Temaram

Sungguh indah Indonesiaku..

Terbentang dari Barat ke Timur, surgaMu serasa kurasakan..

Begitu banyak perhiasan dunia kulihat betebaran bagaikan runtuhnya dedaunan disore hari..

AnginMu berhembus mesra..embunMu manis dipagi hari mengingatkanku tuk bersyukur akan hidup ini..

Berharap akan perjalanan dunia semasa hidupku yang singkat ini..

Bisa bermakna dan berguna bagiMu..

 

Lengkap warna pendudukMu dibumiMu ini…

Dari bahasa yang kumengerti sampai makanan berwarna warni..

Habis kata-kata ini mengungkapkan “selembar” nikmatMu di Indonesiaku tercinta..

Wajar kiranya negeri ini adalah setetes SurgaMu..

 

Tetapi semua ini sirna tanpa sisa..

Pemimpin negeri ini bagai singa berburu domba..

Tak perlu bersimbah darah, sang jantan menunggu sang betina selesai..

Mengais hasil tanpa tangan mereka sendiri..

Bagai serial tv tanpa hentinya mereka isi negeri ini dengan canda..

Canda yang melibatkan banyak orang..

Mengakibatkan pilu banyak orang

Melemahkan kaum dhuafa…

Meninggalkan kaum hawa dalam kecintaan dunia semata..

Kebathilan menjadi rata dan kearifan menjadi langka..

 

 

Tak henti-hentinya pemimpin negeri ini bercanda tanpa reda..

Terkadang kuragu, selebritikah mereka..tampil di tv sana sini..

Kubaca dan kulihat tak ada bedanya..dengan gaya yang tak biasa mereka bercanda geli..

Bercanda diatas penderitaan umatMu..Dengan pikiran yang tak biasa mereka berpangku tangan..

Seakan tak berdosa mereka atur uang hasil rizkiMu seakan mereka yang memberikannya..

Sembari ragu kulihat muka mereka tertawa mesra dengan masing2 kawannya..

 

Setetes harapan kulihat disana..bahwa Engkau tidak akan meninggalkan umatMu ini..

Kupercaya cahayaMu akan kuatkan hati ini…yang menemaniku di perjalanan sunyi ini..

Perjalanan nan panjang dalam menempuh impian diriku yang hina ini..

Berusaha merubah negeri ini sekuat tenaga…sepanjang nafas ini berhembus..

Karena kuyakin masih ada harapan..harapan yang kupegang erat-erat..

 

 

Prologue

 

Kucoba masuki dunia dan sistem mereka yang jenaka itu dengan harapan ingin menjadi pihak yang bermanfaat bagi rakyat banyak. Begitu banyak rizki untuk negeri ini berhembus ke arah yang tak pasti. Betebaran di tempat yang sama tahun ke tahun menjadikan diriku terpanggil untuk mengarahkan ke yang berhak. Kumasukilah jalan setapak ini, untuk meneruskan misiku ini. Bagai gayung bersambut, kenalanku mempercayaiku untuk menjadi penanggung jawab arahan-arahan ini. Mulailah aku, dengan setetes harapanku ini untuk merubah negeri ini ke arah yang pasti, arah yang mencerdaskan umatMu, dan juga menguntungkan kenalanku. Tentunya akan bermanfaat untuk yang suka bercanda juga, dengan harapan mereka akan lebih memperhitungkan hal-hal yang seperti ini, dengan harapan juga mereka akan tidak memerlukan orang-orang seperti diriku ini dikemudian hari dengan terketuknya pintu hati mereka untuk melakukan tugas mereka yang seharusnya..

 

Kutemui satu demi satu orang-orang yang sepikiran denganku ada ditempat arahan2ku. Kudiskusikan tentang ide-ideku ini, untuk mencerdaskan umatNya dan mengarahkan kepada yang berhak. Tawa, canda, dan kepercayaan kami raih bersama. Sementara kenalanku dan partnernya bercanda ria di cafe, aku sibuk mengarahkan agar sampai rizkiNya sampai ke tangan tempat bernaung, tempat mencerdaskan rakyat, ditunjang oleh orang-orang yang sepemikiran denganku..Seperti laiknya ikan ditambak yang sudah diatur kelaparan agar mudah dipancing, Keberhasilan demi keberhasilan kuraih di awal tahap perubahan ini. Riuh sorai kami bergembira dan bersyukur kepadaNya atas keberhasilan ini. Harapan-harapan pun bermunculan untuk disampaikan kepadaku. Komitmen-komitmen pun dibangun sebagai landasan timbal balik kepercayaan mereka kepadaku.

 

Masuk sudah diriku dalam sistem ini, itu yang terbesti pada hatiku sewaktu bangun pagi..mempertimbangkan apakah ini baik atau buruk. Hal itu disadarkan dengan keyakinanku terhadap hubungan istimewa ini dan manfaat yang didapat nanti. Tanda jalan di negeri ini pun ku lewati untuk menempuh cara ini. Cara yang kusetujui diawal dengan kenalanku untuk memberikan kepada yang berhak, bukan kepada serigala-serigala lapar berwarna biru. Perjalanan ini kuteruskan dengan mengaplikasikan ide-ide ini. Dengan bantuan partner kenalanku, maka ide-ide ini dijalankan. Awalnya kuragu karena belum tentu komitmen mereka sama denganku, tapi dg husnudzon aku melapisi hatiku dari keraguan. Tempat demi tempat ku terapkan hal yang sama untuk menjalankan arahan-arahan ini secara pasti, tentunya dengan partner kenalanku, karena ku tak kuasa untuk menahan keputusan kenalanku ini. Waktu pun berjalan, dan hasil tak mencapai batas keinginanku, ragu pun mulai lahir diatas hatiku.

