh seorang perempuan karir.

Disamping bekerja di luar rumah, dia juga masih dibebani mengurus anak dan berbagai urusan rumah tangga. Si perempuan akan sangat tertekan jiwanya, jika ia mengerjakan semua itu tanpa wawasan ibadah dan balasan di akhirat. Sebaliknya, si perempuan akan merasa bahagia saat dia menyadari bahwa tindakannya adalah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Karena itu, jika Allah tidak memberi kesempatan kepada perempuan untuk berkiprah dalam berbagai hal, bukan berarti Allah merendahkan martabat perempuan. Tapi, justru itulah satu bentuk kasih sayang Allah kepada perempuan. Dengan berorientasi pada akhirat, maka berbagai bentuk amal perbuatan akan menjadi indah. Termasuk keridhaan menerima pembagian peran yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pada akhirnya, dalam menilai suatu konsep – seperti konsep Kesetaraan Gender – seorang harus memilih untuk menempatkan dirinya: apakah dia rela menerima Allah SWT sebagai Tuhan yang diakui kedaulatannya untuk mengatur hidupnya? Seorang Muslim, pasti tidak mau mengikuti jejak Iblis, yang hanya mengakui keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan, tetapi menolak diatur oleh Allah SWT. Seolah-olah, manusia semacam ini berkata kepada Allah SWT: ”Ya Allah, benar Engkau memang Tuhan, tetapi jangan coba-coba mengatur hidup saya! Karena saya tidak perlu segala macam aturan dari-Mu. Saya sudah mampu mengatur diri saya sendiri!” Na’dzubillahi min-dzalika.

****

Tidak bisa dipungkiri, penyebaran paham ”kesetaraan gender” saat ini telah menjadi program unggulan dalam proyek liberalisasi Islam di Indonesia. Banyak organisasi Islam yang memanfaatkan dana-dana bantuan sejumlah LSM Barat untuk menggarap perempuan-perempuan muslimah agar memiliki paham kesetaraan gender ini. Perempuan muslimah kini didorong untuk berebut dengan laki-laki di lahan publik, dalam semua bidang. Mereka diberikan angan-angan kosong, seolah-olah mereka akan bahagia jika mampu bersaing dengan laki-laki.

Kedepan, tuntutan semacam ini mungkin akan terus bertambah, di berbagai bidang kehidupan. Sesuai dengan tuntutan pelaksaan konsep Human Development Index (HDI), wanita dituntut berperan aktif dalam pembangunan, dengan cara terjun ke berbagai sektor publik. Seorang wanita yang dengan tekun dan serius menjalankan kegiatannya sebagai Ibu Rumah Tangga, mendidik anak-anaknya dengan baik, tidak dimasukkan ke dalam ketegori ”berpartisipasi dalam pembagunan”. Tentu, konsep semacam ini sangatlah aneh dalam perspektif Islam dan nilai-nilai tradisi yang juga sudah dipengaruhi Islam.

Daripada bergelimang ketidakpastian dan dosa, mengapa pemerintah dan DPR tidak mengajukan saja ”RUU Keluarga Sakinah” yang jelas-jelas mengacu kepada nilai-nilai Islam? Buat apa RUU Gender diajukan dan dibahas? Dari tiga naskah akademik yang saya baca, tampak tidak ada dasar pemikiran yang kuat untuk mengajukan RUU Kesetaraan Gender ini. RUU ini cenderung membesar-besarkan masalah, dan lebih menambah masalah baru. Belum lagi jika RUU ini melanggar aturan Allah SWT, pasti akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT.