 

Keraguanku kujawab dengan usaha yang melebihi batas. Batas waktu dan tenaga raga kukerahkan demi menerapkan amanahMu dalam bekerja. Sandungan demi sandungan kulewati dengan bantuan orang-orang yang sepemikiran denganku. Berjibaku kita di hamparan tanah yang luas ini, sementara kenalanku makin sering bercanda ria tanpa menyoroti kami. satu demi satu arahan2ku mendapat tantangan dari manusia-manusia pencari kesalahan. Kuakui dengan mengantarkan arahanku ketempat yang berhak ini memang tidaklah sesuai dengan batasan negeri ini. Tantangan demi tantangan selanjutnya semakin berat, mulailah orang-orang yang sepemikiran denganku jatuh sakit dan mengeluh kepadaku. Mempertanyakan komitmen yang kuberikan dulu, maka kutenangkan diri mereka dengan mengatakan hal yang menyejukkan. Semua ini tulus datangnya dari hatiku, demi impianku merubah negeri ini. Seiring bertambahnya tantangan dari manusia-manusia pencari kesalahan ini, terlihat penurunan komitmen diawal. Dari simbiosis mutualisme, menjadi komensialisme dengan pihak yang lemah adalah orang-orang yang sepemikiran denganku..orang-orang ini, yang sangat percaya kepadaku dan berharap kenalanku bisa membantu melewati tantangan-tantangan ini. Sekali lagi, ku percaya bahwa semua ini masih bisa kutangani dengan bijak…kupercaya bahwa terdapat kebaikan dari kenalanku dan orang-orang yang suka bercanda ini untuk melihat tantangan ini dan membantu melewatinya..tapi pemikiran komensialisme mereka berubah menjadi parasitisme..yang akan menggerogoti orang-orang yang sepaham denganku…dirinya dan keluarganya…

 

Semakin berat tantangan2 ini, muncul di tempat arahan2ku yang berjarak 1 bulan perjalanan jaman dahulu ke tempat lainnya. Waktuku pun habis untuk membantu orang-orang yang sepaham denganku. Mereka percaya bahwa kenalanku dan diriku takkan meninggalkan mereka..dengan mantab itu kubalas tidak mungkin dan kami tetap berkomitmen untuk melewati tantangan ini bersama. Tetapi rizki kenalanku semakin menipis dan setan pun merasuki..moril mulai ditinggalkan, diplomasi dilewatkan untuk menegosiasikan tawaran ala Theodore Roosevelt. Bebanku semakin berat, karena walau setahun lebih ku baru kenal mereka, tapi hubungan emosionalku sangat kuat dengan mereka. Kutahu bila ini kubiarkan, orang-orang yang sepaham denganku akan menikmati masa-masa temaram, melihat matahari diwaktu yang ditentukan saja. Maka sekuat tenaga kuberikan komitmen pribadiku, namun hal ini nampaknya sulit untuk merubah keputusan kenalanku dan partner-partnernya…bagi mereka sekarang rizki yang menipis harus segera diisi apapun resikonya..

 

Nuraniku terketuk..segelintir pertanyaan sliweran dihatiku..malam yang sunyi menjadi kawan karibku dalam melewati masa-masa gundah ini. Makanpun berkurang rasanya mengingat akan sulitnya keluarga orang-orang yang sepaham denganku makan makanan yang sama bila ini gagal..Kuingat pendampingku dan permata-permata hidupku, senyuman mereka sulit kulupakan..Bila diriku diposisi orang-orang yang sepaham denganku, melihat matahari disaat yang ditentukan, makan disaat yang ditentukan, jatuh lah butiran – butiran air mataku…bisa kurasakan posisi mereka..walau aku tahu ini sudah biasa didunia ini, tapi aku tak mau menjadi biasa…

 

Inikah yang kuinginkan..

Inikah yang kuharapkan..

Pernahkah aku bayangkan ujung dari ini semua..

Jurang dan hinaan pun menanti..

Kepercayaan hilang silih berganti..

Moral berganti menjadi abu..hilang ditiup angin..

 

Niatku tulus, merubah dengan bertahap..

Kuikuti yang ada tuk merubah kedepannya..

Sayang, teman kepercayaan pun berubah wujudnya..

Tak hanya berganti kostum, taringnya sudah bertetesan liur..

Semakin kelaparan, sifat hewani pun timbul..

 

Moral dilupakan, isi perut yang diharapkan..

Akankah ku sanggup untuk menolong mereka..

Mereka yang percaya kepadaku..

Mereka yang menaruh harapan dipundakku ini..

 

Aku berharap dan berdoa untuk pertolonganMu..

Tuk menguatkan dan memudahkan perjalananku ini..

Mudah bagi orang-orang yang suka bercanda dan kenalanku..

Melibas orang-orang yang sepaham denganku demi menyelamatkan diri mereka..

Tak mudah tuk diriku melawan ini semua..

Tak mudah karena aku pun punya timbangan..

Berat sebelah, berarti ada yang diatas ada yang dibawah..

 

 

Referensi:

 

Disadur dan ditemukan didalam cerita nyata yang terdapat didalam Indonesiaku tercinta ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s