Tugas kita hanya mengingatkan! Wallahu a’lam bil-shawab.*/ Jakarta, 16 Maret 2012

*DR. ADIAN HUSAINI, lahir di Bojonegoro pada 17 Desember 1965. Pendidikan formalnya ditempuh di SD-SMA di Bojonegoro, Jawa Timur. Gelar Sarjana Kedokteran Hewan diperoleh di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, 1989. Magister dalam Hubungan Internasional dengan konsentrasi studi Politik Timur Tengah diperoleh di Program Pasca Sarjana Universitas Jayabaya, dengan tesis berjudul Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel. Sedangkan gelar doktor dalam bidang Peradaban Islam diraihnya di International Institute of Islamic Thought and Civilization — Internasional Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), dengan disertasi berjudul “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: A Critical Reading of The Second Vatican Council’s Documents in The Light of  the Ad Gentes and the Nostra Aetate.

Benarkah Lady Gaga tidak berbahaya bila dibiarkan konser di Indonesia?

0

Benarkah Lady Gaga tidak berbahaya bila dibiarkan konser?

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr Wb

Beberapa hari ini kita dikerubuti oleh mass media tentang penolakan Lady Gaga oleh beberapa ormas Islam di Indonesia, yang salah satunya adalah MUI dan didukung oleh Polda Metro Jaya dan Polda Jabar dan sekitarnya. Baik yang berdemo secara damai maupun yang sampai mengancam akan membubarkan, semuanya khawatir akan kemerosotan moral dan ahlak masyarakat Indonesia, khususnya ummat Islam dengan kedatangan Lady Gaga ini. Dari media cetak offline maupun online sampai dengan media telekomunikasi seperti televise, mengumandangkan berita terbaru tentang penolakan Lady Gaga. Himbauan pro dan kontra disandingkan bersama dengan substansi informasi yang ingin disampaikan oleh mass media tersebut agar terlihat lebih objective dan tepat sasaran. Dari apa yang sudah diberitakan, penolakan Lady Gaga oleh Polda Metro Jaya dan beberapa Ormas Islam tersebut dikarenakan beberapa hal, yaitu:

  1. Tidak sesuai adat ketimuran alias manggung dengan pakaian seksi dan mengumbar aurat (Tempo, 2012)
  2. Penyembah Setan (Luciferian) (Eramuslim.com, 2012)
  3. Lirik lagu yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia (detik.com, 2012)

Sebenarnya apa sih yang melatarbelakangi pihak2 tersebut sampai bisa berasumsi demikian, mungkin ada baiknya kita melihat kronologis karier Lady Gaga dan sedikit bio agar kita lebih mengenal apa yang kita diskusikan ini.

Awal tahun 2000an:

Artis yang aslinya bernama Stefani Joanne Angelina Germanotta memulai keseriusannya dalam dunia permusikan dengan dilatih oleh pelatih vokal Christina Aguilera sewaktu SMA.

Tahun 2005:

Tamat dari SMA, Stefani melanjutkan ke NYU (New York University) tetapi hanya dalam kurun waktu 1thn, Stefani memutuskan untuk keluar dari University karena ingin berkarir musik secara full time. Awal karirnya dimulai dengan menyanyi dari bar ke bar sambil mendesain outfitnya sendiri secara unik.

Tahun 2008:

Tahun pertama keemasan debut Lady Gaga dengan albumnya “Fame.” No 1 dalam tangga lagu Billboard’s Hot 100 List dengan lirik2nya yang mengandung hal-hal yang berbau: sex, pornography, art, fame, obsession, drugs, and alcohol. Aliran musik yang menjadi pilihan adalah pop-elektro.

Tahun 2009:

Ditambah dengan Pants-less signature stylenya, Lady Gaga semakin diminati oleh penggemar-penggemarnya. “Bukan berarti aku tidak suka memakai celana panjang, tetapi aku memilih untuk tidak memakainya sewaktu-waktu.” Lagu-lagunya semakin popular dan Lady Gaga menjadi artis ketiga sepanjang sejarah karena mencetak 3 hit sekaligus dalam album debutnya.

Tahun 2010:

Mendapat Grammy award dalam kategori “Best dance recording and best electronic/dance album.” Lagunya yang menjadi hit adalah “Bad Romance.” Lagu itulah yang menjadi fenomenal akan pecahnya rekor di MTV Music Awards dengan mendapatkan 8 trophy dari 12 nominasi yang ada.

Tahun 2011:

Semakin menjulang namanya, Lady Gaga mendapatkan tiga award lagi dari Grammy Awards karena keberhasilan lagu “Bad Romance” ditahun sebelumnya. Tahun ini juga Lady Gaga mencetak rekor hit no 1 lagi ditangga lagu Billboard dengan album “Born This Way.”

Tahun 2012:

Membuka yayasan “Born This Way” untuk membantu individual-individual diseluruh dunia agar bisa lebih produktif. Yayasan ini juga aktif membantu secara sosial korban-korban hasil “bully” atau kekerasan disekolah atau sosial tertentu.

Biography of Lady Gaga by (People.com, 2012)

Rekor yang impresif menurut saya hanya dalam waktu kurang dari 4tahun bisa begitu fenomenal dalam menancapkan kukunya di industry permusikan dunia. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat sama-sama historical chart untuk lagu-lagu Lady Gaga di Billboard.

Billboard Legacy

Made the Top Artists of the Year Chart in: 2011, 2010, 2009

Made the Billboard 200 Albums of the Year Chart in: 2011, 2010, 2009

Source: (Billboard.com, 2012)

Sudah kita ketahui secara umum bahwa berkarier dalam industri musik, apalagi di Amerika sangatlah sulit. Tetapi kita dapati bahwa Lady Gaga hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 tahun, wanita kelahiran 28 Maret, 1986 itu menjadi no 1 di tangga lagu Billboard. Apakah yang menjadi faktor kesuksesan Lady Gaga tersebut? Apakah gaya yang unik, ataukah lirik yang secara alam bawah sadar menghipnotis fansnya untuk fanatik terhadap Lady Gaga. Wallahu a’lam, tetapi disini saya mencoba secara ilmiah membuka tabir yang membuat Lady Gaga popular dan seharusnya menjadi faktor “utama” dalam penolakan Lady gaga.

Lady Gaga dalam lirik-lirik lagunya kental sekali dengan term-term negative, seperti sex, drugs, violence, alcohol, dan bahkan homosexuality and religiously insults. Dalam lagu “Bad Romance” sangat kental dengan pengabdian berlebihan tentang love, dan bahkan dalam lirik lagunya terbaru “Judas”, Lady Gaga mencintai Judas walaupun dalam keyakinan ummat Nasrani Judas adalah pengkhianat.

Tidak hanya lirik dan kostum Lady Gaga yang tidak senonoh, ada pesan-pesan tersembunyi dari lagu-lagu Lady Gaga yang mengisyaratkan tentang organisasi Freemasonry “Illuminati”. Itu terlihat dari simbol-simbol yang digunakan sepanjang video klip dan juga “subliminal message” yang terdapat apabila lagu-lagu Lady Gaga di reverse playback-kan.

Video-video Klip Lady Gaga yang sangat kental unsur-unsur Illuminati:

“Judas”

Analisa dari segi Video Klip (Illuminati Symbols)

http://www.youtube.com/watch?v=ITZTJyqvnC0

Analisa dari segi Backmasking

http://www.youtube.com/watch?v=kTfPglXHYv4

“Born This Way”

Analisa dari segi Video Klip (Illuminati Symbols)

http://www.youtube.com/watch?v=WOdPjAti-9c

Analisa dari segi Backmasking

http://www.youtube.com/watch?v=UkT8Utx7akc&feature=related

“Bad Romance”

Analisa dari segi Video Klip (Illuminati Symbols)

http://www.youtube.com/watch?v=JWiHOH8MWl0

http://www.youtube.com/watch?v=htZW9G28yAY&feature=related

Analisa dari segi Backmasking

Tidak ada

“Alejandro”

Analisa dari segi Video Klip (Illuminati Symbols)

http://www.youtube.com/watch?v=Ym1FRTLNppw&feature=related

Analisa dari segi Backmasking

Tidak ada

“Paparazzi”

Analisa dari segi Video Klip (Illuminati Symbols)

http://www.youtube.com/watch?v=T675LOA0N48

Analisa dari segi Backmasking

http://www.youtube.com/watch?v=TyZNj93CmhQ

Summary:

http://www.youtube.com/watch?v=CplS_O0A-KQ&feature=related&skipcontrinter=1

Apa yang bisa didapatkan dari beberapa lagu ini adalah:

– Simbol-simbol:

  • The all Seing Eye
  • 666
  • Baphomet (Freemasonry God of universalism of religion)
  • Illuminati’s hand symbol
  • The one eye
  • Other Freemasonry Symbols

– Pesan-pesan tersembunyi:

  • Ajakan mengikuti Lucifer
  • Ajakan menyembah setan/Lucifer
  • Ajakan untuk nge-sex
  • Dan hal-hal negative lainnya

Nah kalau udah seperti ini, pasti ada yang bilang “paranoid” atau “Conspiracy Theorist banget sih, kan Lady Gaga hanya mau nyanyi, apalagi hanya dua jam saja, kan tidak ada effectnya ke kita..”

Sayangnya, hal itu tidaklah berlaku demikian. Apa yang Lady Gaga sumbang dalam musiknya itu adalah cara Illuminati’s Mind Control yang secara tidak langsung dan perlahan namun pasti, dapat mempengaruhi alam bawah sadar manusia dengan pesan-pesan satanicnya.

Apa itu Subliminal Message dan Pengaruhnya kepada Manusia

Sebelumnya mungkin kita berangkat dari apa itu subliminal perception dari segi psikologi manusia. Dijksterhuis et al. (2005) mengatakan bahwa adanya sebuah sesuatu atau subject yang dijadikan stimulan memasuki alam bawah sadar manusia. Apabila substansi dari sebuah subject melebihi parameter alam pikiran manusia maka dianggap persepsi dialam kesadaran manusia, tetapi apabila subject yang diberikan tidak disadari, maka itu yang disebut subliminal perception. Subject yang dijadikan stimulus dibawah alam bawah sadar manusia tersebut bisa berupa kata-kata, suara, dan visualisasi atau video (Blagoy, 2003). Subliminal message tersebut diwakili oleh stimulus atau subject yang bisa jadi tidak disadari oleh alam pikiran manusia tetapi disadari oleh alam bawah sadar manusia itu sendiri (Egerman et al., 2006). Dalam hal ini subliminal message seringkali berupa gambar yang ditampilkan berkali dalam waktu singkat sehingga sulit untuk di sadari oleh alam pikiran manusia dan/atau sebuah pesan dalam kata-kata yang dimasukkan kedalam lagu dari sebuah musik, yang diasumsikan menjadi subliminal perception oleh alam bawah sadar manusia.

Subliminal message populer di Amerika pada tahun 1957 sewaktu adanya kekhawatiran oleh publik dan legislatif akan adanya peningkatan signifikan terhadap penjualan produk “Coca Cola™” dan popcorn pada umumnya. Hal ini setelah diselidiki ternyata diawali oleh adanya ucapan sangat singkat, yaitu “Drink Coca Cola” dan “Eat Popcorn”, dalam iklan-iklan produk tersebut (Dane, et al., n.d.). Tidak jera, para produsen masih memakai metode subliminal message dalam iklan minuman “Gilbey Gin”; kata-kata “SEX” ditempatkan dalam es batu digelas sewaktu iklan produk minuman tersebut (McGill, 2007). Kekhawatiran ini akhirnya direspon positif oleh pemerintah Amerika, dan disahkan pada tahun 1974, FCC (Federal Communication Commission) Komisi Komunikasi Federal yang berwenang dalam mengatur komunikasi dalam media Radio, Televisi, Wire, Satellite dan Cable; FCC melarang semua penggunaan subliminal message di semua metode promosi dan periklanan (advertisement). Pelarangan ini diakibatkan oleh banyaknya komplain dan pernyataan publik bahwa subliminal message baik berefek maupun tidak, harus dilarang karena membohongi publik akan adanya hidden message (Dane, et al., n.d.)( (Blagoy, 2003).

Pengaruh dari Subliminal Message

Sejak tahun 1957 tersebut, banyak para researcher mencoba melakukan penelitian akan efek dari subliminal message terhadap manusia secara ilmiah. Dr. Greenwald melakukan eksperiment riset secara ilmiah untuk mengetahui apakah manusia menyadari adanya pesan-pesan tersembunyi dari subliminal message, dan hasilnya secara ilmiah membuktikan bahwa manusia dapat dimasuki suatu informasi tanpa disadari oleh manusia tersebut. Hal ini diamini juga oleh Dr. Howard Shevrin bahwa ia penemuan ilmiahnya menemukan bahwa subliminal message mempunyai kekuatan yang sangat kuat dan terbukti dalam mental manusia ( (New York Times, 1990). Walaupun terdapat pro dan kontra terhadap efek subliminal message terhadap manusia, Dr. Shevrin dalam kasus yang terkenal pada tahun 1990, The Judas Priest Trial, mengatakan bahwa efek dari lirik lagu dari band tersebut mempengaruhi kedua remaja, James Vance dan Ray Belknap, untuk melakukan aksi bunuh diri (Greene et al., 2007) (Egermann, Kopiez and Reuter, 2006). Eksperimen secara ilmiah melibatkan 20 orang, Laki-laki dan perempuan masing-masing 10 orang, untuk ditunjukkan beberapa flash card didalam komputer menggunakan software Mini Tab secara cepat. Dalam eksperiment tersebut beberapa flash card pergantiannya lebih cepat jauh daripada yang lain. Dengan metode ANOVA dan margin of error <; 1% atau 99% efektif, ditemukan bahwa mayoritas dari responden menyadari adanya pesan yang terdapat diflash card tersebut (Buttaccio, 2011). Eksperimen lain dilakukan oleh Egermann et al. (2006) yang melibatkan 148 sample responden sebanyak 3 eksperimen berbeda. Hasil dari eksperimen tersebut ditemukan bahwa tidak terdapat efek signifikan dalam “jangka pendek.”

Secara ilmiah bisa diasumsikan bahwa “walaupun” tidak ada keterkaitan secara pasti akan efek dari subliminal message terhadap manusia, tetapi hal demikian masih secara umum dan bersifat jangka pendek. Oleh karena itu saya menghimbau para pembaca untuk melihat secara faktual hasil-hasil penelitian ilmiah tentang efek dari subliminal message dengan kata-kata berkonotasi negatif didalam lirik musik, seperti yang bisa kita temukan dengan teknik Backmasking dalam lagu-lagu Lady Gaga, Rihanna, Justin Bieber, dll; Colwell dan Richardson (2002) dalam studinya menemukan bahwa dengan mendengarkan musik-musik berlirik negatif seperti delinquency, sex attitudes and attitudes toward violence, para remaja menjadi sangat “PERMISIF” (toleran) dalam hal-hal yang berbau delinquency, sex and violence. Musik yang diulang berkali-kali dalam kehidupan sehari-hari diyakini dapat menimbulkan “rasa kepercayaan diri” berlebih sesuai dengan tipe musik dan lirik yang didengarkannya (Vernon, 2009). Terlebih lagi bahwa memang metode subliminal message dalam audio sudah dipatenkan dengan itikad untuk menyediakan suara didalam lagu atau suara lainnya yang bisa diterima oleh alam bawah sadar manusia yang disamarkan dalam lagu atau suara originalnya (Lundy and Tyler, 1980).

Bila kita kembali kepada lirik-lirik yang ditemukan dalam lagu-lagu Lady Gaga, Rihanna, dan banyak artis Amerika lainnya, kita akan temukan bahwa tidak saja lirik original lagunya berbau sex, religious insult, homosexuality, violence, dan alcohol; tetapi setelah direversed akan ditemukan hal-hal yang sangat menyeramkan, dimana banyak ajakan-ajakan untuk “self esteem” walaupun lirik originalnya adalah homosexual, menghina ajaran-ajaran agama monotheistic dimana Rihanna dalam lagu “Umbrella” ternyata mengumandangkan tidak adanya “Allah” “Eli” yang semuanya berkonotasi Tuhan dan Rabb. Studi lebih lanjut ditemukan bahwa manusia dan remaja pada umumnya sangat terpengaruhi oleh adanya subliminal message yang berkonotasi negatif. Dimana pada studi-studi sebelumnya yang tidak mengkhususkan eksperimen kepada hal-hal yang berkonotasi negatif, sehingga masih terjadinya pro dan kontra antara hasil penemuan-penemuan ilmiah. Tetapi para ilmuwan di University College London menemukan bahwa kata-kata berkonotasi negatif membawa efek yang SANGAT SIGNIFIKAN dan SANGAT CEPAT hasilnya apabila diberikan kepada manusia lewat metode subliminal message yang sering banyak terjadi di musik-musik masa kini (BBC, CBSNEWS, Lavie, Milmo and Wellcome Trust, 2009). Dan apabila ditambah dengan subliminal message simbol-simbol organisasi rahasia “Illuminati”, maka bolehlah kita berasumsi bahwa artis-artis seperti ini sedang menjadi agen Illuminati dalam menerapkan “Mind Control Method” secara tersembunyi. Cara-cara ini sangat sering dipakai oleh agen-agen Illuminati untuk menghipnotis kebanyakan populasi dunia. Musik dan symbol seringkali digunakan Illuminati untuk memprogram “budak-budak.” Hal ini bisa diketahui dan ditemukan dalam berbagai ritual yang disamarkan melalui musik video klip, konser, dan lain-lainnya yang menggunakan simbol-simbol untuk ritual inisiasi (Wheeler and Springmeier, 1996).

Akhirul kalam, dengan tulisan ini, saya meminta pembaca untuk menutup mata dan merenungi ayat didalam Al Qur’an Karim dan hadith Rasulullah SAW dibawah ini:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al- Hujurat :6)

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (HR Muslim)

Semoga para pejabat, aparat, dan Ulama-ulama kita bisa berserah diri kepada Allah secara tulus dan mempertimbangkan sedalam-dalamnya dengan hati yang ikhlas bahwa apapun keputusan mereka akan berimbas kepada ummat pada umumnya, dan bertanyalah kepada diri sendiri:

Apakah kita akan membiarkan Lady Gaga konser di Indonesia…?

Saya menghimbau kepada pembaca untuk melakukan research yang mendalam tentang apa yang telah saya tulis sebagai bahan cross reference terhadap tulisan yang telah saya tulis ini, karena hal ini tidaklah terasa signifikan apabila kita tidak memahaminya secara comprehensive dan empiric.

Mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan dari tulisan saya, mudah-mudahan bisa bermanfaat, insyaallah.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Bibliography

BBC (2009) BBC News: Health, 21 September, [Online], Available: http://news.bbc.co.uk/2/hi/8274773.stm [21 May 2012].

Billboard.com (2012) Billboard Legacy: Lady Gaga chart history, [Online], Available: http://www.billboard.com/charts/social-50#/artist/lady-gaga/chart-history/1003999?sort=position [19 May 2012].

Blagoy, K. (2003) Munich Personal RePEc Archive, May.

Buttaccio, S. (2011) ‘The Power of Subliminal Messaging’, BA Thesis.

CBSNEWS (2009) Negative Subliminal Messages More Effective , 28 September, [Online], Available: http://www.cbsnews.com/8301-503983_162-5346300-503983.html [21 May 2012].

Colwell, R. and Richardson, C. (2002) The New Handbook of Research on Music Teaching and Learning, New York: Oxford University Press.

Dane, D., Johnson, K., Pauli, B., Phillips, N. and Strausz, J. (No Date) The Roots of Subliminal Perception, Michigan: University of Michigan.

detik.com (2012) PPP Tolak Konser Lady Gaga Karena Lirik Lagu Tak Sesuai Budaya Indonesia, 15 May, [Online], Available: http://news.detik.com/read/2012/05/15/150651/1917589/10/ppp-tolak-konser-lady-gaga-karena-lirik-lagu-tak-sesuai-budaya-indonesia [19 May 2012].

Dijksterhuis, A., Aarts, H. and Smith, P.K. (2005) ‘The power of the subliminal: On subliminal persuasion and other potential applications’, in Hassin, R., Uleman, J.S. and Bargh, J.A. The new unconscious, Eds edition, New York: Oxford University Press.

Egermann, H., Kopiez, R. and Reuter, C. (2006) ‘Is there an effect of subliminal messages in music on choice behavior? ‘, Journal of Articles in Support of the Null Hypothesis, vol. 4, no. 2.

Eramuslim.com (2012) Habib Rizieq Sebut Lady Gaga Penyembah Lucifer dan Akan Bubarkan Konsernya, 13 May, [Online], Available: http://www.eramuslim.com/berita/nasional/habib-rizieq-sebut-lady-gaga-penyembah-lucifer-dan-akan-bubarkan-konsernya.htm [19 May 2012].

Greene, E., Heilburn, K., Fortune, W.H. and Nietzel, M.T. (2007) WRIGHTSMAN’S PSYCHOLOGY AND THE LEGAL SYSTEM, 6th edition, Belmont: Thomson Higher Education.

Lavie, N. (2009) ‘UCL Study: subliminal messaging ‘more effective when negative”, Journal Emotion , September.

Lundy, R.R. and Tyler, D.L. (1980) ‘Auditory Subliminal Message System and Method’, 26 November.

McGill, M.A. (2007) the history of subliminal advertising, 22 May, [Online], Available: http://www.helium.com/items/343462-the-history-of-subliminal-advertising [21 May 2012].

Milmo, C. (2009) Power of the hidden message revealed, 28 September, [Online], Available: http://www.independent.co.uk/arts-entertainment/tv/news/power-of-the-hidden-message-revealed-1794256.html [21 May 2012].

New York Times (1990) research probe what the mind senses unaware, 4 August, [Online], Available: http://www.nytimes.com/1990/08/14/science/research-probes-what-the-mind-senses-unaware.html?pagewanted=all&src=pm [21 May 2012].

People.com (2012) Celebrity Central/Top 25 Celebs: Lady Gaga, [Online], Available: http://www.people.com/people/lady_gaga/biography/0,00.html [19 May 2012].

Tempo (2012) PKS Dukung Polisi Larang Konser Lady Gaga, 15 May, [Online], Available: http://www.tempo.co/read/news/2012/05/15/112404104/PKS-Dukung-Polisi-Larang-Konser-Lady-Gaga [19 May 2012].

Vernon, D. (2009) Human Potential: Exploring Techniques Used to Enhance Human Performance, New York: Psychology Press.

Wellcome Trust (2009) Science News, 28 September, [Online], Available: http://www.sciencedaily.com/releases/2009/09/090928095343.htm [21 May 2012].

Wheeler, C. and Springmeier, F. (1996) The Illuminati Formula Used to Create an Undetectable Total Mind Controlled Slave, Springmeier & Wheeler.